Rizki Amalia, SST, MPH – Dosen Kebidanan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

WALAU ibu bekerja, sebaiknya terus menyusui bayinya agar produksi ASI tidak menurun. Masalah yang sering dihadapi adalah melatih bayi minum dari botol. Anjuran yang dapat diberikan pada ibu yang bekerja antara lain :

  1. Selama cuti hanya menyusui . Manfaatkan masa cuti untuk membentuk bounding attachment dengan intens menyusui bayinya 2 jam sekali atau ada istilah Ngek-Jel.
  2. Sebelum mulai bekerja ubah pola minum bayi. Kurang lebih 1 bulan terakhir habis masa cuti mulai biasakan bayi dan melatih minum dari cup feeder atau media lain dengan ASI perah.
  3. Sebelum berangkat bekerja susui bayi . Sempatkan pagi hari puas kan bayi dengan menetek secara langsung.
  4. Selama di kantor perah ASI setiap 3-4 jam. Sesibuk sibuknya pekerjaan anda di kantor sempatkan 3- 4 kali untuk memompa atau memerah ASI, setibanya di kantor, jam makan siang atau saat ishoma dan menjelang jam pulang kantor.
  5. Simpan di lemari es dan dibawa pulang. Jika di tempat kerja tidak ada lemari es ibu menyusui harus membawa cooler bag yang saat ini sudah banyak motif dan modelnya menyerupai tas kerja.
  6. Setelah dihangatkan diberikan dengan cangkir. Saat ditinggal kerja mulai turunkan ASI beku dari freezer untuk perlahan lahan menurunkan suhu nya kemudian di rendam dengan air hangat, ASI yang telah didinginkan tidak boleh direbus bila akan dipakai, karena kualitasnya akan menurun, yaitu unsur kekebalannya. ASI tersebut cukup didiamkan beberapa saat di dalam suhu kamar, agar tidak terlalu dingin, atau dapat pula direndam di tempat yang telah berisi air hangat. ASI yang sudah dikeluarkan dari lemari es tidak dapat disimpan kembali atau harus habis. Selain itu gunaka teknik first in first out atau ASI yang disimpan pertama seharusnya juga keluar lebih dulu, sehingga saat menyimpan hendaknya diberi label waktu.

ASI perah jika di udara terbuka atau bebas bisa disimpan selama tiga hingga empat jam. Di lemari es dengan suhu 4 derajad Celsius  bisa disimpan selama satu hingga dua hari. Jika di freezer bisa disimpan selama tiga hingga enam bulan.

Proses memompa ASI tidak harus dengan media pompa baik manual maupun elektrik namun bisa juga menggunakan tangan dengan terlebih dahulu dipastikan sudah mencuci tangan. Cara ini lazim digunakan karena tidak banyak membutuhkan sarana dan lebih mudah.

Di antaranya mencuci tangan sampai bersih, menyiapkan cangkir(cup feeder)/gelas bertutup yang telah dicuci dengan air mendidih, melakukan atau pemijatan payudara dengan kedua telapak tangan dari pangkal ke arah areola. mengulangi pemijatan ini pada sekeliling payudara secara merata.

Juga menekan daerah areola ke arah dada dengan ibu jari dan jari telunjuk disekitar areola dengan posisi atas-bawah (ibu jari pada areola bagian atas dan jari telunjuk pada areola bagian bawah), atau posisi samping kanan-kiri (ibu jari disekitar pada areola bagian kanan dan jari telunjuk pada areola bagian kiri).

Selain itu peras areola dengan ibu jari dan jari telunjuk, jangan memijat/menekan putting karena dapat menyebabkan rasa nyeri/lecet.  Mengulangi tekan-peras-lepas-tekan peras-lepas. Pada mulanya ASI tak keluar, jangan berhenti, setelah beberapa kali maka ASI akan keluar.

Anjurkan ibu untuk mengulangi gerakan ini pada sekeliling areola(daerah hitam sekitar payudara) dari semua segmen payudara. Yang perlu diperhatikan pada pemberian ASI yang telah dikeluarkan adalah cara pemberiannya pada bayi. Jangan diberikan dengan botol/dot, karena hal ini akan menyebabkan bayi “bingung puting”. Berikan pada bayi dengan menggunakan cangkir/cup feeder atau sendok, sehingga bila saatnya ibu menyusui langsung, bayi tidak menolak menyusu. Ibu bekerja juga bisa menyusui bayinya tetap semangat pejuang ASI worker mom. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry