
SURABAYA | duta.co – Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto memiliki karakteristik yang unik dalam meminpin negeri ini. Dia bisa menjadi magnet di tengah demo buruh. Pidatonya di depan para butuh 1 Mei, begitu cair, mengalir dan natural.
“Sosok Prabowo menjadi momentum hari buruh, lebih menyerupai “presiden serikat buruh” sejati,” demikian disampaikan Doktor M Sholeh Basyari, Direktur Ekskutif CSIIS (Center for Strategic on Islamic and International Studies) kepada duta.co, Senin (5/5/25).
Pun tentang gonjang-ganjing ‘pembatalan’ mutasi di tubuh TNI, Presiden Prabowo juga tidak mau larut dalam isu ‘Matahari Kembar’. “Walaupun Letjen Kunto tak terlibat, tapi susah untuk tidak dikaitkan bahwa Letjen Kunto adalah Putra dari seorang Wapres yang secara tidak langsung mendukung upaya pemakzulan (Gibran),” kata pengamat politik Agung Baskoro kepada tribunnews.
Edy Mulyadi, wartawan senior dari Forum News Network (FNN) kepada duta.co, menegaskan, bahwa Presiden Prabowo tidak mau didekte orang lain dalam mutasi petinggi TNI. Karena itu, ia tidak segan-segan untuk menggagalkan ‘pencopotan’ Letjen Kunto Arief Wibowo dari jabatan Panglima Kogabwilhan I.
“Pembatalan pecopotan sebagai Panglima Kogabwilhan I menjadi Staf Khusus Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) bukti bahwa Presiden Prabowo tidak mau larut dengan intervensi luar. “Bau anyir sangat menyengat. Bahwa mutasi itu akibat cawe-cawe geng Solo,” demikian Edy Mulyadi.
Sosok Prabowo menjadi bahan penting dalam diskusi politik. Karakternya terlihat jelas ketika bertemu dengan ribua buruh. “Setidaknya tergambar dari tawaran Prabowo kepada para butuh tentang satgas PHK, serta sejumlah keberpihakannya pada nasib kaum buruh. Ini sangat penting dalam perjalanan kaum buruh,” tegas M Sholeh.
Ia bahkan menyebut sebagai momentum awal. Dalam sistem sosialis, buruh memainkan peran sentral dan memiliki posisi yang lebih kuat. Buruh tidak lagi dianggap sebagai sumber tenaga kerja yang dieksploitasi, tetapi sebagai bagian penting dari masyarakat yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kelompok lain.
“Sistem sosialis bertujuan untuk menghapus eksploitasi buruh dan memastikan bahwa hasil produksi digunakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat, bukan hanya pemilik modal. Apalagi presiden sempat melempar upaya untuk menghapus sistem outsourcing,” tegasnya.
Menurut Sholeh, buruh harus diakui memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Mereka tidak lagi dianggap sebagai kelas yang terpisah atau yang harus tunduk pada kepentingan pemilik modal.
“Dalam sistem sosialis, buruh, melalui negara atau organisasi buruh, memiliki kontrol atas alat-alat produksi. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil produksi digunakan untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat,” urainya.
“Buruh harus dijamin untuk mendapatkan upah yang layak dan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu, sistem sosialis juga menyediakan jaminan sosial dan layanan publik lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan buruh,” lanjutnya.
Di samping itu, urainya, buruh memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan politik karena mereka adalah kekuatan utama dalam masyarakat. “Serikat buruh dan gerakan buruh dapat berperan dalam mengamankan hak-hak buruh dan memengaruhi kebijakan pemerintah.
Buruh sering kali menjadi ujung tombak dalam perjuangan melawan sistem kapitalis dan eksploitasi yang mereka alami di bawah sistem tersebut,” tambahnya.
Singkatnya, lanjut dosen di sejumlah perguruan NU ini, dalam sistem sosialis, buruh memiliki posisi yang lebih kuat dan diakui sebagai bagian penting dari masyarakat. Mereka memiliki hak-hak yang sama, kontrol atas alat produksi, dan peran penting dalam pengambilan keputusan politik dan ekonomi.
Prabowo, jelas M Sholeh, tampak begitu enjoy pimpin Indonesia. Ini dibuktikan dengan kelakarnya empat kali macung presiden dan berhasil di kali keempat. Prabowo tidak terpengaruh oleh isu tentang matahari kembar, pertama. Kedua, Prabowo tidak memaksakan skema politiknya. hal ini tampak dari statemenya bahwa Kapolri dan Panglima TNI yang sama-ssma punya kemiripan namanya dengannya, masih bertahan dan tidak segera diganti.
“Ini sekaligus menepis isu bahwa waktu pertemuan Prabowo dan Megawati salah satu agendanya adalah mencopot Kapolri. Ketiga, Prabowo ini icon yang menggabungkan kapitalisme dengan sosialisme. penggabungan ini nampak dari Danantara (kapitalisme) dan koperasi merah putih, makan bergizi gratis serta sekolah rakyat (program sosialisme),” pungkasnya. (mky)




































