IDENTIFIKASI: Sejumlah mahasiswa Kedokteran Universitas Surabaya saat melakukan praktik pemeriksaan dahak (sputum) untuk mendeteksi adanya bakteri Tuberculosis (TBC). DUTA/Wiwiek Wulandari

SURABAYA | duta.co  – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (Ubaya) mengadakan praktik pemeriksaan dahak (sputum) untuk mendeteksi adanya bakteri Tuberculosis (TBC) pada manusia. Praktikum diselenggarakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran di Kampus Ubaya Surabaya, Kamis (21/2).

Penyakit TBC tergolong dalam penyakit menular yang banyak menyebabkan kematian dan masalah kesehatan bagi masyarakat di Indonesia.

“Menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia menduduki peringkat ke 2 dunia jumlah penderita TBC saat ini,” ungkap dr  Sawitri Boengas, Sp.M selaku Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Ubaya.

Hal ini menjadi perhatian khusus bagi dunia kesehatan dan dokter dalam mengidentifikasi secara dini penyakit TBC pada pasien.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran memiliki cara mengidentifikasi penyakit TBC dengan praktik pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum. Pemeriksaan ini merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh setiap dokter dengan mengacu pada Standar Kompetensi Dokter Indonesia dan melakukan prosedur laboratorium yang penting seperti keterampilan klinis pada blok respirasi.

Pada praktikum ini mahasiswa melakukan pemeriksaan pada 2 sampel dahak yaitu dahak pasien biasa yang disiapkan dari mahasiswa sendiri dan dahak pasien TBC yang sudah disiapkan oleh laboran.  Awalnya mahasiswa akan diberikan edukasi untuk menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan pengumpulan sputum.

Kemudian sputum akan dioleskan pada objek kaca untuk dilakukan tahap pewarnaan menggunakan Methylen Blue 0.3 persen dan Carbol Fuchsin 0.3 persen. Langkah berikutnya, mahasiswa akan mengidentifikasi spesimen sputum yang berkualitas.

Melalui tahap ini mahasiswa akan berlatih membuat dan membaca hasil sediaan apus dari sputum.  Tingkat kesulitan yang dihadapi mahasiswa adalah pada tahap mengidentifikasi bakteri.

“Kesulitan yang biasanya dihadapi mahasiswa yaitu belum terbiasa melakukan prosedur laboratorium dan belum terbiasa mengidentifikasi bakteri yang ukurannya sangat kecil di bawah mikroskop, sehingga memerlukan pembiasaan melalui praktikum seperti ini,” ujar dr Risma Ikawaty, PhD selaku Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Ubaya.

Dalam Laboratorium ini, mahasiswa dapat melakukan praktek identifikasi mikrobiologi dan parasitologi. Selain itu, Fakultas Kedokteran Ubaya juga telah dilengkapi 7 ruangan laboratorium. Ketujuh ruangan ini digunakan untuk 10 jenis keahlian yang berbeda yaitu Anatomi, Biokima, Histologi, Fisiologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Patologi Klinik, Patologi Anatomi, Farmakologi, dan Clinical Skills Lab. wik

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.