SURABAYA | duta.co – Lumpur Lapindo memang sudah menjadi bencana alam nasional. Hingga kini penanganan belum bisa dilakukan sepenuhnya.
Dampaknya bukan hanya dari sisi ekonomi dan sosial namun juga pendidikan.
Dampak dalam dunia pendidikan dikupas tuntas dalam ujian terbuka promosi Doktor M. Munir Mansyur di Gedung Pasca Sarjana UINSa, Selasa (26/3).
Disertasi berjudul Kesinambungan dan Perubahan Pendidikan Islam di era Bencana Lumpur Lapindo Sidoarjo itu meneliti tentang keberadaan sekolah-sekolah khususnya madrasah aliyah (MA) setelah bencana itu terjadi.
Dari hasil disertasi itu Munir di hadapan para pengujinya menyebutkan ada dua madrasah aliyah (MA) yang ditelitinya.
Yakni MA Kholid bin Walid di Renokenongo Porong dan MA Jawahirul Ulum  Besuki Jabon.
Setelah bencana lumpur Lapindo terjadi MA Kholid bin Walid masih tetap menjadi MA. Sementara MA Jawahirul Ulum memutuskan untuk pindah kecamatan dan mengubah statusnya menjadi SMK Jawahirul Ulum.
Dari hasil pengamatan dan wawancana kata Munir diambil kesimpulan MA Kholid bin Walid tidak bisa berkembang maksimal.
Jumlah siswanya juga sangat minim. Bahkan banyak orang tua yang memilih sekolah lain dibanding di sekolah itu.
“Tapi yang berganti status justru berkembang signifikan. Fasilitas sekolah bagus dan jumlah murid bertambah. Ini alasan strategis karena memang pemerintah ingin memperbanyak SMK dibandingkan sekolah umum,” ujar Munir.
Salah satu penguji, Ridwan Nasir mengatakan disertasi selalu menghasilkan temuan-temuan yang bermacam.
Bisa temuan itu sesuatu yang baru, melanjutkan temuan sebelumnya atau mengkritik temuan terdahulunya. “Disertasi Anda termasuk yang mana?” tanya Ridwan Nasir pada Munir.
“Melanjutkan temuan yang sebelumnya,” ujar Munir menjawab pertanyaan penguji.
Ujian ini dipimpin Direktur Pasca Sarja UINSA Prof Aswadi. Uniknya sidang ini tidak hanya disampaikan Mansur dalam Bahasa Indonesia tapi dalam Bahasa Arab. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.