Fajar Annas Susanto, SKom, MKom – Dosen Prodi S1 Sistem Informasi , Fakultas Teknik

BIASANYA kita tidak asing dengan kata-kata “Kelas Kosong”, baik itu saat masih sekolah ataupun sudah kuliah, bahkan saat workshop, pelatihan, kursus atapun yang lain.

Arti dari kelas kosong tersebut bukan berarti tidak ada kegiatan, melainkan kegiatan yang seharusnya diadakan di dalam ruang kelas fisik dijadikan ruang kelas di dunia maya (daring) atau yang biasa disebut kelas online.

Banyak sekali cara-cara yang dilakukan dalam mengadakan kelas di masa pandemi yang masih terjadi sampai saat ini, meskipun beberapa hari kemarin, Mas Menteri mengatakan ada sedikit titik terang tentang wewenang setiap Kepala Daerah untuk mengadakan kelas secara offline (tetap dengan protocol kesehatan yang sangat ketat).

Saat ini kelas online kebanyakan dilakukan dengan video conference melalui berbagai macam platform seperti, Zoom Meeting, Google Meet, Microsoft Teams, Cisco Webex dan disertai dengan berbagai macam aplikasi LMS (Learning Manajemen System) yang dimiliki oleh masing-masing sekolah atau Universitas. Kadang juga dikombinasikan dengan berbagai macam aplikasi untuk mengevaluasi hasil pembelajaran atau kuis melalui Google Form, Kahoot ataupun Kuizizz dan lain sebagainya.

Dengan adanya sedikit kelonggaran yang diberikan kepada setiap Kepala Daerah tersebut, artinya ruang kelas untuk belajar tidak akan kosong lagi, meskipun jumlah pembelajar dan durasi belajar tidak akan sama dengan sebelumnya (lebih sedikit dan pendek).

Pembelajaran kemungkinan akan dilakukan dengan cara campuran, yaitu membatasi jumlah siswa dalam satu maksimal sebanyak 10-15 siswa dan mengadakan pembelajaran tatap muka dengan online secara bergantian.

Dengan cara tersebut, yaitu metode metode belajar campuran dapat menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan aman karena materi yang disampaikan secara online dan offline akan mempersingkat waktu belajar.

Dalam beberapa penelitian juga disebutkan penelitian menyatakan bahwa metode ini merupakan metode pembelajaran yang efektif jika siswa dan guru memiliki kemampuan dan pengalaman dalam menggunakan teknologi.

Seorang dosen teknologi pendidikan dan kurikulum di Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, juga berpendapat bahwa sekolah dan guru harus terlebih dulu memiliki kualifikasi teknis tertentu untuk menerapkan metode pembelajaran ini.

Akan tetapi tentu saja banyak tantangan dalam menerapkan metode pembelajaran campuran, terutama pada bagian kelas offline meskipun dengan menerapkan protocol Kesehatan dengan ketat, yaitu terdapat perbedaan dalam pemahaman materi yang disampaikan antara online dengan offline yang diterima oleh peserta didik.

Metode belajar campur ini nantinya akan menjadi langkah awal menuju sistem pendidikan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Meskipun akan dilakukan bertahap dikarenakan keterbatasan infrastruktur, literasi digital, dan kesejahteraan ekonomi di suatu daerah tertentu.

Dengan fleksibilitas yang dimiliki metode ini dalam memadukan pembelajaran online dan tatap muka, kita dapat membangun sistem pendidikan yang tidak memaksakan sepenuhnya berbasis internet, karena kita juga mempertimbangkan konteks sosial, ekonomi dan geografis.

Banyak teknologi baru di bidang pendidikan yang masih terbatas beberapa daerah tertentu. Pembelajaran campuran adalah bentuk teknologi paling sederhana yang bisa mulai terapkan.

Dengan metode tersebut yang akan dilakuan ataupun sudah dilakukan dalam masa pandemi, merupakan langkah awal dalam menyambut kabar bahagia selanjutnya.

Semoga masa pandemic akan segera berakhir yang pada akhirnya kelas tidak akan kosong lagi, belajar bersama lagi di dalam kelas akan terasa lebih menyenangkan bersama teman-teman atau rekan sejawat. Amiiin.. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry