Tampak H Nur Hadi, ST (paling kanan) dalam sebuah acara. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Sekjen PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah), H Nur Hadi ST mengaku prihatin mendengar pidato ‘Malapetaka’ KH Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU di Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, tempo hari, tentang kesenjangan NU kultural dan struktural.

“Kalau Kiai Ma’ruf menganggap kesenjangan itu sebagai melapetaka karena kultural NU tidak mendukungnya, saya justru melihat kesenjangan ini sudah mengancam ukhuwah nahdliyah sekaligus mengancam NU sebagai jamiyyah diniyyah,” tegas Cak Nur panggilan akrabnya kepada duta.co, Minggu (16/9/2018).

Sekarang, jelas pengusaha otomatif ini, pertahanan tinggal di nahdliyin (kultural). Hampir seluruh pengurus NU terjebak politik praktis. Minimal mereka tidak mampu berbuat apa-apa menyaksikan semua itu.

NU Sudah Dikepruk Kepalanya

“Diambilnya Kiai Ma’ruf sebagai Cawapres, disusul ‘drama politik’ struktural NU yang disampaikan Pak Mahfud MD, ini sebuah gambaran pengambilan paksa. NU sudah dikepruk kepalanya. Sekarang sulit berharap kepada struktural untuk membenahi organisasi,” jelasnya.

Cak Nur kemudian usul, para kiai yang masih cinta dengan jamiyyah ini, segera berkumpul. Tidak perlu bicara Capres-Cawapres, tetapi bicara masa depan NU dalam menghadapi realita politik seperti ini.  “Ini emergensi, darurat. Jangan berharap kepada struktural, titik,” jelasnya.

Dunia medsos NU pun, kini banjir keprihatinan. Salah satunya muncul catatan dari Abu Atiqah yang beredar sejak kemarin di WAG. Judulnya, ‘NU Struktural dan  NU Kultural di Pilpres 2019’. Dia menyuguhkan enam catatan.

Berawal dari sambutan KH Maruf Amin  yang mengatakan,” ..Ini (pemisahan NU kultural dan struktural) Malapetaka saya kira.Saya datang kesini memang ingin mendapatkan dukungan, jangan sampai saya diposisikan sebagai NU struktural, kemudian NU kultural tidak mau mendukung saya…”.

Dengan kata lain  ‘malapetaka jika tidak di dukung oleh NU kultural’ ini pesan kuat dari pernyataan Kiai Ma’ruf agar struktur dan kultur NU menyatu mendukungnya.

“Secara tidak langsung beliau mengisyaratkan bahwa ‘struktur NU tidak mencukupi, maka kekuatan kultur NU harus dirangkul, karena kekuatan riil ada di NU kultural’ terutama untuk menaikkan keterpilihan,” demikian Atiqah.

Selanjutnya dia melempar enam kemungkinan:  Pertama, Kiai Ma’ruf  nampaknya sadar bahwa elit struktur NU dianggap tidak mampu mendulang suara, dan ini releven dengan survei LSI bahwa ketua umum PBNU saja hanya didengar oleh 2% dari warga NU, maka mendekati kultur  dan berusaha menghilangkan dikotomi (kultur dan Struktur) adalah langkah strategis.

Kedua, Kiai Mar’uf melihat bahwa ‘Struktur NU merupakan bagian dari partai tertentu’ sementara publik melihat watak partai terkesan prakmatis dan transaksional, ‘konsekwensinya elit struktur NU dianggap oleh warga NU sama darinya’. Maka mendekati kultural NU sangat urgen untuk menepis imeg tersebut.

Ketiga, Kiai Ma’ruf memahami ‘bahwa dikalangan struktur tidak bulat’, maka dukungan kekuatan kultural menjadi keniscayaan untuk konsolidasi mencapai kemenangan.

Keempat, Kiai Ma’ruf mendekati kiai kultur karena ketika pilkada Jatim, kiai kiai kultur  bersedia mengeluarkan dana sendiri, ‘sementara struktur akan bergerak kalau ada syaiun syaiun dll.’

Kehilangan Legitimasi

Kelima, Kiai Ma’ruf nampaknya sadar struktur PBNU hasil muktamar Jombang ‘tidak mempunyai legitimasi moral dihadapan warga NU’, maka kekuatan kultural NU menjadi harapan untuk mencapai kemenangan.

Keenam, Kiai Ma’ruf dapat menangkap kebatinan ‘warga NU kultural yang mayoritas kecewa PHP atas Mahfud MD’, maka mendekati kultural NU  menjadi pilihan untuk mengobati kekecewaan.

Ini lah beberapa spekulasi, mengapa  Kiai Ma’ruf memunculkan istilah ‘Malapetaka’ dikotomi tersebut dan secara tidak langsung juga memperlihatkan ‘bahwa  kekuatan struktur NU jika tidak ditopang NU kultural hanyalah kekuatan semu bukan?’.

Membaca spekulasi itu, Cak Nur mengaku, setuju. ”Kalau ini dibairkan, sama dengan kita rela NU diacak-acak kepentingan politik praktis. Sudah dikepruk kepalanya, dikuliti buntutnya. Sekarang bukan waktunya wacana, saya usul, melalui Gus Solah (KH Salahuddin Wahid red.) kiai-kiai kultural bisa urun rembuk menyelamatkan organisasi ini,” tegasnya. (mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.