SOLUSI : Suasana Jumat Ngopi Bareng Mas Bup di Pendopo Kabupaten Kediri (Nanang .P Basuki/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Sejumlah keluhan disampaikan warga di Kabupaten Kediri saat digelar Jumat Ngopi (Ngobrol Persoalan dan Solusi) Bareng Mas Bup, bertempat di Pendopo, pada Jumat (19/03). Hadir dalam acara ini, Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa, Sekda Dede Sujana serta sejumlah pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten.

Pertanyaan terbanyak justru kapan tempat wisata dan dunia Pendidikan kembali dibuka secara normal ditujukan kepada Mas Bup, sapaan akrab Bupati Kediri H. Hanidhito Himawan Praman. Namun ironis, gerakan #dirumah_saja  di masa pandemic digagas pemerintah pusat, serasa diabaikan. Bila melihat kondisi di jalan raya dan pusat perbelanjaan meski memakai masker.

Sejumlah pelaku UMKM pun terpaksa mencari cara agar bisa bertahan hidup diantaranya terpaksa alih profesi. Seperti dilakukan Agung Haryono membuat peralatan tulis untuk pasar anak – anak masih duduk dibangku sekolah. Begitu juga Ana Maria Hening, pengrajin handcraft terpaksa membuka warung namun tujuan utamanya wadah motivasi untuk bertahan hidup.

Selain juga ada aduan bahwa di kawasan Jl. Soekarno Hatta Katang masih terlihat banjir, bila hujan cukup deras masih menyisakan genangan air sementara tidak tersedia saluran air yang memadai. Juga terkait hak cipta produk UMKM disampaikan, agar pemerintah hadir memfasilitasi.

“Membuat souvenir itu seperti memasak atau melukis, bila bahan – bahannya lengkap maka dalam waktu 10 menit handcraft tersebut selesai. Perlu kehadiran pemerintah untuk melatih SDM pelaku UMKM untuk berjualan online, kemudian membangun mental dan penyebarluasan informasi atas program – program pemerintah,” terang, Ana Hening, warga Dusun Mangunrejo Desa Bangkok Kecamatan Gurah

Bersama Wujudkan Zona Kuning

SOLUSI : Mbak Wabup menerima cidera mata saat acara Jumat Ngopi di Pendopo Kabupaten Kediri (Nanang .P Basuki/duta.co)

Dia pun mencontohkan informasi terkait Bantuan Tunai Langsung (BLT) disampaikan melalui media sosial, tentunya bagi warga desa terpelosok tidak akan tersampaikan. Begitu juga bagi pelaku usaha, diharapkan pemerintah dalam menyebarluaskan informasi melibatkan pihak desa dan Ketua RT.

“Contohnya bantuan BLT tidak mampu tercover semua, karena pemerintah menyampaikan informasi melalui Instagram. Harus juga dilakukan secara manual, agar yang jatuh tidak makin jatuh di masa pandemi,” ungkapnya. Mski demikian, Ana bersama pelaku UMKM lainnya rupanya tidak menyerah, dengan mendirikan warung di halaman rumahnya, dijadikan tempat berkumpul memberikan motivasi kepada pelaku usaha. “Saya akhirnya buka warung di rumah, sekaligus wadah pendampingan pelaku UMKM,” jelasnya.

Mendengar keluhan ini, Mas Bup kembali menegaskan bahwa dirinya merasa miris jika ada yang mengucap meninggal bukan karena corona namun karena kelaparan. Untuk itu, sebagai orang nomor satu di Kabupaten Kediri mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk mempertahankan trend kesembuhan kian membaik. “Trendnya terus membaik, jumlah yang positif kian berkurang dan berangsur – angsur sembuh. Kami minta tetap dipertahankan dan jika bisa ditingkatkan terkait penerapan protokol kesehatan,” ucapnya.

Bila kemudian setelah satu Minggu ini terus meningkat yang sembuh dan diikuti penurunan jumlah terkonfirmasi, diharapkan segera memasuki Zona Kuning. “Bila kemudian Zona Kuning, akan kami kaji untuk mengijinkan beroperasinya dan dibukanya kembali tempat wisata namun harus dengan peraturan yang ketat,” jelas dikonfirmasi usai acara Jumat Ngopi.

Penegasan juga disampaikan Mbak Wabup, bahwa dirinya Bersama Bupati terus memantau perkembangan kasus Covid-19. “Bahwasanya banyak permintaan segera dibuka kegiatan, padahal Kediri masih Zona Oranye. Masih 142 RT yang sudah Zona Kuning. Namun perlu diingat, yang menentukan zona itu pemerintah pusat, bagaimana pun kita semua harus berjuang bersama – sama dan saat ini masih ada 170 warga Kabupaten Kediri yang positif,” jelas Dewi Mariya Ulfa. (nng)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry