
SURABAYA | duta.co – Suhu politik olahraga Kota Pahlawan jelang Musyawarah Olahraga Kota (Musorkot) KONI Surabaya 2025 bukan lagi sekadar memanas tetapi benar-benar mendidih. Manuver pengurus lama semakin menyengat setelah salah satu bakal calon Ketua KONI Surabaya 2025–2029, Erie Hartanti, menggelar pertemuan tertutup bertajuk Table Talk bersama sejumlah Cabor pendukungnya di salah satu hotel di Surabaya, Rabu (20/11/2025).
Langkah ini sontak mengundang tanda tanya besar. Acara privat yang hanya untuk tamu undangan itu justru menggunakan nama resmi “KONI Kota Surabaya” pada papan agenda hotel, seolah-olah merupakan kegiatan sah organisasi. Padahal, saat wartawan duta.co mencoba meliput, panitia langsung menolak mentah-mentah dengan alasan acara bersifat tertutup.
Dari luar acara terlihat formal, tetapi begitu agenda dimintai konfirmasi, jawabannya justru kabur. Ironisnya, saat wartawan duta.co mencoba meminta klarifikasi setelah acara selesai, Erie memilih melarikan diri masuk lift.
“Nanti ya, Mas. Diatur sama bidang media,” ujarnya singkat sebelum pintu lift tertutup meninggalkan banyak pertanyaan yang belum terjawab.
Tak butuh waktu lama, foto papan acara bertuliskan KONI Kota Surabaya itu menyebar cepat di berbagai grup WhatsApp. Para ketua Cabor yang tidak diundang langsung bereaksi keras. Mereka menilai penggunaan nama lembaga dalam agenda tertutup itu tak wajar, menyesatkan, dan berpotensi memanipulasi persepsi publik.
Ketua IMI Surabaya, Rinto Ari Rakhmanto, mengaku sangat terkejut. “Kalau itu acara KONI, kenapa hanya Cabor pendukung yang diundang Kalau itu acara salah satu calon, kenapa pakai nama KONI Surabaya?,” tanyanya.
Ketua Muaythai Indonesia (MI) Surabaya, Hendri Lianto, bahkan bersuara lebih keras. “Kalau benar atas nama KONI, ini pelanggaran. Ini kan sosialisasi bakal calon. Jangan karena mereka pengurus lama, lalu KONI seakan-akan milik orang tertentu. KONI itu rumah semua Cabor,” tegasnya.
Respons para Cabor menegaskan satu hal kepercayaan terhadap netralitas penyelenggara Musorkot kini berada pada titik paling rendah.
Kisruh Table Talk hanya menambah panjang daftar kejanggalan jelang Musorkot 22 November 2025. Para cabor menyebut banyak prosedur yang gelap, tertutup, dan tidak sesuai standar organisasi.
Sejumlah indikasi kecurigaan semakin menguat, antara lain undangan resmi kepada pemilik suara tidak mencantumkan waktu dan lokasi Musorkot. Materi Musorkot terlambat dibagikan, sehingga Cabor kesulitan mempelajari agenda. Informasi terkait tahapan pemilihan minim, bahkan cenderung disembunyikan. Dugaan kuat adanya upaya mengatur arah pemilihan demi kepentingan kelompok tertentu.
Situasi ini membuat atmosfer Musorkot 2025 berubah menjadi arena penuh kecurigaan, manuver senyap, dan permainan bayangan. Suasana yang seharusnya demokratis justru berubah menjadi pertarungan penuh intrik.
Serangkaian insiden itu memunculkan pertanyaan mendasar dari para cabor: Apakah KONI Surabaya masih milik seluruh cabor, atau telah berubah menjadi alat kekuasaan kelompok tertentu?
Musorkot 2025 yang awalnya diharapkan menjadi momentum perbaikan justru berubah menjadi panggung yang dipenuhi kontroversi. Transparansi penyelenggara kini dipertanyakan, netralitas pengurus lama disorot, dan integritas proses pemilihan berada dalam ujian berat.
Satu hal yang pasti, publik olahraga Surabaya sedang menunggu jawaban, bukan alasan. (gal)





































