
Oleh M Husein Sanusi*
JAM sudah menunjukkan pergantian hari, sekitar pukul 01.30 WIB di penghujung Agustus 2026. Di sebuah rumah sederhana pojokan perempatan Kota Jombang, sekitar dua kilometer dari arena Muktamar NU ke-36, KH. Imam Jazuli terlihat gelisah. Matanya beberapa kali menatap layar ponsel yang tak henti-hentinya berdering—mungkin sudah ratusan, bahkan ribuan kali selama tiga hari beliau berada di Jombang.
Beliau benar-benar kurang istirahat. Di saat dinamika dan intrik politik Muktamar sedang hangat-hangatnya, Kiai Imjaz justru sibuk melayani sekitar 1.000 kiai dan bu nyai yang datang khusus untuk menimba ilmu tentang tata kelola pesantren dalam acara yang dikemas dalam bentuk workshop transformasi pesantren. Belum lagi kehadiran sekitar 500 jamaah yang mengikuti pengijazahan Dalailul Khairat. Praktis, dalam dua hari menjelang pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU, Kiai Imjaz telah menemui tak kurang sekitar seribuan kurang lebih jamaah Nahdliyin, termasuk mengonsolidasikan para alumni Timur Tengah.
Di tengah keheningan dini hari itu, beliau tiba-tiba mengajak kami bergerak ke arena Muktamar. Sontak kami yang mendampinginya terkejut. Beliau seolah tak kenal lelah. Namun, raut wajah tak bisa berbohong—kantung mata yang menghitam dan mengendur menandakan keletihan yang amat sangat. Langkah kakinya memang tetap tegap, meski sepanjang hari beliau sudah berkali-kali meminta para asatidz memijat kakinya yang pegal.
Kami tak berani menyarankan beliau untuk beristirahat. Siapapun yang mengenal Kiai Imjaz pasti paham betul karakternya: jika sudah memiliki tekad, beliau akan memperjuangkannya sepenuh hati, sementara hasilnya sepenuhnya dipasrahkan kepada Sang Pencipta. Tak tega membiarkan beliau pergi sendiri, dengan sisa-sisa tenaga dan mata yang berat, kami bersama beberapa asatidz bergegas mengawal.
Karena akses ke lokasi Muktamar dibatasi dan hari kian larut, mobil Range Rover yang biasa beliau tumpangi terpaksa diparkir. Kami melanjutkan perjalanan menembus dinginnya malam Jombang menaiki bentor (becak motor) dan motor roda dua.
Setibanya di lokasi, proses penghitungan suara sedang berlangsung hangat. Beliau duduk menyimak setiap perolehan angka dengan cermat bersama Gus Ipang Wahid. Beliau bertahan di sana hingga azan subuh berkumandang, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke penginapan.
Satu jam sebelum Tatib pemilihan ketum disahkan, kabar mengejutkan memang sempat menghentak arena Muktamar. Nama Kiai Imjaz tiba-tiba melejit sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PBNU dan meramaikan berbagai media nasional. Munculnya nama beliau cukup mengejutkan publik karena sebelumnya tidak bersedia dideklarasikan, meski di beberapa survei independen nama beliau sebenarnya sempat berada di jajaran atas.
Alasan lain Kyai Imjaz tidak Deklarasi jauh-jauh hari karena komitmen menghormati pencalonan Gus Yusuf dan Gus Salam Sohib. Gus Yusuf adalah sahabat dekat dan juga wali santri pesantren Bina Insan Mulia dan sesama alumni Lirboyo. Sementara Gus Salam juga sahabat karib, teman seperjuangan di MLB.
Namun ketika Tatib disahkan dan Gus Yusuf terganjal karena masa Iddah Politik dan Gus Salam terganjal karena aturan organisasi, Kyai Imjaz pun menyatakan siap dicalonkan, menjelang 12 jam pemilihan yang disampaikan langsung oleh Gus Ipang Wahid. Meski nama keduanya ternyata juga masih muncul dalam pemungutan suara.
Hasil akhir penghitungan suara mencatat beliau memperoleh 22 suara. Bagi sebuah pencalonan yang bergerak secara alami tanpa persiapan mesin politik yang massif seperti kandidat lain, raihan suara tersebut merupakan sebuah pencapaian yang sangat bermakna dengan hanya persiapan sekitar 12 jam sebelum pemilihan Ketum PBNU.
Kini, riuk-pukuk Muktamar telah usai. Apakah Kiai Imjaz kecewa dengan hasil tersebut? Jawabannya tegas: TIDAK. Bagi beliau, jabatan Ketua Umum PBNU hanyalah sebuah simpul struktural, sementara inti dari perjuangan adalah khidmah tanpa batas.
Keteguhan sikap dan kedewasaan berorganisasi itu terpancar jelas melalui deretan pesan yang beliau bagikan kepada umat seusai perhelatan:
“Apapun hasilnya kita harus berlapang dada dan berhusnudzan, NU akan lebih baik siapapun pemimpinnya. Saatnya menatap kedepan & lakukan perbaikan semampu yang kita bisa!!”
Muktamar NU telah Usai, Saatnya rekonsiliasi, konsolidasi SDM dan Menyatu kembali, semua fokus khidmah & berkontribusi kembali, klo masih emosi, menebar kebencian dan marah2 apa manfaatnya?
Sampai kapan menebar kebencian & fitnah, merendahkan sebagian kiai yang beda pilihan, mohon jaga Marwah semua kiai, Jempolmu harimaumu.
Walaupun calon yang di dukung KALAH, tapi AKHLAK SANTRI harus dijaga apalagi ke KIAI2 SEPUH, berhenti menghujat, menghina dan memfitnah tanpa bukti. Jika ada perselisihan antar mrk, kita DIAM lebih lebih baik.
“Saya bangga menjadi Warga NU, walaupun ada pihak yang terus berupaya mendegradasi ormas NU baik dari dalam maupun dari luar, I love NU, kamu Gmana ?”
Kiai Imjaz mengajarkan nilai utama seorang santri: kelapangan dada, penghormatan tinggi kepada para kiai sepuh, serta keteguhan untuk terus mengabdi bagi Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dalam ruang khidmah yang tak terbatas.
Mari kita kawal kepemimpinan Kiai Miftah dan Gus Kikin untuk perjalanan NU 5 tahun ke depan.





































