
SURABAYA | duta.co – Sekretaris DPRD Provinsi Jawa Timur, Moh. Ali Kuncoro memaknai Hari Pahlawan 10 November sebagai momentum untuk meneladani semangat perjuangan, keberanian, pantang menyerah, serta sikap rela berkorban sesuai konteks zaman.
“Hari Pahlawan itu adalah semangat kejuangan dan nasionalisme. Generasi muda harus memiliki spirit untuk terus menjadi lebih baik,” ujarnya, pada Jumaat (7/11/2025).
Ali menekankan, pentingnya kebiasaan melakukan perubahan kecil namun berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut konsep Kaizen sebagai contoh semangat perbaikan diri secara konsisten.
“Kalau mengadopsi semangat Kaizen, setiap hari kita harus melakukan perubahan ke arah kebaikan, meskipun hanya 1 persen. Lama-lama perubahan itu akan membawa kita menuju kesempurnaan,” imbuhnya.
Selain itu, ia juga berpesan agar para pemuda tidak mudah berpuas diri. Menurutnya, kemampuan untuk terus belajar dan membuka ruang pengetahuan baru menjadi kunci perkembangan diri.
“Ibarat gelas, pikiran kita harus selalu terisi setengah saja. Jika terisi penuh, kita merasa sudah tahu segalanya. Itu justru awal dari kehancuran,” tegasnya.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus digitalisasi, Ali mendorong generasi muda untuk meningkatkan kemampuan literasi digital sekaligus memiliki kebanggaan terhadap produk dalam negeri.
“Kita harus menyesuaikan dengan tantangan era digital. Tingkatkan literasi digital, dan banggalah terhadap produk dalam negeri sebagai bentuk nyata cinta tanah air,” ujarnya.
Lebih jauh, Ali menyoroti peran strategis pemuda dalam menghadapi bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Dengan komposisi 70 persen penduduk berusia produktif, ia meyakini pemuda merupakan kekuatan utama dalam menentukan arah bangsa.
“Indonesia diprediksi menjadi bangsa besar pada 2045. Kita harus keluar dari middle income trap dan mampu sejajar dengan negara maju. Kuncinya ada pada anak muda. Dari masa ke masa, pemuda selalu menjadi lokomotif perubahan mulai dari Sumpah Pemuda, perjuangan Bung Tomo 10 November, Proklamasi, hingga Reformasi,” jelasnya.
Ia pun mengajak pemuda untuk berpikir global, adaptif, dan berdaya saing, namun tetap berakar pada nilai nasionalisme. “Pemuda harus siap menghadapi tantangan global dan keluar sebagai pemenang. Sejarah sudah membuktikan, pemuda selalu menjadi penentu arah bangsa,” pungkasnya. (rud)





































