Akbar Ghaus (dua dari kanan) bersama Dekan FK Unair Prof Budi Santoso (dua dari kiri), Direktur RSUA Prof Nasronuddin (kanan) dan Wakil Rektor 2 Unair Dr Muhammad Madyan (kiri) usai pelantikan dokter di Aula FK Unair, Rabu (7/4/2021). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Lulusan dokter tidak harus bekerja mengobati orang sakit. Dan harus bekerja di rumah sakit membawa stetoskop ke mana-mana. Karena, seorang dokter bisa memiliki talenta yang bisa dikembangkan dan dijadikan penopang hidup.

Salah satunya yang dijalani dr Akbar Ghaus. Pria kelahiran Surabaya, 18 Juni 1994 itu dilantik menjadi dokter umum bersama delapan temannya yang lain di Aula FK Unair, Rabu (7/4/2021).

Pelantikan dilakukan oleh Dekan FK Unair, Prof Dr dr Budi Santoso (Prof Bus) disaksikan ), Direktur RSUA Prof Nasronuddin dan Wakil Rektor 2 Unair Dr Muhammad Madyan.

Akbar Ghaus yang memiliki badan atletis itu selama menjalani kuliah di FK Unair, juga dikenal sebagai trainer fitness.

Tidak hanya di fitness center, tapi dr Akbar juga memberikan edukasi dan training kepada masyarakat luas tentang olahraga terutama power lifting dan body building melalui media sosial.

Melalui akun intagram @akbarghaus dan youtube physiquedoctor, dr Akbar mencoba untuk sharing-sharing ilmu terutama yang berkaitan dengan olahraga dan kesehatan.

“Agar bisa mengetahui, bagaimana teknik olahraga yang benar, dengan nutrisi yang benar dan teknik yang benar sehingga tidak salah kaprah,” ujarnya.

Dengan pengikuti instagram dan youtube-nya mencapai puluhan ribu, dr Akbar mengaku senang. Pundi-pundi rupiah pun mengalir ke kantongnya. Sehingga dengan begitu, dia tidak terlalu berambisi untuk bisa bekerja di rumah sakit.

“Praktik mandiri kemungkinan akan saya lakukan. Tapi kalau bekerja di rumah sakit, saya berpikir berkali-kali. Karena saya tidak ingin bentrok jadwalnya dengan bidang olahraga yang saya suka dan tidak mungkin saya tinggalkan,” jelas dr Akbar yang berencana nantinya akan melanjutkan ke program pendidikan dokter spesialis ilmu kesehatan olahraga itu.

Dekan FK Unair, Prof Bus mengaku senang ada seorang lulusan dokter dari FK Unair yang mencoba bidang lain.

“Lulusan dokter umum itu tidak harus menempuh pendidikan dokter spesialis, bukan eranya. Kalau mau ya tidak masalah. Tapi kalau tertarik di bidang lain itu sangat terbuka lebar. Ada bidang-bidang yang lebih menjanjikan dari sekadar jadi dokter spesialis, akademisi, peneliti, dosen dan direktur rumah sakit,” jelasnya.

Doctorpreneur saat ini kata Prof Bus lebih memungkinkan untuk digeluti lulusan dokter. Apalagi, sekarang eranya teknologi, robotik, artificial technology dan sebagainya. “Banyak hal yang lebih menjanjikan seperti halnya dokter Akbar yang tertarik di bidang olahraga pembentukan tubuh,” tuturnya.

Harus Kembangkan Ilmu Kedokteran Olahraga

Dengan mulai banyaknya lulusan dokter yang mengembangkan keahlian ke bidang lain, Direktur RS Universitas Airlangga (RSUA), Prof Dr dr Nasronuddin,SpPD mendorong FK Unair untuk mengembangkan ilmu yang nantinya bisa membantu pemerintah Indonesia mengembangkan dunia olahraga sehingga bisa berprestasi di kancah dunia.

Salah satunya adalah dengan mengembangkan ilmu yang bisa menganalisa otot manusia berbasis genetik. Ilmu ini nantinya bisa digunakan untuk mendeteksi otot-otot atlet-atlet muda tanah air, cocoknya berkiprah di cabang olahraga apa. Sehingga dengan analisa itu, para atlet bisa lebih berprestasi di bidang olahraga tersebut.

“Selama ini tidak ada yang menganalisa itu. Sehingga mereka yang hanya suka dengan olahraga itu ya dilatih. Padahal, atlet cocok dengan olahraga basket ada kriterianya tersendiri, begitupun yang cocok dengan sepakbola atau dayung. FK Unair memungkinkan untuk melakukan itu, dan nantinya analisanya dilakukan di RSUA,” tuturnya.  end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry