Bambang Haryo Soekartono memaparkan kepada peserta pelatihan tentang pentingnya pengembangan sumber daya lokal melalui pemanfaatan eceng gondok menjadi produk kriya bernilai jual tinggi.

SURABAYA | duta.co — Pengembangan sumber daya lokal menjadi salah satu peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menghasilkan produk kreatif bernilai tambah. Salah satunya melalui pemanfaatan eceng gondok menjadi tas kerajinan tangan yang berpotensi menembus pasar nasional hingga internasional.

Sebanyak 70 peserta mengikuti pelatihan ekonomi kreatif bidang kriya yang diinisiasi Komisi VII DPR RI bersama Kementerian Ekonomi Kreatif. Kegiatan tersebut bertujuan mendorong lahirnya pelaku usaha kreatif baru sekaligus meningkatkan kemampuan UMKM dalam mengolah bahan baku lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Ir. H. Bambang Haryo Soekartono, M.I.Pol., selaku Kapoksi Komisi VII DPR RI, mengatakan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan potensi sumber daya lokal melalui kreativitas dan inovasi.
“Yang dilatihkan adalah membuat tas dari eceng gondok. Jadi, limbah-limbah yang sebetulnya tidak terpakai bisa dimanfaatkan menjadi satu produk dengan nilai jual yang luar biasa,” kata Bambang Sabtu,(24/9/2026).

Bambang Haryo Soekartono bersama Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pengembangan UMKM melalui pelatihan pembuatan tas berbahan eceng gondok di Surabaya.

Menurut dia, pengembangan usaha kriya tidak cukup hanya melalui pelatihan keterampilan produksi. Pelaku UMKM juga membutuhkan pendampingan berkelanjutan, terutama dalam hal permodalan, manajemen usaha, sertifikasi, dan pemasaran.

Bambang menilai, dukungan tersebut diperlukan agar produk yang dihasilkan tidak berhenti pada tahap produksi, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan berdaya saing.“Ini harus kita berikan fasilitas-fasilitas. Pertama tentu pemodalannya, kedua manajemennya, termasuk juga sertifikasinya. Kita akan membimbing mereka agar tidak menemui kesulitan setelah produknya jadi. Dari sisi pemasaran juga perlu kita bantu,” ujarnya.

Ia menambahkan, subsektor kriya memiliki peluang untuk berkembang karena produknya dapat menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus mendukung sektor pariwisata. Karakter khas produk Indonesia dinilai dapat menjadi daya tarik bagi konsumen domestik maupun pasar internasional.

Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif RI, Amir Hamzah, menjelaskan bahwa produk kriya berbahan eceng gondok memiliki keunikan tersendiri karena memanfaatkan tanaman yang tumbuh di lingkungan Indonesia.

Menurut Amir, pemanfaatan bahan tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi sumber daya lokal yang sebelumnya belum diolah secara optimal.

Ia menyebut produk kriya berbasis bahan alam memiliki peluang di pasar internasional, termasuk Eropa. Keunikan bahan dan proses pembuatannya dapat menjadi pembeda dibandingkan produk kerajinan yang diproduksi secara massal.
“Ini sebenarnya tanaman gulma. Jadi, pemanfaatan tanaman gulma ini tidak melalui proses mesin dan obat-obatan tertentu. Produk kriya ini memiliki keunikan tersendiri,” tutur Amir.

Amir menegaskan, pengembangan kriya tetap membutuhkan pembinaan dan inovasi teknologi. Salah satu tantangan dalam pengolahan eceng gondok adalah menjaga kualitas bahan agar cukup kering, tidak mudah berjamur, serta memenuhi standar mutu produk.

Untuk itu, pihaknya berencana menjajaki kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) guna mendukung pengembangan teknik pengolahan bahan dan peningkatan kualitas produk.

Selain meningkatkan keterampilan peserta, pembinaan juga diarahkan untuk menciptakan talenta-talenta baru yang mampu mengembangkan potensi kerajinan di berbagai daerah Indonesia.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya, Herry Purwadi, S.Sn., berharap pelatihan tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi perkembangan UMKM di Kota Pahlawan.

Ia mengatakan, pelaku usaha lokal perlu didorong agar mampu meningkatkan kualitas produk dan memperluas jangkauan pemasaran, tidak hanya di tingkat lokal dan regional, tetapi juga ke pasar internasional.“Kami berharap UMKM ini naik kelas. Yang tadinya bukan apa-apa menjadi apa-apa. UMKM sudah saatnya naik kelas, tidak hanya di tingkat lokal dan regional, tetapi juga harus mendunia,” kata Herry.

Menurutnya, pemanfaatan bahan yang sebelumnya kurang bernilai menjadi produk kerajinan merupakan bentuk inovasi yang dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Herry juga berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan pendapatan pelaku UMKM sekaligus memberikan kontribusi terhadap perekonomian Kota Surabaya.

Ia menjelaskan, perkembangan ekonomi kreatif dapat mendukung sektor pariwisata melalui produk lokal yang memiliki ciri khas. Ketika produk kerajinan semakin dikenal, peluang promosi daerah dan kunjungan wisatawan juga dapat terbuka lebih luas.

Pengembangan kriya berbahan eceng gondok membutuhkan ekosistem usaha yang saling mendukung, mulai dari ketersediaan bahan baku, keterampilan tenaga kerja, pengendalian kualitas, akses pembiayaan, hingga pemasaran.

Panduan Pendampingan Subsektor Kriya yang diterbitkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pelaku usaha, inovasi produk, dan pendampingan untuk memperkuat daya saing kriya Indonesia. Dokumen tersebut dapat dibaca melalui Panduan Pendampingan Subsektor Kriya Kemenparekraf.

Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, pemanfaatan eceng gondok diharapkan tidak hanya menghasilkan produk kerajinan bernilai jual, tetapi juga membuka peluang usaha baru, memperluas pasar UMKM, dan memperkuat identitas produk kreatif berbasis sumber daya lokal Indonesia.(Gal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry