Edza Aria Wikurendra, S.KL, M.KL – Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan

Setiap kegiatan maupun kewajiban agama yang dimiliki oleh setiap pribadi dari kita selalu dihargai dan diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah maupun perayaan wajib lainnya (Contoh konkritnya : setiap hari Jumat, semua guru, murid, maupun staff sekolah yang beragama muslim diizinkan untuk meninggalkan area sekolah untuk melakukan Sholat Jumat di mushola ataupun masjid terdekat ).

Tidak ada rasa cemburu maupun dengki dari dalam diri kita akan kebergaman maupun perbedaan yang kita miliki masing masing. Tidak pernah ada kasus pencelaan suku ataupun agama yang muncul di wilayah sekolah.

Bahkan kita sangat menikmati hidup dalam perbedaan seperti ini, karena kita mengerti dan tahu betul bahwa sebenarnya keberagaman (perbedaan) merupakan pemicu terciptanya persatuan, dan rasa persatuan itu sendiri telah kita rasakan bahkan rasa persatuan itupun berkembang menjadi rasa persaudaraan yang erat antar sesama manusia yang beragam.

Akankah suasana dengan latar belakang budaya serta suku bangsa yang berbeda beda tidak terpengaruh dengan runtuhnya persatuan di kalangan masyarakat umum jaman sekarang ini, mengingat bahwa semakin maraknya isu isu mulai retaknya persatuan akibat perbedaan yang ada di negara ini ?

Kerapkali yang kita rasakan bahwa kehidupan tanpa perbedaan dan keberagaman adalah kehidupan yang hampa dan kurang berwarna. Tidak terpengaruh akan isu isu perpecahan berbau agama, suku bangsa, maupun budaya setempat yang muncul di kalangan masyarakat tetapi kita malah menjadikan isu tersebut sebagai bahan refleksi akan pentingnya tercipta persatuan di tengah – tengah keberagaman serta perbedaan yang tersebar di masyarkat luas ini.

Mengapa kami merasa demikian ? Karena kita tahu betul bahwa runtuhnya persatuan dapat membawa perpecahan di negara ini, keanekaragaman yang kita miliki merupakan cikal bakal kekayaan negara pluralisme seperti Indonesia ini, dan persatuan merupakan asal mula (dasar pemikiran) terbentuknya masyarakat yang maju.

Kita merasakan bahwa hidup ini semakin berwarna akibat adanya pluralisme di negara ini. Dari penjelasan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa masa depan keberagaman di Indonesia tergantung oleh generasi muda sekarang.

Generasi muda sekarang harus sudah mulai membentuk dan membina sebuah rasa persatuan dalam pribadi setiap generasi penerus bangsa ini. Karena seperti yang kita ketahui bahwa nasib serta masa depan negara kita ini berada di tangan para generasi penerus bangsa yang tak lain merupakan para kaum pelajar.

Dengan mengetahui makna utama dan pentingnya persatuan, maka generasi penerus bangsa kita ini akan bersatu tanpa memandang perbedaan yang mereka miliki dan pada akhirnya akan saling bahu membahu dalam membangun dan memajukan tanah air ini.

Tanpa adanya persatuan, tanpa adanya rasa kebersamaan dalam keberagaman yang ada, secara tidak langsung situasi inilah akan menjadi pemicu munculnya egoisme individual, di mana mereka akan merasakan bahwa persatuan adalah hal yang tidak penting tetapi yang terpenting adalah kehebatan serta kemampuan yang dimiliki diri sendiri tanpa adanya rasa persaudaraan sebagai warga negara.

Mari kita korelasikan sebagai proses penanaman moral bangsa dengan situasi persatuan yang sekarang terjadi di negara ini. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat merupakan agen sosialisasi terbesar dan paling luas bagi seluruh individu (manusia) yang ada di dunia ini, jika kondisi masyarakatnya saja sudah menunjukan dan menggambarkan situasi perpecahan akibat perbedaan/pluralisme yang ada di negara ini, akan seperti apakah nasib negara kita ini untuk kedepannya.

Ibarat prinsip kerja akar tumbuhan yang berada didalam tanah dimana akar yang bercabang cabang tersebut mengambil dan menyerap unsur hara serta mineral yang terkandung di dalam tanah sebagai nutrisi untuk pertumbuhan tanaman tersebut.

Sama halnya seperti prinsip kerja akar tersebut, situasi persatuan di Indonesia sekarang pun seperti demikian, seluruh masyarakat di negara ini diibaratkan sebagai tanah.

Masyarakat yang telah terpengaruh oleh perpecahan yang sudah terjadi diibaratkan sebagai akar yang bercabang cabang lalu masyarakat yang masih percaya akan persatuan dan belum terpengaruh akan perpecahan diibaratkan sebagai unsur hara dan mineral di dalam tanah, serta tumbuhan itu sendiri merupakan perpecahannya yang muncul akibat adanya keberagaman.

Sesuai dengan prinsip kerja akar bahwa masyarakat yang sudah terpengaruh oleh perpecahan semakin banyak jumlahnya dan semakin mendominasi mayoritas masyarakat di negara ini lalu dengan perlahan lahan menghasut dan mempengaruhi masyarakat masyarakat lainnya (akar tanaman menghisap unsur hara dan mineral) sehingga pada akhirnya perpecahan menjadi gaya hidup yang utama di negara ini (tumbuhan semakin tumbuh dan berkembang akibat nutrisi dari unsur hara dan mineral yang diserap oleh akar).

Sanggupkah kita membayangkan situasi negara kita kedepannya nanti bukannya semakin erat akan rasa persatuan tetapi malah semakin erat akan rasa perpecahan di tengah tengah keberagaman yang hadir dari setiap pribadi masyarakat di negara ini ? *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.