SISTEM OTOMATIS - Leonard Christopher Limanjaya Dan Sugiarto Wibowo Mahasiswa semester tiga program studi Teknik Elektro UK Petra mempresentasikan karya mereka berupa  prototype Sisterm Evakuasi Gempa Yang diberi nama ( ECSYS) Earthquake Evacuation System saat Pameran Tugas Akhir Mata Kuliah Automasi 1 di Selasar Gedung P Kampus UK Petra Surabaya, Selasa (3/12). DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co – Indonesia dikenal sebagai negara yang banyak terjadi bencana. Kebakaran, banjir, gunung meletus hingga gempa selalu terjadi di sepanjang tahun di negara ini.

Karena itu, program studi Teknik E lektro Fakultas Teknik Industri Universitas Kristen (UK) Petra mengambil tema bencana ini untuk tugas akhir mata kuliah Teknik Elektro di semester gasal ini.

Selama enam hingga tujuh minggu, siswa jurusan ini mulai semester tiga dan lima ditugaskan membuat sistem otomatisasi yang berkaitan dengan bencana. Baik itu cara penanganannya atau antisipasi bencana.

Tugas ini dibagi dalam sepuluh kelompok yang masing-masing kelompok diikuti tiga orang mahasiswa. Setelah melalui penilaian dari dosen mata kuliah Teknik Elektro, Handy Wicaksono, 10 karya siswa itu dipamerkan di lobby Gedung P Kampus UK Petra, Selasa (3/12).

Handy di sela pameran mengatakan setiap tahun, mahasiswa Teknik Elektro memang harus menempuh program seperti itu yakni Automasi 1. Mereka dituntut untuk membuat sistem yang berjalan otomatis menggunakan sensor program kontroler.

“Tahun ini, diambi tema bencana karena Indonesia ini rentan mengalami bencana. Dan ternyata mahasiswa mengaplikasikannya dalam banyak hal yang di luar dugaan, peka terhadap bencana dan mencari solusinya. Saya puas dengan karya-karya mereka itu,” ujar Handy.

Salah satu karya mahasiswa adalah berupa  prototype Sisterm Evakuasi Gempa Yang diberi nama ( ECSYS) Earthquake Evacuation System. Ini adalah karya Leonard Christopher, Sugiarto Wibowo dan Thomas Ardi.

Mahasiswa semester tiga ini membuat sistem evakuasi gempa di dalam gedung. Mereka membuat lampu-lampu yang  bisa menyala saat terjadi guncangan gempa di atas 4 hingga 5 SR.

Lampu-lampu itu berfungsi sebagai penunjuk arah bagi penghuni gedung hingga ke titik evakuasi. “Biasanya saat terjadi gempa, penghuni gedung panik mau jalan ke arah mana walau pun sudah ada petunjuknya. Dengan lampu-lampu ini akan lebih dimudahkan,” tukasnya.

Lampu-lampu itu bisa melewati berbagai pintu yang ada sebagai jalan untuk keluar. Bahkan bisa mengarah pada balkon yang ada di gedung yang sudah dilengkapi plosotan untuk menurunkan penghuni gedung saat terjadi gempa.

“Alatnya bisa dikontrol dari satu sistem secara otomatis. Sangat membantu meminimalisir korban saat terjadi bencana gempa,” tandas Sugiarto Wibowo. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry