Dr. Agustin Widjiastuti, S.H., M.Hum., saat memaparkan materi mengenai diskriminasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada masyarakat dalam kegiatan penyuluhan hukum Mahasiswa Magister Hukum UPH Surabaya di Yayasan Penabur Benih Kasih Indonesia, Sabtu (9/5/2026).

SURABAYA | duta.co – Suasana hangat penuh kepedulian terasa di Yayasan Penabur Benih Kasih Indonesia, Sabtu (9/5/2026). Di ruangan sederhana tersebut, para guru, mahasiswa, hingga masyarakat umum duduk berdampingan mengikuti penyuluhan hukum mengenai diskriminasi dan Hak Asasi Manusia (HAM), isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari namun sering kali tidak disadari dampaknya.

Kegiatan bertajuk “Keterkaitan Realita Diskriminasi dengan HAM dalam Sistem Ketatanegaraan” itu digelar oleh Mahasiswa Program Studi Magister Hukum angkatan 2025/2026 Universitas Pelita Harapan (UPH) Surabaya dalam rangka Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah panitia dan narasumber, di antaranya Ruth, Agape, dr. Leo, serta Gracia yang bertugas sebagai ketua panitia sekaligus pembawa acara. Kehadiran mereka menambah suasana penyuluhan menjadi lebih hangat dan komunikatif.

Kegiatan ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang refleksi bersama mengenai bagaimana diskriminasi masih terjadi dalam berbagai bentuk di tengah masyarakat. Mulai dari perlakuan berbeda di dunia pendidikan, akses pelayanan publik, hingga tantangan perlindungan hak masyarakat di era digital yang semakin kompleks.

Melalui penyuluhan tersebut, para mahasiswa berupaya membawa persoalan HAM lebih dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Mereka tidak hanya membahas pasal dan teori hukum, tetapi juga mengangkat sisi kemanusiaan tentang pentingnya menghargai martabat setiap individu tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, agama, maupun status lainnya.

Ketua panitia kegiatan, Wening Anggun Sari, S.H., mengatakan kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian mahasiswa hukum untuk hadir langsung di tengah masyarakat sekaligus membangun kesadaran tentang pentingnya kesetaraan dan penghormatan terhadap HAM.

“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa diskriminasi bisa terjadi di sekitar kita, bahkan dalam hal-hal kecil yang sering dianggap biasa. Padahal dampaknya bisa melukai hak dan martabat seseorang,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).

Suasana diskusi berlangsung hangat dan penuh empati. Para peserta tampak aktif berbagi pengalaman dan pandangan mengenai perlakuan tidak adil yang masih sering ditemui di lingkungan sosial maupun pendidikan. Hal tersebut membuat penyuluhan tidak hanya menjadi kegiatan edukasi, tetapi juga ruang berbagi cerita dan kepedulian antarsesama.

Kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa Magister Hukum UPH Surabaya dengan Yayasan Penabur Benih Kasih Indonesia dalam memperkuat edukasi hukum berbasis kemanusiaan.

Penyuluhan tersebut dibimbing langsung oleh Dr. Dwi Putra Nugraha, S.H., M.H., dan Dr. Agustin Widjiastuti, S.H., M.Hum., yang turut memberikan pemahaman mengenai pentingnya implementasi HAM dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

Dr. Agustin Widjiastuti, S.H., M.Hum., menuturkan antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul terkait bullying, diskriminasi di lingkungan pendidikan, hingga persoalan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki yang masih sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketika para peserta mulai berani bercerita, kami menyadari bahwa isu HAM bukan sekadar teori hukum, tetapi tentang rasa sakit, ketakutan, dan harapan manusia untuk diperlakukan secara adil. Dari ruang sederhana ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa menghargai sesama adalah langkah awal mencegah diskriminasi,” ungkapnya.

Menurut para pemateri, perlindungan HAM tidak cukup hanya dituangkan dalam undang-undang, tetapi juga harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan kesadaran kolektif di tengah masyarakat.

Di akhir kegiatan, peserta diajak memahami bahwa menciptakan lingkungan yang adil dan bebas diskriminasi bukan hanya tugas pemerintah maupun aparat penegak hukum semata. Perubahan juga lahir dari kepedulian masyarakat dalam memperlakukan sesama manusia secara setara dan bermartabat.

Melalui penyuluhan ini, mahasiswa berharap semangat menghormati HAM dapat tumbuh mulai dari lingkungan terkecil, sehingga nilai-nilai kemanusiaan benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari.(gal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry