
(Salah Satu Perjalanan Maqām Suluk dalam Ṭarīqah Naqsyabandiyah Khalidiyah)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
SETELAH seorang salik menapaki maqām Muraqabah Af‘āl dan Sifāt, menyadari bahwa segala gerak berada dalam pengawasan-Nya dan bahwa seluruh kesempurnaan adalah milik-Nya, maka ia akan dibimbing (Bai’at) menuju maqām yang lebih dalam dan lebih lembut: Muraqabah Ma‘iyah.
Di maqām ini, seorang hamba tidak lagi sekadar merasa diawasi, tidak pula hanya menyaksikan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Ia mulai hidup dalam kesadaran bahwa Allah senantiasa bersamanya, bukan kebersamaan tempat dan arah, tetapi kebersamaan ilmu, rahmat, dan penjagaan-Nya.
Allah berfirman:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Ḥadīd: 4)
Ayat ini menjadi fondasi maqām Ma‘iyah. Ia bukan sekadar ayat yang dibaca, melainkan ayat yang dirasakan. Pada maqam ini seorang Salik memandang dirinya sebagai makhluk yang selalu dalam pengawasan dan lindungan-Nya. Dalam sepi maupun ramai, dalam uzlah maupun khalwah, dalam tangis maupun senyum, ia sadar: Aku tidak pernah sendiri.
Namun kebersamaan ini memiliki tingkatan. Para ‘arifin membedakan antara:
1. Ma‘iyah ‘Āmmah, kebersamaan Allah dengan seluruh makhluk melalui ilmu dan kekuasaan-Nya.
2. Ma‘iyah Khāṣṣah, kebersamaan khusus bagi orang beriman, berupa pertolongan, taufiq, dan penjagaan-Nya.
Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Dalam maqām ini, hati seorang salik dilatih untuk menanggalkan rasa kesepian dan ketergantungan kepada makhluk. Ketika ia diuji, ia tidak panik; ketika ia ditinggalkan manusia, ia tidak merasa hampa. Sebab ia menyadari bahwa kebersamaan Allah lebih kokoh daripada dukungan manusia.
Muraqabah Ma‘iyah melahirkan ketenangan yang dalam (ṭuma’nīnah). Hatinya tidak lagi gelisah oleh perubahan dunia, karena ia sadar bahwa yang menyertainya adalah Dzat Yang Maha Tetap.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احفظ الله يحفظك، احفظ الله تجده تجاهك “Jagalah Allah (taatilah perintah-Nya), niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini adalah ruh maqām Ma‘iyah. Barang siapa menjaga adab dan syariat-Nya, ia akan merasakan penjagaan dan kebersamaan-Nya.
Hakikat Ma‘iyah dalam Suluk
Dalam perjalanan Naqsyabandiyah Khalidiyah, maqām ini bukan sekadar pemahaman teologis, tetapi latihan rasa. Salik membiasakan diri menghadirkan kesadaran bahwa:
Setiap langkahnya ditemani Allah. Setiap kesulitan disaksikan Allah. Setiap doa didengar Allah. Ia tidak lagi merasa bergantung kepada sebab-sebab lahir semata, karena hatinya telah tertambat kepada Musabbib al-Asbāb.
Namun para masyayikh mengingatkan: kebersamaan Allah bukan berarti hulūl atau ittihād. Allah tetap Maha Tinggi, Maha Suci dari tempat dan arah. Ma‘iyah adalah kebersamaan dalam ilmu, qudrah, rahmat, dan pertolongan, bukan persatuan dzat.
Buah Maqām Muraqabah Ma‘iyah
1. Hilangnya rasa takut berlebihan kepada makhluk.
2. Lahirnya keberanian dalam kebenaran.
3. Tenangnya hati dalam ujian.
4. Tumbuhnya tawakkal sejati.
Hikmahnya:
Ketika seorang salik menyadari Allah bersamanya, maka ia berhenti mencari penguatan dari dunia. Ia cukup dengan Allah.
Sebagaimana firman-Nya:
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ “Bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)
Penutup
Maqām Muraqabah Ma‘iyah adalah saat seorang hamba berjalan di bumi, tetapi hatinya berjalan bersama Allah. Ia berbicara kepada manusia, tetapi hatinya tetap berdialog dengan Rabb-nya. Ia hidup di tengah dunia, namun tidak pernah terpisah dari kebersamaan Ilahi.
Ia tidak lagi berkata: “Aku sendiri”, melainkan Ia berkata dengan tenang dan penuh keyakinan: “Aku bersama Allah, dan Allah bersamaku.”
#MuraqabahMa’iyah
#NaqsyabandiyahKhalidiyah
#PonpesAlMasykuriyah
#AliMasykurMusa





































