JAKARTA | duta.co – Rame di Media Sosial (Medsos), bahwa, KH Ma’ruf Amin resmi mengajukan surat pengunduran diri dari jabatan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) serta Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

“Ini kode keras dari Kiai Ma’ruf. Apakah ini ancang-ancang ke Rais Aam PBNU? Waalahu’alam. Yang jelas, ini kode keras,” demikian disampaikan Dr M Sholeh Basyari, Direktur Eksekutif CSIIS (Center for Strategic on Islamic and International Studies) kepada duta.co, Rabu (24/12/25).

Pengunduran diri (Kiai Ma’ruf) tersebut dibenarkan Sekretaris Wantim MUI, Zainut Tauhid Sa’adi. “Sekretariat Dewan Pertimbangan MUI mengonfirmasi bahwa benar Bapak Ma’ruf Amin telah melayangkan surat permohonan pengunduran diri dari posisi Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Surat tersebut telah diterima secara resmi oleh internal organisasi,” ujar Zainut dalam keterangan tertulis, Selasa (23/12/2025).

Zainut menjelaskan, alasan utama Kiai Ma’ruf mengundurkan diri adalah untuk mendorong percepatan regenerasi kepemimpinan di tubuh Majelis Ulama Indonesia. Selama ini, Kiai Ma’ruf tercatat telah mengabdi dalam waktu yang panjang, mulai dari anggota Komisi Fatwa, Ketua Umum MUI, hingga Ketua Dewan Pertimbangan MUI selama dua periode.

“Beliau memandang urgensi penguatan organisasi melalui regenerasi. Dengan penuh kesadaran, beliau ingin mulai mengurangi aktivitas di ranah struktural. Masa khidmat beliau di MUI sudah sangat panjang,” kata Zainut dikutip nu.or.id.

Surat pengunduran diri tersebut saat ini masih dalam proses administratif dan akan dibahas lebih lanjut dalam Rapat Pimpinan (Rapim) serta Rapat Paripurna MUI. Hingga ada keputusan resmi, secara organisatoris Kiai Ma’ruf tetap menjadi sosok yang dihormati dalam struktur Wantim MUI. “Segala keputusan akhir akan diambil secara kolektif-kolegial oleh pimpinan MUI,” tegas Zainut.

Dalam surat yang diperoleh NU Online, Kiai Ma’ruf menyebutkan alasan pengunduran diri berkaitan dengan usia yang telah lanjut serta lamanya masa pengabdian di MUI. “Hal ini berkaitan dengan usia saya yang sudah lanjut dan sudah terlalu lama pengabdian saya di MUI,” tulisnya.

Kiai Ma’ruf juga undur diri dari Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa. Ini dibenarkan oleh Ketua DPP PKB Luluk Nur Hamidah. Menurutnya, keputusan tersebut telah diketahui Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

“Yang kami dengar, beliau memang ingin menepi atau uzlah dari politik. Hal itu sudah disampaikan kepada ketua umum sejak beberapa waktu lalu,” ujar Luluk.

Senada, Wakil Ketua Harian DPP PKB Nadya Alfi menyebutkan bahwa Kiai Ma’ruf telah lama menyampaikan niat untuk tidak lagi terlibat dalam kegiatan struktural, baik di PKB maupun MUI. “Beliau menyatakan akan melakukan uzlah, tidak lagi aktif secara struktural, namun tetap memberikan dukungan dan bantuan kepada PKB. Proses komunikasinya sudah berlangsung cukup lama,” tandas Nadya.

Sejumlah warganet memberikan analisanya. Banyak yang menilai ini respon paling radikal justru datang dari mantan Wapres RI sekaligus mantan Rais Aam KH Ma’ruf Amin di tengah konflik PBNU memanas. “Ini ancang-ancang jelang muktamar NU yang akan datang,” demikian warganet.

“Sejumlah spekulasi memang berkembang secara berbeda terkait mundurnya Kiai Ma’ruf secara bersamaan (baik di MUI maupun di DPP PKB). Ada yang menyebut ingin fokus mandito. Tetapi ada menyebut bahwa mundurnya Kiai Ma’ruf sebagai kode keras untk comeback sebagai Rais Aam. Masalah, beliau sudah pernah menjadi Rais Aam dan ditinggal menjadi Wapres,” tegas sumber duta.co.

Apa pun, orang dekat Kiai Ma’ruf menyebut mundurnya cucu Kiai Nawawi al-Bantani ini adalah respon menohok atas kehadiran Cak Imin di Pleno Syuriyah di Hotel Sultan beberapa waktu lalu. “Di samping juga tidak sependapat dengan sikap KH Zulfa Mustofa yang menerima penunjukan sebagai PJ Ketum PBNU,” tegasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry