Wakil Rektor 3, drg Umi Hanik melihat keripik pisang buatan mahasiswa KKN kelompok 24 di Desa Kedamean, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, Kamis (4/8/2022). DUTA/ist

GRESIK | duta.co – Desa Kedamean, Kecamatan Kedamean, Kabupaten Gresik, dikenal sebagai penghasil pisang Cavendish.

Selama ini pisang itu dijual petani ke tengkulak langsung di kebun dengan harga Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu per kilogram sesuai grade-nya. Sedangkan yang tidak masuk grade ditinggal di kebun dan jadi limbah. Padahal sebenarnya pisang itu masih layak konsumsi.

Tiga tahun kondisi itu terjadi, hingga akhirnya di pertengahan Juli 2022, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di desa itu. Mahasiswa dari berbagai program studi itu melihat banyak pisang cavendish yang dibuang karena tidak dianggap tidak layak.

Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok 24 itu mencari acara agar pisang-pisang tidak terbuang dan bisa menghasilkan uang bagi warga sekitar.

Tiara Indrawati, mahasiswa yang bertugas di bidang pemberdayaan UMKM mengaku mencari referensi olahan pisang. “Ada banyak referensinya yakni sale pisang, keripik pisang dan sebagainya. Tapi pisang jenis ini tidak cocok dibuat sale dan lebih cocok dibuat keripik,” ujarnya.

Untuk membuat keripik pisang, mahasiswa malakukan beberapa kali ujicoba hingga berhasil. “Pisang harus yang sudah tua tapi kulitnya masih hijau. Dan mengirisnya pakai alat khusus tidak bisa pakai pisau. Dan mencucinya juga harus melewati beberapa tahapan,” jelasnya.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Beberapa kali percobaan, akhirnya jadilah keripik pisang. Tidak hanya memproduksi, tapi keripik itu dikemas dan diberi label, Kepike. Bahkan mahasiswa membantu menjual secara online dan dallam waktu dekat akan membuka akun di market place.

Mahasiswa KKN mempraktikkan cara mengolah keripik pisang cavendish. DUTA/ist

Amin Tohari, petani sekaligus pengepul pisang cavendish di Kedamean mengaku senang adanya mahasiswa KKN Unusa di desanya. Sehingga limbah pisang yang semula dibuang, bisa diolah menjadi produk yang bernilai rupiah.

“Saya sebelumnya tidak terpikir untuk membuat keripik pisang. Tapi dengan datangnya mahasiswa Unusa, pikiran saya baru terbuka,” ungkap pensiunan bank BUMN ini.

Diakui Amin, setiap panen, dia menghasilkan 500 tandan pisang di mana 10 persennya dibuang alias tidak layak jual. “Padahal, itu bisa diolah,” tukasnya.

Dia mengamati, dari lima kilogram pisang cavendish mentah, bisa menghasilkan satu kilogram keripik dengan biaya produksi sekitar Rp 20 ribu. “Jualnya kan Rp 50 ribu per kilogram keripik, jadi cukup lumayan hasilnya,” jelasnya.

Kehadiran mahasiswa Unusa, kata Amin, sungguh membuat peluang bisnis pisang cavendish ini lebih terbuka lebar.

Wakil Rektor 3 Unusa, drg Umi Hanik mengaku kagum dengan apa yang dilakukan mahasiswa KKN Unusa di Desa Kedamean itu. Kehadiran mahasiswa benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. “Kami senang dengan keberhasilan ini. Sungguh beranfaat bagi warga,” tukas Umi. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry