Fifi Khoirul Fitriyah, S.Pd., M.Pd – Dosen FKIP

ORANG tua saat ini sudah sangat pandai dan selektif memilih  sekolah untuk anaknya. Media brosur dan alat promosi lainnya bukan lagi hal signifikan yang mempengaruhi daya tarik terhadap pemilihan sekolah putra-putri mereka dalam menentukan masa depan anaknya di masa mendatang.

Secara umum terdapat tiga pilar utama yang sangat fundamental dan tidak dapat dicapai secara instan bimsalabim seperti layaknya Bandung Bondowoso ketika membangun candi untuk Roro Jonggrang.

Butuh proses untuk untuk mendapatkan suatu konsep dan sistem ideal dalam pengelolalan suatu sekolah diantaranya yaitu: aktivitas sekolah yang bersekinambungan, fasilitas sekolah yang mumpuni, manajemen sekolah yang profesional.

Dari tiga pilar utama yang telah dijelaskan diatas terdapat satu faktor yang sangat utama dan dapat berpengaruh terhadap dua faktor lainnya. Hal tersebut adalah berkaitan dengan manajemen sekolah yang profesional.

Apa saja yang harus dipenuhi dalam menciptakan suatu manajemen sekolah yang profesional dan bagaimana strategi untuk meraih kualitas sekolah yang jempolan.

Manajemen Pendidikan di Berbagai Negara

Di Amerika, misalnya manajemen sekolah secara umum di arahkan pada pengembangan karir sejak dini. Ada tiga fokus utama dalam manajemen sekolah di Amerika, yakni: (1) siswa diajak untuk menganalisis jenis-jenis pekerjaan yang sesuai dan membuat suatu industri kecil, (2) siswa diajak untuk mengeksplorasi, mengukur, dan mengembangkan keterampilan leadership mereka melalui memimpin dalam indutri kecil yang mereka telah buat.

 (3) mengembangkan rencana strategis pribadi untuk mencapai kemampuan kepemimpinan yang matang dan tujuan karir mereka (Rubens, et al., 2018). Bisa kita lihat pendidikan di Amerika juga menjadi Barometer perkembangan dalam dunia pendidikan.

Titik tekan yang harus dipersiapakan untuk menghasilkan generasi yang mumpuni adalah dengan menggembleng peserta didik melalui kemampuan kepemimpinan mereka dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun.

Berbicara mengenai keberhasilan pendidikan tentu tidak boleh melupakan satu negara kecil di Eropa Utara dan sampai saat ini masih menjadi rujukan dunia dalam membuat grand design keberhasilan pendidikan.

Yah Finlandia, negara berpenduduk 6 juta jiwa itu sangat masyhur dengan kemajuan pendidikannya. Finlandia kerap menjadi rujukan para pemerhati pendidikan. Tidak terkecuali di Indonesia. Beberapa hal tentang sistem pendidikan di Finlandia dapat kita pelajari bersama.

Anak-anak Finlandia belum disekolahkan sebelum 7 tahun. Orang Finlandia percaya, anak-anak bisa belajar dan mengembangkan diri melalui bermain, berimajinasi dan bersosialisasi dengan usia sebanyanya. Karena itu, masa pra-sekolah di Finlandia, yang dimulai pada usia 5 tahun, lebih menekankan pada bermain dan bersosialisasi.

Selain Amerika dan Findlandia, Australia juga salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Selama satu setengah dekade terakhir, sistem manajemen di sekolah-sekolah di Australia berupaya untuk mengurangi perilaku-perilaku siswa yang tidak baik.

Hasil-hasil penelitian menemukan bahwa pendekatan Whole School Management lebih efektif dalam mengatasi masalah perilaku siswa dibandingkan dengan praktik individu guru.

Peneliti bidang pendidikan dari Macquarie University, Australia dalam penelitiannya menemukan Whole School Behavior Management yang berfokus pada manajemen perilaku siswa di sekolah telah berhasil dalam menurunkan perilaku bermasalah siswa-siswa di Australia (Nobile, 2015).

Kepemimpinan yang Menakutkan

Sayangnya, cerita manis keberhasilan dalam dunia pendidikan seperti negara Amerika dan Finlandia seperti diatas langka untuk kita temui di Indonesia. Permasalahan pendidikan di Indonesia sangatlah komplek bagaikan benang kusut yang harus diuraikan.

Pernahkah anda mendapati suatu kasus ketika memasuki ruangan yang pada awalnya para guru tampak seru dengan percakapan mereka, tiba-tiba terdiam saat mereka mendengar langkah kaki yang kedengaran sangat familiar? Atau pernahkah anda mendapati seorang guru yang tampak berubah pucat saat kepala sekolah atau ketua yayassan memanggil namanya dan mengajaknya untuk berbicara sebentar.

Hal tersebut merupakan beberapa contoh indikasi bahwa sistem manajemen yang dikelola di sekolah berbasis “rasa takut”. Perasaan yang menyelimuti para guru yang ada di sekolah tersebut. Kehadiran Kepala Sekolah, Pengawas dan pemerhati pendidikan untuk melakukan supervisi sekolah dan supervisi kelas justru menjadi momok tersendiri bagi mereka.

Faktanya manajemen berbasis sekolah yang diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan justru berubah menjadi manajemen sekolah berbasis rasa takut. Manajemen berbasis rasa takut masih menjadi praktik yang umum dan ketika hal tersebut dikomparasikan dengan jawaban kepala sekolah ketika melalukan Focus Group Discution (FGD ).  Mereka menyatakan nyaman dengan praktik ini serta hal ini mereka anggap untuk dapat mngoptimalkan kineja guru untuk mencapai standart yang diinginkan oleh Kepala Sekolah.

Apa sebenarnya dampak buruk yang terjadi jika manajemen berbasis rasa takut ini dipelihara dan menjadi tradisi kepemimpinan di suatu sekolah? Faktanya, seseorang yang bekerja dengan didasari rasa takut akan melakukan pekerjaannya sebatas secukupnya agar tidak dipecat. Kinerja yang biasa-biasa saja menjadi hal yang umum dan lumrah di manajemen berbasis rasa takut.

Padahal, manajemen yang sukses adalah manajemen yang mampu menggerakkan “kebersamaan” dari para guru dan stakeholeder tekait lainnya. Kepala sekolah, Pengawas, Guru, Orang tua siswa karyawan sekolah harus berkolaborasi aktif di dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif yang berorientasi untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Bagi mereka yang memiliki keunggulan biasanya juga tidak akan mampu bertahan lama dalam sekolah yang mengedepankan manajemen rasa takut.

Kepala Sekolah adalah aktor kunci dalam penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dalam MBS, peran kepala sekolah adalah EMASLIM (Edukator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, Motivator).

Kepala Sekolah merupakan penentu utama dalam berhasil tidaknya penerapan MBS, sebab Kepala Sekolah adalah pihak yang memimpin pelaksanaan program sekolah. Namun demikian, guru dan komite sekolah juga memiliki peran yang sentral supaya sekolah berhasil menerapkan MBS. Faktor yang paling berperan dalam keberhasilan penerapan MBS adalah kerjasama antara ketiga pihak tersebut.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ketika dapat dijalankan secara utuh maka akan berdampak pada hasil belajar siswa secara optimal. Namun yang terjadi saat ini di Indonesia, MBS hanya masih sebatas jargon karena pemerintah hingga kini belum memandirikan sekolah-sekolah untuk memanajemen sekolah masing-masing secara utuh.

Ibarat kata, disuruh berlari tetapi salah satu kaki kita diinjak sehingga stagnan. Penyelenggaraan MBS secara utuh, didukung dengan figure kepala sekolah dengan leadership yang bagus, maka tujuan pendidikan diyakini akan berhasil secara maksimal. Selain itu juga mampu memanfaatkan keunggulan lokal demi tercapainya tujuan pendidikan tersebut. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry