

SURABAYA | duta.co – Permasalahan pertanahan di Indonesia cukup pelik. Butuh waktu dan juga strategi. Ada dua kekuatan yang akan mampu untuk mengatasinya yakni politik dan kaum intelektual. Mahasiswa menjadi satu diantaranya karena mereka adalah bagian kaum intelektual.
Hal itu diungkapkan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN), Nusron Wahid saat menjadi pembicara dalam Kuliah Pakah di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Senin (26/5/2025).
Dikatakan Nusron, di Indonesia ada 192 juta hektar lahan, terdiri dari 120 juta hektar berupa hutan dan 72 juta hektar bukan hutan. “72 juta hektar itu bisa berupa perumahan, kebun, sawah, kampus dan banyak lainnya,” katanya. .
Permasalahannya, dari 72 juta hektar lahan, setelah ditelusuri 46 persennya dikuasai 60 keluarga dengan 4.600 perusahaan berupa PT (perseroan terbatas).
“Bentuknya dulu konsesi. Negara memberikan konsesi pada pihak-pihak yang dulunya hutan menjadi lahan perkebunan karet, tembakau, kepala sawit, kopi, kakao dan tebu serta lainnya. Ya kepada 60 keluarga itu,” ungkapnya.
Tujuannya konsesi itu untuk dimanfaatkan sehingga menciptakan multiplayer effect, pemerataan pendapatan dan distribusi. Namun kenyataannya hasilnya belum optimal.
Karena itu kata Nusron, konsesi ini perlu diubah. Jika dilakukan dengan cepat bisa melahirkan sebuah revolusi dan dampaknya terjadi konflik horisontal. Jika dilakukan step by step dengan menarik izin, maka ekonomi akan terhenti. “Satu-satunya dengan negosiasi. Silahkan tetap digunakan tapi harus melibatkan partisipasi plasmanya. Melibatkan rakyat sekitar, pertama 20 persen sampai angka 50 persen hingga 60-70 persen. Akan jadi kesetaraan,” jelasnya.
Koreksi mengenai konsesi ini kata Nusron harus dilakukan dengan kekuatan politik dan intelektual. Mahasiswa sebagai bagian kekuatan intelektual juga bisa mengatasi permasalahan itu.
“Semuanya harus didukung oleh rakyat agar bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat untuk pemerataan, keadilan dan kesejahteraan. Sehingga tingkat kesenjangan sosial tidak semakin meningkat,” tuturnya.
Kegiatan bertema Agilitas, Adaptabilitas, Kreativitas dan Inovasi: Tantangan Kepemimpinan Masa Depan itu dikatakan
Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie, untuk memenangkan persaingan di masa depan, seseorang tidak perlu menjadi yang terkuat atau terbesar, namun yang paling mampu beradaptasi.
“Semua sudah paham, memenangi masa depan itu bukan yang kuat, bukan yang besar. Tapi mereka yang mampu beradaptasi dengan perkembangan,” ujar Jazidie.
Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga kepribadian dan karakter meski terus menyesuaikan diri dengan perubahan. “Adaptif, tapi kehilangan karakter? No way, bukan yang itu,” kata Prof Jazidie. ril/lis