SAMBUT: Fitria Rahmawati, mahasiswa Prodi Manajemen UMG disambut warga Dalako di Sulut dalam misi ENJ 2017. Duta/Humas UMG

GRESIK |duta.co – Perawakannya boleh mungil, namun nyali Fitria Rahmawati, mahasiswa program Studi (Prodi) Manajemen, Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ini begitu besarnya untuk menaklukkan Indonesia. Bersama sejumlah pemuda mereka melakukan tugas mulia dengan melakukan aksi nyata membawa Indonesia menuju poros maritim dunia.

“Bersama 25 pemuda, dan saya satu-satunya yang dari Jawa, kita melakukan tugas mulia dengan aksi nyata menuju poros maritim dunia melalu Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2017 di Sulawesi Utara (Sulut),” ungkapnya.

Tia, begitu gadis asal Gresik ini biasa disapa, lantas menjelaskan ENJ 2017 di Kampung Dalako, Kecamatan Tatoareng, Kepulauan Kahakitang, merupakan kegiatan besar yang menjadi salah satu awalan bagi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menuju poros maritim dunia.

“Caranya berusaha meningkatkan konektivitas di pulau-pulau terdepan, terpencil, dan wilayah perbatasan, melalui peningkatan akses terhadap kebutuhan bahan pokok sehari-hari, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, sarana dan prasarana, serta percepatan pembangunan di wilayah pulau-pulau dan perbatasan,” tegasnya.

Dan Tia benar-benar meraskan beratnya menaklukkan alam menuju kampung Dalako. “Empat jam saya beserta tim terombang-ambing di atas kapal. Petang hampir menjelang ketika kami sandar di pelabuhan Kahakitang,” ungkapnya.

Dan perjalanan ke Balai Desa Dalako tidak segampang yang gadis manis ini pikirkan. Bayangkan dia harus menaiki anak tangga. “Saya tidak sempat menghitung. Yang pasti cukup membuat saya dan tim berhenti beristirhat beberapa kali karena kelelahan. Jalanan terjal membuat kami harus ekstra berhati-hati,” ceritanya.

Namun bagi Tia perjalanan yang melelahkan itu terbayar lunas begitu masyarakat Dalako menyambutnya bak pahlawan dengan acara adat dan tari-tarian anak desa setempat. Hal itulah yang membuat Tia bersemangat ketika dia berusaha menyosialisasikan tentang apa itu limbah, bagaimana cara menangani limbah hingga memaparkan ilmu tentang daur ulang sampah bekas.

Tak cukup hanya itu saja, Tia bahkan memberikan pelatihan membuat dompet koin dari karton susu bekas dengan harapan setelah mendapatkan ilmu tersebut ibu-ibu disana bisa membuat usaha ekonomi kreatif dari karton bekas.

“Hal yang membuat saya bahagia adalah selain bisa berbagi ilmu, antusiasme dari ibu-ibu untuk membuat produk kreatif begitu besarnya. Bahkan ada permintaan penambahan waktu pembelajaran untuk daur ulang karena mereka sangat ingin tahu banyak ide tentang daur ulang tersebut,” ujarnya.

Dalako yang terletak di Pulau Kahakitang menurut Tia kondisinya sangat mengenaskan. Sarana kesehatan di pulau ini hanya berupa 1 unit Puskesmas dan 5 unit Posyandu. Sarana pendidikan hanya 2 Sekolah Dasar (SD), sehingga untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi harus menyeberang pulau.  “Bisa dibayangkan begiti beratnya perjuangan mereka untuk menempuh pendidikan. Bahkan sebagian ada yang menyerah,” ungkapnya.

Namun Tia bersama tim terus memotivasi anak-anak Dalako bahwa pendidikan itu sangat penting. Untuk itulah Tia sangat mendukung upaya pemerintah mempercepat pemerataan infrastruktur di pulau terpencil Indonesia. “Karena mereka juga warga negara Indonesia yang berhak disentuh pembangunan. Saya benar-benar cinta Indonesia dan berharap Indonesia makin jaya,” tandasnya.  rum

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.