PONTIANAK | duta.co – Dalam upaya memperkokoh nilai-nilai kebangsaan di kalangan mahasiswa IAIN Pontianak, karena mereka mengemban misi pengamalan nilai-nilai ilahiyah dan memiliki peran vital dalam menjaga dan menegakkan fondasi agar senantiasa kokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kutipan tersebut dikutip dari narasumber Didi Darmadi, akademisi IAIN Pontianak, dalam sebuah paparan bertajuk Wawasan Kebangsaan: Peran Mahasiswa dalam Menjaga 4 Pilar Kebangsaan Perspektif Perguruan Tinggi Agama, yang menyoroti pentingnya integrasi antara nilai Ilahiyah dan kemanusiaan.

Didi Darmadi menguraikan pemaknaan 4 Pilar Kebangsaan melalui kacamata agama.

“Pancasila: Sila pertama dinilai mencerminkan nilai Tauhid dan kebebasan menjalankan syariat, sementara secara etika publik, Pancasila merupakan Kalimatun Sawa atau titik temu antar pemeluk agama di Indonesia. Kemudian UUD 1945, dipandang sebagai kontrak sosial (Mitsaqan Ghalidza) yang menjamin hak beragama dan keadilan hukum tanpa diskriminasi. NKRI dengan menjaga kedaulatan wilayah diyakini sebagai kewajiban dan wujud dari Hubbul Wathan Minal Iman (cinta tanah air sebagian dari iman). Bhinneka Tunggal Ika: Keragaman dipandang sebagai Sunnatullah (hukum alam) dengan tujuan agar manusia saling mengenal (Lita’arafu),” jelasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya integrasi ilmu dan nasionalisme, yaitu sinergi antara wahyu dan akal.

“Mahasiswa di Perguruan Tinggi Agama, khususnya IAIN Pontianak, penting untuk terus mengintegrasikan dalil-dalil agama dengan teori sosial-kebangsaan. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menangkal narasi yang membenturkan antara ketaatan beragama dan loyalitas pada negara, serta menanamkan pemahaman bahwa membela negara adalah bagian dari ibadah.”

“Mahasiswa sebagai penyambung lidah antara teks-teks sakral agama dan realitas keindonesiaan. Mahasiswa Pontianak diharapkan memiliki tiga karakteristik utama: Intelektual: Menguasai literatur keagamaan secara kritis, memiliki kedalaman akhlak sebagai basis integritas, peka terhadap realitas kemajemukan masyarakat.” papar Didi.

Lebih lanjut, Didi menyoroti moderasi beragama sebagai pilar utama yang mencakup sikap Tawasut (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (tegak lurus dan adil), serta Tasamuh (toleran). Nilai-nilai ini penting untuk menghadapi tantangan masa kini seperti radikalisme, hoaks, dan sikap apatis (indiferensi). Untuk itu mahasiswa harus terlibat aktif dalam mensosialisasikan dan mempraktikkan pilar-pilar kebangsaan.

“Sebagai solusi dan rencana aksi nyata, mahasiswa IAIN Pontianak perlu didorong untuk bergerak di berbagai lini, misalnya di bidang akademik dengan melakukan diskusi publik mengenai 4 pilar dari perspektif tafsir agama untuk menghasilkan pemahaman teologis yang inklusif. Dalam bidang digital dengan memproduksi konten moderasi di media sosial guna menurunkan sentimen intoleransi online, serta membudayakan Tabayyun (konfirmasi) untuk menangkal hoaks. Bidang sosial dengan mengadakan dialog lintas organisasi mahasiswa untuk membangun solidaritas antar kampus dan melakukan pengabdian masyarakat yang berfokus pada kerukunan umat,” ujar pengurus FKUB Kalbar.

Mahasiswa harus terus mengawal bangsa Indonesia agar selalu berada dalam jalur moderasi beragama, agar selalu bijaksana dalam gerak langkah mengawal bangsa ini dengan pesan-pesan ketuhanan.

“Tanpa pengawalan dari mahasiswa yang moderat, pilar kebangsaan dinilai rentan terhadap infiltrasi ideologi radikal. Karena mahasiswa IAIN Pontianak adalah jembatan untuk pengejawantahan nilai-nilai ketuhanan dalam memperkokoh pilar-pilar kebangsaan,” pungkasnya.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry