Edza Aria Wikurendra, S.KL, M.KL – Dosen S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Lalu bagaimana dengan keberagaman Indonesia nanti ? Kita berasal dari berbagai macam latar belakang yang berbeda beda.

Ada yang dari etnis tionghoa, suku batak, suku flores, keturunan keraton, etnis Jawa, agama Katolik, agama Muslim, agama Kristen, agama Buddha, agama Hindhu, dan masih banyak keragaman lainnya yang kita miliki.

Tetapi dibalik semua keragaman itu, terciptalah suasana persatuan diantara kita semua. Kita senantiasa menghargai satu sama lain, menghargai perbedaan yang dimiliki, dan kita semua berteman bagaikan sebuah keluarga yang penuh dan kaya akan keberagaman.

Dalam contoh nyata setiap harinya kita selalu bertemu dan bertegur sapa tanpa suatu hambatan apapun.

Setiap kegiatan maupun kewajiban agama yang dimiliki oleh setiap pribadi dari kita selalu dihargai dan diberikan kebebasan untuk melakukan ibadah maupun perayaan wajib lainnya.

(Contoh konkritnya : setiap hari Jumat, semua guru, murid, maupun staff sekolah yang beragama muslim diijinkan untuk meninggalkan area sekolah untuk melakukan Sholat Jumat di Mushola ataupun Masjid terdekat ).

Tidak ada rasa cemburu maupun dengki dari dalam diri kita akan kebergaman maupun perbedaan yang kita miliki masing masing. Tidak

 pernah ada kasus pencelaan suku ataupun agama yang muncul di wilayah sekolah. Bahkan kita sangat menikmati hidup dalam perbedaan seperti ini, karena kita mengerti dan tahu betul bahwa sebenarnya keberagaman (perbedaan) merupakan pemicu terciptanya persatuan, dan rasa persatuan itu sendiri telah kita rasakan bahkan rasa persatuan itupun berkembang menjadi rasa persaudaraan yang erat antar sesama manusia yang beragam.

Akankah suasana dengan latar belakang budaya serta suku bangsa yang berbeda beda tidak terpengaruh dengan runtuhnya persatuan di kalangan masyarakat umum jaman sekarang ini, mengingat bahwa semakin maraknya isu isu mulai retaknya persatuan akibat perbedaan yang ada di negara ini ?

Kerapkali yang kita rasakan bahwa kehidupan tanpa perbedaan dan keberagaman adalah kehidupan yang hampa dan kurang berwarna. Tidak terpengaruh akan isu isu perpecahan berbau agama, suku bangsa, maupun budaya setempat yang muncul di kalangan masyarakat tetapi kita malah menjadikan isu tersebut sebagai bahan refleksi akan pentingnya tercipta persatuan ditengah – tengah keberagaman serta perbedaan yang tersebar di masyarkat luas ini. Mengapa kami merasa demikian ?

Karena kita tahu betul bahwa runtuhnya persatuan dapat membawa perpecahan di negara ini, keanekaragaman yang kita miliki merupakan cikal bakal kekayaan  negara pluralisme seperti Indonesia ini.

Dan persatuan merupakan asal mula (dasar pemikiran) terbentuknya masyarakat yang maju. Kita merasakan bahwa hidup ini semakin berwarna akibat adanya pluralisme di negara ini.

Dari penjelasan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa masa depan keberagaman di Indonesia tergantung oleh generasi muda sekarang.

Generasi muda sekarang harus sudah mulai membentuk dan membina sebuah rasa persatuan dalam pribadi setiap generasi penerus bangsa ini.

Karena seperti yang kita ketahui bahwa nasib serta masa depan negara kita ini berada di tangan para generasi penerus bangsa yang tak lain merupakan para kaum pelajar.

Dengan mengetahui makna utama dan pentingnya persatuan, maka generasi penerus bangsa kita ini akan bersatu tanpa memandang perbedaan yang mereka miliki dan pada akhirnya akan saling bahu membahu dalam membangun dan memajukan tanah air ini.

Tanpa adanya persatuan, tanpa adanya rasa kebersamaan dalam keberagaman yang ada, secara tidak langsung situasi inilah akan menjadi pemicu munculnya egoisme individual.

Dimana mereka akan merasakan bahwa persatuan adalah hal yang tidak penting tetapi yang terpenting adalah kehebatan serta kemampuan yang dimiliki diri sendiri tanpa adanya rasa persaudaraan sebagai warga negara.

Mari kita korelasikan sebagai proses penanaman moral bangsa dengan situasi persatuan yang sekarang terjadi di negara ini. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat merupakan agen sosialisasi terbesar dan paling luas bagi seluruh individu (manusia) yang ada di dunia ini.

Jika kondisi masyarakatnya saja sudah menunjukan dan menggambarkan situasi perpecahan akibat perbedaan/ pluralisme yang ada di negara ini, akan seperti apakah nasib negara kita ini untuk kedepannya.

 Ibarat prinsip kerja akar tumbuhan yang berada didalam tanah dimana akar yang bercabang cabang tersebut mengambil dan menyerap unsur hara serta mineral yang terkandung di dalam tanah sebagai nutrisi untuk pertumbuhan  tanaman tersebut.

Sama halnya seperti prinsip kerja akar tersebut, situasi persatuan di Indonesia sekarang pun seperti demikian, seluruh masyarakat di negara ini diibaratkan sebagai tanah.

Masyarakat yang telah terpengaruh oleh perpecahan yang sudah terjadi diibaratkan sebagai akar yang bercabang cabang lalu  masyarakat yang masih percaya akan persatuan.

Dan belum terpengaruh akan perpecahan diibaratkan sebagai unsur hara dan mineral di dalam tanah, serta tumbuhan itu sendiri merupakan perpecahannya yang muncul akibat adanya keberagaman.

Sesuai dengan prinsip kerja akar bahwa masyarakat yang sudah terpengaruh oleh perpecahan semakin banyak jumlahnya dan semakin  mendominasi mayoritas masyarakat di negara ini lalu dengan perlahan lahan menghasut dan mempengaruhi masyarakat masyarakat lainnya (akar tanaman menghisap unsur hara dan mineral).

Sehingga pada akhirnya perpecahan menjadi gaya hidup yang utama di negara ini (tumbuhan semakin tumbuh dan berkembang akibat nutrisi dari unsur hara dan mineral yang diserap oleh akar).

Sanggupkah kita membayangkan situasi negara kita kedepannya nanti bukannya semakin erat akan rasa persatuan tetapi malah semakin erat akan rasa perpecahan di tengah tengah keberagaman yang hadir dari setiap pribadi masyarakat di negara ini ?

Coba bayangkan masa depan negara kita ini jika situasi perpecahan seperti sekarang ini terus terjadi secara berkelanjutan, dimana sifat kehidupan individual sesama suku bangsa maupun budaya akan semakin merajalela.

Tidak ada rasa persaudaraan yang muncul antar sesama masyarakat yang beragam, julukan negara pluralisme seakan akan tidak cocok lagi untuk  disematkan kepada tanah air tercinta ini.

Mari kita renungkan sejenak akan situasi perpecahan yang sedang marak terjadi di negara ini, untuk apa kita sebagai seorang warga negara yang memiliki latar belakang budaya, suku bangsa.

Maupun agama yang berbeda beda hidup di negara yang justru masyarakatnya tidak memiliki rasa toleransi dan saling menghargai antar umat manusia yang beragam.

Untuk kedepannya akan seperti akan bentuk persatuan dari tanah air tercinta ini ? Retorika sesaat atau Ideologi yang tepat ? Eksistensi sesaat atau Peraturan yang mengikat ?

Persepsi atau Omongan basi ? Kesenjangan atau Keberagaman ? Kebiasaan yang sesat atau Kebiasaan yang tepat ? Perbedaan yang mempersatukan atau Persatuan yang membeda – bedakan ?

Sungguh resah hati ini bila menyaksikan kondisi hiruk pikuk tanah air tercinta ini penuh dengan keberagaman yang memecahkan bukan untuk mempersatukan, akan seperti apa nasib persatuan negara ini untuk kedepannya ?

Buka mata hati serta mata batin dari setiap pribadi diri kita masing masing. Lihatlah kondisi seperti apa yang sudah merajalela dan meracuni moral bangsa di negara ini. Sadarilah akan situasi buruk tak menentu yang sedang beredar di negara ini.

Bangunlah tanah air tercinta ini sebagai suatu negara yang cinta akan keberagaman. Buktikan kepada dunia Internasional bahwa Indonesia layak dan pantas dijunjung tinggi sebagai negara pluralisme.

 Bangkitkanlah semangat persatuan ! Revolusi intelektual ! Revolusi moral ! Buanglah ideologi yang menganggap bahwa keberagaman baik suku bangsa maupun budaya yang dimiliki adalah yang paling benar dan harus dijunjung tinggi di negara ini sekalipun budaya tersebut merupakan mayoritas negara ini.

Untuk generasi muda sekarang dan yang akan datang, Pancasila tetap menjadi rujukan. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, terbukti mampu merangkul berbagai keberagaman di Indonesia.

Jika Indonesia tidak dipenuhi keberagaman suku dan budaya, bisa jadi negeri ini tidak mengadopsi Pancasila sebagai dasar negara.

Namun Tuhan telah memberikan anugerah keberagaman bagi Indonesia. Tuhan telah menjadikan Indonesia seperti taman yang penuh warna-warni bunga. Tinggal bagaimana sekarang kita menjaganya.

Semestinya, karena keberagaman ini anugerah, siapapun turut aktif menjaga bukan merusak. Kenapa keberagaman ini perlu dijaga? Karena melalui keberagaman, kita bisa belajar banyak hal.

Seorang Jawa bisa mengerti bagaimana budaya seorang Dayak, Asmat, atapun Sunda. Begitu juga dengan seorang muslim, yang bisa mengerti bagaimana tata cara beribadah seorang Hindu, Kristen ataupun Budha.

Dengan saling mengerti dan memahami inilah, menciptakan kultur baru ditengah masyarakat. Kita biasa menyebutnya dengan istilah toleransi antar umat beragama. Tradisi inipun sudah ada dari sejak dulu.

Jika kita seorang Indonesia, semestinya sudah belajar  mengenai toleransi ini sejak dari kecil. Dalam perkembangannya, Islam memang menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Tapi apakah negeri ini menjadikan Indonesia sebagai negara Islam? Ternyata tidak. Para pendiri bangsa ini tetap melihat bahwa keberagaman di Indonesia yang utama.

Diskusi mengenai keberagaman ini, sudah muncul sebelum Pancasila lahir. Dalam sidang BPUPKI pada periode Mei-Juni 1945, ada kelompok yang mengusulkan dasar negara Islam namun kelompok lain juga mengusulkan dasar berbeda.

Akibatnya, terjadilah kompromi dari peserta sidang. Sila pertama yang awalnya bertuluskan “Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti menjadi kalimat “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Kalimat ini dinilai tepat, karena penduduk Indonesia tidak hanya beragama Islam, tapi ada juga agama-agama yang lain.

Kompromi yang terjadi diawal itulah, yang kemudian bisa merekatkan semua perbedaan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, dijadikan dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kenapa bisa? Karena semua agama yang ada di Indonesia, menjadi pedoman bagi pemeluknya untuk selalu berada di jalan yang benar. Jika kita mengaku sebagai beragama, maka selanjutnya kita menjalankan sila kedua yang memanusiakan manusia.

Tidak boleh ada pihak yang merasa paling benar sendiri. Jika kita sudah bisa memanusiakan manusia, langkah selanjutnya adalah menjaga persatuan dan kesatuan seperti yang dijelaskan dalam sila ketiga.

Lalu, bagaimana mungkin bisa menjagai persatuan ketika perbedaan itu begitu jelas. Indonesia begitu luas dengan berbagai macam keberagaman yang ada. Jawabannya ada di sila keempat.

Yaitu musyawarah untuk mufakat. Jika ada perbedaan pendapat, harus diselesaikan dengan cara musyawarah. Bukan dengan cara persekusi, intimidasi, ataupun melakukan tindak kekerasan.

Dan jika kita bisa melakukan sila pertama hingga keempat, maka kita semua bisa mengarah pada sila kelima, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Disinilah kenapa penting

 kita mengatakan, agar nilai-nilai Pancasila bisa dilakukan oleh semua pihak. Karena Pancasila terbukti mampu bisa merekatkan segala keberagaman di negeri ini. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.