JAKARTA |duta.co – Ada benarnya apa yang disampaikan Ketua Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi, M Taufik, bahwa lembaga survey akan berpihak kepada siapa yang bayar. Apalagi, kata Taufik, faktanya pasangan Prabowo-Sandi sudah tidak bisa menggunakan satu pun lembaga survey karena semuanya sudah dikontrak yang lain.

“Ya! Diborong semua oleh mereka. Karena itu, kita buat sendiri,” kata M. Taufik di kantornya, Menteng, Jakarta, Rabu (17/4).

Dengan demikian, pendukung Prabowo-Sandi tidak perlu melihat quick count yang sedang gegap gempita di televise. Lebih bagus mencermati angka di website KPU melalui https://pemilu2019.kpu.go.id/#/ppwp/hitung-suara/. Meski angka ini juga berpotensi dimainkan, setidaknya dengan memasukkan angka-angka TPS tertentu.

Jika anda membuka https://pemilu2019.kpu.go.id/#/ppwp/hitung-suara, versi 17 Apr 2019 pukul 19:15:02, di mana progress masuk masih mencapai : 0.00184% dari 813.323 TPS, maka, Prabowo-Sandi masih unggul dengan angka 51.06%, sementara Jokowi-Ma’ruf di angka 48.94%.

Sementara, kubu Prabowo-Sandi sudah merilis hasil exit poll dan hitung cepat (quick count) Pilpres 2019 untuk mengimbangi quick count lembaga-lembaga survei yang disiarkan di televisi.

Hasil internal Prabowo-Sandi, exit poll Prabowo-Sandi (55,4 persen) sementara quick count Prabowo-Sandi 52,2 persen.

“Itu internal kita. Kita kan juga bikin quick count. Buat mengimbangi saja. Secara lembaga survei kan kita enggak punya. Diborong semua oleh mereka,” jelas M. Taufik.

Di kita, tambahnya, juga banyak yang jago-jago buat penelitian. Saya kira ilmunya sama. “Di kita relatif menurut kita lebih terbuka, lebih jujur,” tambah Taufik yang juga ketua DPD Partai Gerindra ini.

Menyambung ajakan Prabowo, Taufik mengimbau pendukung dan simpatisan Prabowo-Sandi tidak boleh terpancing dan terprovokasi.

“Pasti akan ada orang yang memprovokasi. Ini kita jaga. Jangan ada yang mengambil tindakan-tindakan melanggar hukum,” imbuhnya.

Ditambahkan Taufik, kepada seluruh relawan, jajaran pendukung, dan partai-partai pengusung untuk tetap menjaga proses penghitungan.

“Kan di KPU itu dengan cara manual penghitungannya. Karena itu, kotak suara memang harus dijaga. Apalagi di tingkat kecamatan itu memang waktunya panjang, sampai 19 hari. Di kecamatan itu akan kita jaga secara kuat. Saya bersyukur dari perhitungan kita baik di DKI maupun secara nasional, kita menang,” tutupnya. (net,kpu,rmol)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry