Edza Aria Wikurendra, S.KL, M.KL – Dosen S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Indonesia merupakan negara kepulauan yang penuh dengan kekayaan serta keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, bahasa daerah, dan masih banyak lainnya. Meskipun penuh dengan keragaman budaya, Indonesia tetap satu sesuai dengan semboyan nya, Bhineka Tunggal Ika yang artinya “meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Keragaman budaya turut serta didukung oleh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah wilayah-wilayahnya oleh lautan.

Keanekaragaman kebudayaan Indonesia itu disebabkan oleh sifat kenusantaraan negara Indonesia yang memisahkan suku-suku bangsa secara geografis, sehingga mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda dimana setiap suku bangsa membentuk identitas budayanya sendiri-sendiri.

Keanekaragaman budaya juga disebabkan oleh pengaruh kebudayaan luar yang secara bergelombang memasuki wilayah nusantara yang terletak di lalu lintas dunia yang strategis. Keanekaragaman tersebut pada satu sisi merupakan faktor positif yang mengandung kekayaan potensi kultural sehingga dapat dimanfaatkan sebagai potensi pembangunan, namun di sisi lain juga dapat menjadi faktor yang menghambat pembangunan dengan potensi konfliknya.

Pada saat munculnya semangat kebangsaan, maka menguatlah keinginan untuk menggunakan nama pengenal bagi identitas kebangsaan yang sedang tumbuh. Maka nama “Indonesia” yang sudah cukup lama tersimpan dalam khasanah antropologi (James Richarson Logan dari Inggris tahun 1850 dan Adolf Bastian dari Jerman tahun 1884), mulai sering muncul dalam wacana kaum nasionalis.

Dalam makna politisnya, para pelajar dan mahasiswa di Negeri Belanda yang berasal dari kawasan Nusantara ini pada tahun 1917 menggunakan nama “Indonesia” untuk organisasi mereka “ Indonesisch Verbond van Studerenden”. Ketika diasingkan di Negeri Belanda, Ki Hajar Dewantara pada tahun 1918 di Den Haag mendirikan “Indonesisch Perbureu” (Kantor Berita Indonesia).

Nama Indonesia untuk bangsa muda yang sedang dibangun dengan penuh semangat itu digunakan Bung Hatta di Negeri Belanda dalam pledoinya “ Indonesia Merdeka” (Indonesie Vrij) bulan Maret 1928. Kemudian dikukuhkan dalam salah satu peristiwa yang amat menentukan bagi sejarah kita yaitu Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dikobarkan lagi oleh Bung Karno dalam Pidato “ Indonesia Menggugat” (Indonesie Klag An), tahun 1930

(Nurcholis Madjid, 2004 : 35). Puncak dari semuanya itu adalah Proklamasi 17 Agustus 1945, itulah perjalanan panjang sebuah nama Indonesia yang akhirnya menjadi bangsa yang mendiami pulau-pulau Nusantara atau bekas wilayah Hindia Belanda.

Indonesia merupakan hasil rumusan bersama atau dialog para pelajar/mahasiswa atau orang-orang cerdas, terdidik dan tercerahkan. Sebagai sebuah ikatan kebangsaan, entitas Indonesia tidak pernah ada sebelumnya dan baru muncul pada abad ke-20, serta mencapai puncaknya ketika sebuah bangsa dan negara baru diproklamirkan pada tahun 1945.

Sejak saat itu semua penduduk yang ada di bekas wilayah Hindia Belanda itu kemudian menyebut diri mereka, atau disebut sebagai bangsa Indonesia. Secara perlahan-lahan baik melalui proses alami maupun produk dari rekayasa sosial-politik, Indonesia tidak lagi hanya dipahami sebagai identitas politis melainkan telah berkembang juga sebagai identitas sosiologis dan kultural.

Pada hakikatnya faktor utama keberhasilan integrasi nasional tahun 1950 adalah karena kesamaan tujuan, yaitu membebaskan diri dari penjajahan dan kesamaan cita-cita untuk membangun masyarakat baru yang lebih sejahtera. Untuk itu semua suku dan golongan bersedia menyatukan persamaan-persamaan dan melupakan perbedaan-perbedaan. Dengan kata lain faktor tunggal ika lebih dikedepankan daripada faktor bhinneka.

Ketika integrasi nasional tercapai dan bangsa Indonesia akan membangun masyarakat baru; terjadi persaingan antara kekuatan-kekuatan persatuan (tunggal ika) yang berhadapan dengan kekuatan- kekuatan perbedaan (bhinneka). Artinya, kepentingan bangsa sebagai keseluruhan, yang diwakili pemerintah Pusat, berhadapan dengan kepentingan subbangsa di daerah, dengan kekhususan dan identitas masing-masing.

Semuanya beraneka ragam, namun hakekatnya satu jua, sebab tidak ada jalan kebaktian atau kebaikan yang mendua tujuan “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangroa”. Walaupun begitu, perbedaan relatif tidak mungkin dihapuskan, dan perpaduan pola budaya pesisir dan pedalaman itu tetap mempengaruhi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Negara-bangsa adalah negara untuk seluruh umat, yang didirikan berdasarkan kesepakatan bersama yang menghasilkan kontraktual dan transaksional terbuka antara pihak-pihak yang mengadakan kesepakatan tersebut. Tujuan negara-bangsa adalah mewujudkan maslahat umum (dalam pandangan negara disebut salaf padanan pengertian dari general welfare) suatu konsep tentang kebaikan yang meliputi seluruh warga negara tanpa kecuali.

Sedangkan menurut Benedict Anderson, bangsa adalah merupakan suatu “komunitas terbayang”. Para anggota bangsa terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota yang lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka. Hal terpenting dalam tetap berdirinya sebuah bangsa adalah adanya perasaan kebersamaan dan persaudaraan sebagai anggota komunitas bangsa tersebut.

Demikian juga bangsa Indonesia yang dibangun di atas perbedaan karena para warga bangsanya mendiami berbagai pulau yang dipisahkan baik besar maupun kecil. Hubungan antar pulau selalu tidak mudah sehingga masing-masing pulau sedikit banyak terisolasi satu dengan yang lainnya, hal tersebut mendorong tumbuhnya ciri-ciri kesukuan, kebahasaan dan kebudayaan yang berbeda-beda.

Bahkan dalam pulau besarpun pola kesukuan dan kebudayaan yang berbeda-beda terdorong muncul dengan sifat khas masing-masing menurut lingkungannya. Semuanya itu disebabkan oleh keadaan geografis dan topografisnya yang menyebabkan terbentuknya wilayah yang terpisah satu dengan lainnya. Untuk itu wawasan multikultural perlu untuk dipahami dan dimaknai bagi segenap bangsa Indonesia. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry