

Ide inovasi ini bermula dari hobi Aditya mendaki gunung. Ia sering melihat pendaki meminum air sumber tanpa mengetahui tingkat kebersihan dan kandungan zat di dalamnya.
“Kita tidak tahu air tersebut benar-benar bersih atau tercemar tanah. Dari situ muncul ide membuat alat pendeteksi,” ungkap Aditya, dikutip Rabu (11/2/2026).
Perangkat ini bekerja menggunakan mikrokontroler ESP32 yang mengintegrasikan dua sensor utama. Sensor pH mengukur keasaman, sementara sensor turbidity mendeteksi tingkat kekeruhan atau partikel kotoran.
Hasil pengukuran tampil otomatis pada layar LCD. Sistem akan menginformasikan status kelayakan air berdasarkan standar pH netral antara 6,5 hingga 8,5 serta tingkat kejernihan.
Awalnya riset ini fokus pada air pegunungan. Namun, atas arahan dosen pembimbing Kukuh Setyajid, fokus dikembangkan ke air minum kemasan dan isi ulang yang lebih relevan.
“Atas arahan pembimbing dan penguji, penelitian kemudian dikembangkan ke arah pengujian kualitas air minum kemasan dan air isi ulang yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat luas,” katanya.
Tantangan teknis terbesar terletak pada proses kalibrasi sensor. Aditya harus menyesuaikan hubungan tegangan listrik dengan nilai pH agar hasil pembacaan data memiliki akurasi tinggi.
Inovasi ini bertujuan memberikan kepastian data bagi konsumen air minum. Kualitas air kini tidak lagi ditentukan berdasarkan asumsi visual, melainkan melalui pengujian parameter yang terukur.
“Dengan adanya data pengukuran yang valid, kualitas air tidak lagi hanya berdasarkan asumsi, tapi dari hasil pengujian yang terukur,” sebutnya.
Aditya berharap teknologi ini terus dikembangkan sesuai standar industri. Kesadaran masyarakat terhadap kualitas air yang dikonsumsi perlu didukung oleh ketersediaan alat uji yang praktis. ril/lis