Prayitno Ramelan (kiri) bersama Indra Bambang Utoyo, Marsdya Pur Ian Santoso (mantan Kabais) dan Laksda Pur Bob Mangindaan, dalam diskusi kebangsaan (Foto: ramelanintelijen.net)

SURABAYA | duta.co – Salah seorang kiai kharismatik mengingatkan, bahwa, hari ini Indonesia dalam kepungan ‘Politik LB Moerdani’. Ini mengingatkan kita, bagaimana ‘kisah pahit’ umat Islam (dikuyo-kuyo) di era orde baru.

Sampai sekarang, nama Jenderal Leonardus Benjamin Moerdani atau akrab dipanggil Benny Moerdani, belum hilang dalam ingatan umat Islam Indonesia.

“Yang berani melawan ‘Politik LB Moerdani’ (saat itu) hanyalah Prabowo,” demikian salah seorang pengasuh pondok pesantren ternama di Jawa Timur, dalam diskusi kecil yang diikuti duta.co di Surabaya, pekan lalu.

Rivalitas Prabowo Vs Benny Moerdani (FT/tirto.id)

Hari ini, Rabu (15/5/2019) viral di media sosial tulisan panjang Marsda Pur Prayitno Ramelan, pangagum LB Moerdani melalui medianya ‘Ramalen Intelijen’. Judulnya bikin kejut: “KABAIS AKAN MENANGKAP PRABOWO KALAU MACAM-MACAM”.

Tulisan sebanyak 12.827 karakter itu ditutup dengan permintaan Luhut Binsar Panjaitan (LBP), agar media tidak memberitakan Prabowo dengan informasi yang tidak masuk akal. LBP tidak ingin Prabowo dibuai angin-angin surga karena pemberitaan yang tidak jelas sumbernya.

“Jangan bikin berita enggak jelas kepada Pak Prabowo. Kasihan, Pak Prabowo orang baik. Jangan kita memberikan angin sorga yang enggak masuk akal,” demikian Pray panggilan Marsda Pur Prayitno Ramelan mengutip permintaan Luhut di Jakarta, Rabu (8/5).

Pray memuji habis kehebatan LB Moerdani. Sayang tidak menyinggung (sedikit pun) bagaimana perasaan umat Islam saat itu. “Pak Benny jadi legenda intelijen Indonesia, penulis (Pray red.) pernah menjadi bagian, terlibat dalam operasi clandestine Luar Negeri dari Bais yang beliau design, sukses, hebat, rapih dan sukses. Jaringannya luas dan dipercaya serta disegani badan intelijen negara lain,” pujinya.

Petrik Matanasi, penulis beberapa buku sejarah, Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara, asal Balikpapan, 21 September 2018 menulis Seri Rivalitas Tentara ‘Prabowo vs Benny Moerdani: Perseteruan Menantu & Orang Kepercayaan’ di website Tirto.idhttps://tirto.id/prabowo-vs-benny-moerdani-perseteruan-menantu-orang-kepercayaan-c1ca

Petrik mengutip Kivlan Zen dalam buku Konflik dan Integrasi TNI-AD (2004: 70). Selama 1982 hingga 1985 Prabowo bertugas sebagai staf khusus Jenderal Benny Moerdani. Kivlan punya cerita seram soal Benny Moerdani, yang terkait juga dengan Prabowo Subianto.

“Sebagai staf khusus, Mayor Prabowo Subianto mendengar penjelasan tentang rencana menghancurkan gerakan-gerakan Islam secara sistematis […] namun, Prabowo Subianto merasa tidak cocok dengan rencana tersebut dan melaporkan langkah-langkah Benny kepada mertuanya, Presiden Soeharto, termasuk rencana Jenderal Benny Moerdani untuk menguasai Indonesia atau menjadi Presiden RI,” tutur Kivlan.

“Masih kata Kivlan, semula Soeharto tak percaya pada kisah menantunya itu, tapi Soeharto kemudian jadi tidak percaya juga kepada Benny Moerdani (hlm. 70-71),” demikian Petrik Matanasi.

Catatan Petrik ini, tidak disinggung oleh Marsda Pur Prayitno Ramelan. Pray justru menulis soal kelompok Islam Radikal yang ikut mendukung Prabowo. Mereka ini diketahui dari ciri-cirinya, memiliki kesadaran politik, pragmatis, kontekstual, dan orientasi kekuasaan, Jihad-Khilafah-Imamah-Baiat.

“Terbaca jelas dari dukungan Rizieq Shihab, pendiri Front Pembela Islam yang alumnus LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), yang berada di bawah naungan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyadh serta alumnus lainnya, Ja’far Umar Thalib, pendiri Laskar Jihad, Ahmad Heryawan, mantan gubernur Jawa Barat, dan Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal,” tulisnya.

Haruskah Abaikan Kejujuran?

Pray juga menyebut gerakan people power. “Greget saat ini adanya seruan dari Amien Rais dan Rizieq Shihab akan menggerakkan people power. Belum lagi beredar ancaman demo keras, menduduki KPU, nekat yang membuat deg-degan serta rasa takut masyarakat. Aparat keamanan mulai mengantisipasi akan menerapkan sangkaan makar,” tambahnya.

Sayang, dalam tulisan panjang itu, orang dekat LBP ini, sama sekali tidak mengkritisi proses Pemilu yang seharusnya jurdil (jujur dan adil). Padahal, menurut Rizal Ramli gerakan rakyat atau people power, itu ada karena didahului kecurangan.

“Kalau ada yang coba-coba curang bulan April nanti, itu akhirnya akan menghadapi people power. Saya mohon maaf harus menyampaikan ini,” tegas Rizal di sela-sela acara “Refleksi Malari Ganti Nahkoda Negeri?” di Kantor Seknas Prabowo-Sandi, Jalan Hos Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/1/2019) seperti dikutip repelita.com.

Jadi? Kecurangan dalam proses berdemokrasi jelas melahirkan kemarahan dari pemilik kedaulatan (rakyat). Memang boleh, tetapi, tidak boleh menghalalkan segala cara.  Bukankah ancaman itu juga pernah diteriakkan Jokowi pada Pilpres 2014 lalu?

Yang terang, kini muncul kekhawatiran, jangan-jangan umat Islam Indonesia saat ini, tengah berada di bawah tekanan kekuatan politik tertentu, sebagaimana yang terjadi pada era Benny Moerdani. Waallahu’alam! (tim,dtc)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.