Sejak awal siswa-siswi SMA Trensains Tebuireng dilatih untuk disiplin tinggi. Dengan begitu mereka tidak pernah kaget, dan selalu menghadapi ujian. (FT/DUTA.CO/ABDULHAKIM)

JOMBANG | duta.co — Meski belum genap berusia tiga tahun, SMA Pesantren Sains (Trensains) Tebuireng kembali mengukir prestasi yang membanggakan. Setelah beberapa kali mengukir prestasi dalam ajang olimpiade sains internasional, kini sekolah yang berlokasi di kompleks Pesantren Tebuireng 2 itu berhasil menduduki peringkat ketiga jurusan IPA se-Kabupaten Jombang.

Dari 44 sekolah peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Jombang yang memiliki jurusan IPA, SMA Trensains menempati peringkat ketiga dengan nilai rata-rata 64,34. Posisi pertama diduduki oleh SMA Negeri 2 Jombang dengan rerata 74,88, lalu disusul SMA Negeri 3 Jombang dengan nilai 68,03. “Kami bersyukur karena dari jajaran sekolah swasta, SMA Trensains meraih posisi pemuncak,” ujar Kepala SMA Trensains A Rofiq, Kamis (4/5/2017).

Meski demikian, Rofiq mengaku masih belum puas dengan capaian tersebut. Pasalnya, nilai Matematika masih di bawah target. “Semula, kami targetkan Matematika mendapatkan rata-rata 6,5, tapi kami hanya mampu meraih nilai rata-rata 51,10. Ini akan menjadi catatan evaluasi untuk UN tahun depan,” tandasnya.

Senada dengan itu, Wakil Kepala Bidang Kurikulum Abdul Ghofur juga mengungkapkan masih belum puas dengan capaian itu. Pasalnya, masih ada beberapa siswa yang mendapatkan nilai matematika di bawah target. “Hanya saja, kami bersyukur ada siswa bernama M Syamsuri Rosyid yang berhasil meraih nilai 95 untuk pelajaran Matematika. Prestasi ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami,” ujarnya.

Dengan capaian itu, SMA Trensains berhasil menggeser dominasi beberapa sekolah swasta yang selama ini menempati posisi bergengsi tersebut. Bahkan SMA Darul Ulum 2 Jombang kali ini harus puas di peringkat keenam. Demikian juga SMA A Wahid Hasyim Tebuireng yang harus legowo berada di peringkat ke-10.

Ditanya tentang persiapan yang dilakukan, Ghofur menyatakan tidak ada persiapan khusus menjelang UN. “Kami hanya menyiapkan Program Intensif Semester (PIS) untuk semester gasal dan Program Intensif Terstruktur (PIT) untuk persiapan UN sekaligus SBMPTN. Jadi, capaian ini hanya efek samping saja,” ungkap Ghofur.

Sebagaimana diketahui, SMA Trensains Tebuireng merupakan salah satu unit pendidikan di Pesantren Tebuireng yang baru didirikan pada 2014. Lahirnya SMA bercirikan sains berbasis Al-Quran ini berawal dari kolaborasi gagasan antara KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Agus Purwanto, pakar fisika dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Sejak diresmikan pada 22 Agustus 2014, SMA Trensains telah menjalin kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi terkemuka. Antara lain ITS dan Unesa Surabaya, serta UIN Malik Ibrahim Malang. “Kami juga sudah menjalin kerjasama dengan Cambridge International School,” ungkap Ghofur.

Terkait pekerjaan rumah pasca pelaksanaan UN perdana ini, Rofiq mengatakan bahwa tugas para pendidik di SMA Trensains untuk melahirkan ilmuwan muslim, masih butuh kerja keras. “Berikutnya, kami masih harus terus mendorong agak anak didik kami berproses menjadi ilmuwan muslim yang sesungguhnya, bukan sekadar melahirkan pekerja. Sebab, itulah gagasan besar di balik berdirinya SMA Trensains ini,” pungkasnya. (day)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry