Uliyatul Laili – Dosen Kebidanan, Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

Air Susu Ibu (ASI) merupkan makanan terbaik bagi bayi baru lahir. Menyusui merupakan kegiatan yang banyak memberikan manfaat baik bagi ibu maupun bagi bayi. Manfaat ASI bagi bayi diantaranya adalah dapat menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup, karena ASI memberikan efek perlindungan yang sangat baik dalam melawan infeksi penyakit dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh.

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi sehat maupun bayi sakit. Sampai saat ini penularan COVID 19 melalui ASI masih belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, tetap harus kita perhatikan yakni risiko utama saat bayi menyusu pada ibu maka akan terjadi kontak dekat antara ibu dan bayi. Sehingga dalam kondisi ini cenderung terjadi penularan melalui droplet. Oleh karena itu, protokol kesehatan tetap harus diperhatikan oleh ibu dan anggota keluarga lainnya.

Apabila ibu dan keluarga menginginkan bayinya dapat disusui secara langsung dan dapat patuh untuk melakukan pencegahan COVID 19, maka tenaga kesehatan akan membantu dengan memberikan edukasi serta pengawasan terhadap ibu dan keluarga terhadap risiko penularan covid 19. Kegiatan menyusui secara langsung dapat dilakukan apabila keadaan klinis ibu baik dan bayi dalam kondisi sehat. Akan tetapi, proses pemberian nutrisi berupa ASI untuk bayi baru lahir pada ibu dengan suspek, probable dan terkonfirmasi COVID 19, maka terlebih dahulu ditentukan kondisi klinis dari si ibu.

Pada ibu dengan kondisi klinis yang berat sehingga tidak memungkinkan untuk ibu dapat melakukan kegiatan memerah ASI dan terdapat sarana dan prasarana fasilitas kesehatan yang memadai, maka petugas kesehatan dapat melakukan beberapa tindakan. Salah satu pilihan yang dapat dilakukan yaitu keluarga dan tenaga kesehatan memilih untuk melakukan tindakan pencegahan risiko penularan COVID 19 dengan melakukan pemisahan sementara antara ibu dan bayi. Pilihan lainnya yaitu dapat dengan memberikan nutrisi pada bayi berupa ASI melalui ASI donor yang layak (dipasteurisasi) atau susu formula.

Jika kondisi klinis ibu menunjukkan gejala klinis ringan atau sedang, dimana keluarga dan tenaga kesehatan tetap memprioritaskan untuk mencegah risiko penularan COVID 19, dengan tetap mempertahankan kedekatan ibu dan bayi maka solusi nya adalah dengan cara memberikan ASI perah dari ibu. Prosedur untuk dapat memberikan ASI perah kepada bayinya maka ibu harus menggunakan maskermedis selama memerah dan harus mencuci tangan menggunakan air dan sabun selama minimal 20 detik sebelum memerah. Selain itu, ibu juga harus menjaga kebersihan pompa dan semua alat-alat yang bersentuhan dengan ASI. ASI perah dapat diberikan kepada bayi oleh  tenaga kesehatan atau keluarga.

Saat pemberian ASI perah, fasilitas kesehatan harus dapat menjamin agar ASI perah tidak terkontaminasi. Namun, apabila fasilitas kesehatan tidak dapat menjamin kondisi ASI perah yang akan diberikan pada bayi, maka ASI harus dipasterisasi terlebih dahulu sebelum diberikan pada bayi. Untuk pemberian ASI perah juga harus diperhatikan faktor dari ibu. Ibu dapat melakukan pemberian ASI perah selama ibu tidak mendapatkan obat-obatan dan belum terjamin keamanannya bagi bayi. Untuk tetap mempertahankan produksi ASI, ibu dapat tetap memerah namun tidak diberikan kepada bayi.

Beberapa obat-obatan yang dapat digunakan dalam kondisi menyusui diantaranya adalah azitromisin, karena kadar azitromizin yang rendah dalam ASI dan lazim digunakan pada bayi dalam dosis yang lebih tinggi, penggunaan selama menyusui tidak menyebabkan efek buruk pada bayi yang sedang disusui. Obat lain yang relatif aman yaitu hidroxy-cloroquine, sejumlah kecil hidroxy-cloroquine diekskresikan dalam ASI namun, tidak ditemukan efek samping pada bayi.

Selanjutnya pada ibu yang memiliki kondisi klinis tidak bergejala atau ringan, maka ibu dapat memilih untuk memberikan ASI secara langsung kepada bayinya tentunya tetap memperhatikan protokolo kesehatan guna menghindari risiko penularan covid 19. Ibu menggunakan masker bedah dan harus melakukan cuci tangan serta membersihkan payudara dan sekitarnya dengan sabun dan air mengalir. Bayi dapat menyusu langsung kepada ibunya, dan ibu harus tetap diberikan edukasi bahwa bayi berisiko tertular walaupun belum diketahui secara pasti. Untuk dapat mengurangi risiko penularan pada alternatif ibu menyusui secara langsung, ibu harus menjaga jarak dengan bayinya pada saat tidak menyusui.

Pada kondisi ini, ibu dapat menghubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan layanan konseling menyusi, dukungan dasar psikososial menyusui dan dukungan Praktik Pemberian makan Bayi dan Anak (PMBA) melalui telepon atau media komunikasi lainnya. Jika ibu tidak mampu untuk memerah ASI, maka ibu dapat menghubungi tenaga kesehatan.

Ibu dapat berkonsultasi mengenai keadaannya melalui media komunikasi yang tersedia. Pemberian ASI melalui donor ASI hanya disarankan jika pelaksanaannya berada dalam pengawasan petugas kesehatan. Selain itu, bayi juga dapat diberikan pengganti ASI dengan tetap berada dalam pengawasan tenaga kesehatan. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry