Edza Aria Wikurendra, S.KL, M.KL – Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan

Coba bayangkan masa depan negara kita ini jika situasi perpecahan seperti sekarang ini terus terjadi secara berkelanjutan. Di mana sifat kehidupan individual sesama suku bangsa maupun budaya akan semakin merajalela, tidak ada rasa persaudaraan yang muncul antar sesama masyarakat yang beragam, julukan negara pluralisme seakan akan tidak cocok lagi untuk disematkan kepada tanah air tercinta ini.

Mari kita renungkan sejenak akan situasi perpecahan yang sedang marak terjadi di negara ini, untuk apa kita sebagai seorang warga negara yang memiliki latar belakang budaya, suku bangsa, maupun agama yang berbeda beda hidup di negara yang justru masyarakatnya tidak memiliki rasa toleransi dan saling menghargai antar umat manusia yang beragam.

Untuk kedepannya akan seperti akan bentuk persatuan dari tanah air tercinta ini ? Retorika sesaat atau Ideologi yang tepat ? Eksistensi sesaat atau Peraturan yang mengikat ? Persepsi atau Omongan basi ? Kesenjangan atau Keberagaman ? Kebiasaan yang sesat atau Kebiasaan yang tepat ? Perbedaan yang mempersatukan atau Persatuan yang membeda – bedakan ?

Sungguh resah hati ini bila menyaksikan kondisi hiruk pikuk tanah air tercinta ini penuh dengan keberagaman yang memecahkan bukan untuk mempersatukan, akan seperti apa nasib persatuan negara ini untuk kedepannya ? Buka mata hati serta mata batin dari setiap pribadi diri kita masing masing.

Lihatlah kondisi seperti apa yang sudah merajalela dan meracuni moral bangsa di negara ini. Sadarilah akan situasi buruk tak menentu yang sedang beredar di negara ini. Bangunlah tanah air tercinta ini sebagai suatu negara yang cinta akan keberagaman.

Buktikan kepada dunia Internasional bahwa Indonesia layak dan pantas dijunjung tinggi sebagai negara pluralisme.

Bangkitkanlah semangat persatuan ! Revolusi intelektual ! Revolusi moral ! Buanglah ideologi yang menganggap bahwa keberagaman baik suku bangsa maupun budaya yang dimiliki adalah yang paling benar dan harus dijunjung tinggi di negara ini sekalipun budaya tersebut merupakan mayoritas negara ini.

Untuk generasi muda sekarang dan yang akan datang, Pancasila tetap menjadi rujukan. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, terbukti mampu merangkul berbagai keberagaman di Indonesia. Jika Indonesia tidak dipenuhi keberagaman suku dan budaya, bisa jadi negeri ini tidak mengadopsi Pancasila sebagai dasar negara.

Namun Tuhan telah memberikan anugerah keberagaman bagi Indonesia. Tuhan telah menjadikan Indonesia seperti taman yang penuh warna-warni bunga. Tinggal bagaimana sekarang kita menjaganya.

Semestinya, karena keberagaman ini anugerah, siapapun turut aktif menjaga bukan merusak. Kenapa keberagaman ini perlu dijaga? Karena melalui keberagaman, kita bisa belajar banyak hal. Seorang Jawa bisa mengerti bagaimana budaya seorang Dayak, Asmat, atapun Sunda.

Begitu juga dengan seorang muslim, yang bisa mengerti bagaimana tata cara beribadah seorang Hindu, Kristen ataupun Budha. Dengan saling mengerti dan memahami inilah, menciptakan kultur baru ditengah masyarakat. Kita biasa menyebutnya dengan istilah toleransi antar umat beragama.

Tradisi inipun sudah ada dari sejak dulu. Jika kita seorang Indonesia, semestinya sudah belajar mengenai toleransi ini sejak dari kecil. Dalam perkembangannya, Islam memang menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Tapi apakah negeri ini menjadikan Indonesia sebagai negara Islam? Ternyata tidak. Para pendiri bangsa ini tetap melihat bahwa keberagaman di Indonesia yang utama. Diskusi mengenai keberagaman ini, sudah muncul sebelum Pancasila lahir.

Dalam sidang BPUPKI pada periode Mei-Juni 1945, ada kelompok yang mengusulkan dasar negara Islam namun kelompok lain juga mengusulkan dasar berbeda.

Akibatnya, terjadilah kompromi dari peserta sidang. Sila pertama yang awalnya bertuluskan “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Kalimat ini dinilai tepat, karena penduduk Indonesia tidak hanya beragama Islam, tapi ada juga agama-agama yang lain. Kompromi yang terjadi diawal itulah, yang kemudian bisa merekatkan semua perbedaan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, dijadikan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa bisa? Karena semua agama yang ada di Indonesia, menjadi pedoman bagi pemeluknya untuk selalu berada di jalan yang benar.

Jika kita mengaku sebagai beragama, maka selanjutnya kita menjalankan sila kedua yang memanusiakan manusia. Tidak boleh ada pihak yang merasa paling benar sendiri.

Jika kita sudah bisa memanusiakan manusia, langkah selanjutnya adalah menjaga persatuan dan kesatuan seperti yang dijelaskan dalam sila ketiga. Lalu, bagaimana mungkin bisa menjagai persatuan ketika perbedaan itu begitu jelas.

Indonesia begitu luas dengan berbagai macam keberagaman yang ada. Jawabannya ada di sila keempat.

Yaitu musyawarah untuk mufakat. Jika ada perbedaan pendapat, harus diselesaikan dengan cara musyawarah. Bukan dengan cara persekusi, intimidasi, ataupun melakukan tindak kekerasan.

Dan jika kita bisa melakukan sila pertama hingga keempat, maka kita semua bisa mengarah pada sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Disinilah kenapa penting kita mengatakan, agar nilai-nilai Pancasila bisa dilakukan oleh semua pihak. Karena Pancasila terbukti mampu bisa merekatkan segala keberagaman di negeri ini. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.