SURABAYA | duta.co –  Masih ingat kalimat ‘nylekit’ Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam kampanye Pilgub Jatim lalu? Katanya: ‘Jangan pilih pemimpin yang Keminter’. Kalimat menyindir Khofifah Indar Parawansa ini, kini tak ada bekas.

Gubernur Jatim Khofifah dengan indahnya menerima rival politik di Pilgub Jatim dan ini mendapat apresiasi para pengamat. Ini disebutnya sebagai modal besar menata Jatim dan sekaligus kedewasaan politik Khofifah.

“Saya pikir apa yang diikhtiarkan bu Khofifah itu layak diapresiasi dan menunjukkan kedewasaan berpolitik beliau,” ungkap Peneliti Senior Surabaya Survey Center (SSC) Surochim Abdussalam, kepada duta.co Selasa (12/1/2019).

Seperti diketahui, Minggu (10/2), Ketum PP Muslimat ini bertemu dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini di sebuah rumah makan, dilanjut melakukan pertemuan dengan anggota DPRD Jatim, ditutup dengan menerima kunjungan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang menjadi rivalnya di Pilgub Jatim 2018.

Dengan Gus Ipul pertemuan berlangsung di kediaman Khofifah di Jemursari Surabaya dan berlangsung hangat. Gus Ipul dipersilahkan untuk mencicipi duren Wonosalam.

“(Pertemuan dengan Gus Ipul) Menurunkan tensi dan akan ada multieffect untuk bu Khofifah. Bagaimanapun dibelakang Gus Ipul, kiai sepuh Jatim dan struktural NU kuat. Bu Khofifah cerdas memainkan peran menjelang pelantikan,” terangnya.

Berbeda dengan Gus Ipul, pertemuan dengan Risma dilakukan di sebuah rumah makan. pertemuan ini juga berlangsung gayeng. Seakan, telah melupakan kata ‘keminter’ dari Risma yang kala itu mendukung Gus Ipul di Pilgub.

Modal Besar Menata Jatim

Politik tingkat tinggi panggung depan, seharusnya seperti itu untuk kebaikan ke depan. “Itu juga memperlihatkan kalau Bu Khofifah tidak baperan (terbawa perasaan), masih rasional dan objektif,” tambah Surochim.

“Bagi saya itu langkah maju. Biasanya ibu-ibu itu lama kalau konflik terbuka. Dengan silaturahim ini saya pikir strategis, karena Jatim ibukota dan titik nolnya ada di Surabaya. Malah gak lucu kalau tidak akur. Akan rugi kedua belah pihak, apalagi publik juga tahu kedua pemimpin ini potensial jadi pemimpin masa depan. Kebesaran hati ini akan mendapat respek dari masyarakat,” terangnya.

Suksesnya kepemimpinan modern saat ini akan sangat bergantung pada kemampuan membangun jejaring dan kolaborasi. Apalagi Jatim, masyarakatnya respek pada hala yang harmonis dan tidak suka konfliktual.

Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini melanjutkan, hal itu menjadi bekal kepemimpinan bagus di Jatim. Semakin banyak membuka komunikasi yang macet dengan pihak yang berseberangan akan jadi nilai plus bagi Khofifah.

“Ilmu merangkul ini juga yang dipraktikkan pakde Karwo(Soekarwo) dan bisa membuat Jatim adem kondusif dan stabil. Saya pikir modal ini penting bagi siapapun yang jadi Gubernur Jatim,” ungkapnya.

Dengan merangkul, lawan menjadi respek dan berkawan. Hingga bisa saling menguatkan. menurut Surochim, itu bagus untuk modal awal menjelang 100 hari kepemimpinan Khofifah-Emil. (zal)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry