
SURABAYA | duta.co – Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PWNU Jawa Timur meminta Intelektual NU mengembangkan dakwah Islam berbasis riset, karena kebenaran di era digital hanya berbasis viral yang belum tentu benar, sehingga LPTNU perlu mengembangkan riset untuk dakwah Islam Rahmatan lil Alamin.
“Selama ini, LPTNU masih kurang akhdzu bil jadidil aslah (mengambil hal-hal baru yang lebih baik), karena masih muhafadzatu ‘alal qadimis shalih (memelihara tradisi lama yang baik),” kata Wakil Ketua LPTNU PWNU Jatim Prof DR Abdul Malik Karim Amrullah MPdI dalam Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H di Kantor PWNU Jatim, Kamis (5/3) petang.
Dalam Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H PWNU Jatim bertema “Branding Pendidikan Tinggi NU” yang didampingi Sekretaris LPTNU PWNU Jatim DR Winarto Eka Wahyudi MPDdI itu, ia menjelaskan intelektual NU perlu mengangkat dakwah berbasis riset melalui produk intelektual (riset) sebagai “branding” NU.
“Sejak awal kelahirannya, pendirian NU itu sudah merupakan respons global yang dilakukan KH Wahab Chasbullah melalui Komite Hijaz bersama H Hasan Gipo, tapi saat ini belum ada branding NU yang mengglobal, karena itu riset oleh LPTNU sudah saatnya menjadi bahan utama untuk dimunculkan ke global lewat media, bukan sebatas jurnal, karena era-nya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, pengurus LPTNU PWNU Jatim DR Siti Nur Husnul Yusmiati STP., M.Kes melaporkan adanya hasil kajian ilmiah mengenai teknik sembelihan. Sembelihan secara syariah, dengan bismillah, ada handling ramah terhadap hewan yang disembelih akan menghasilkan daging yang lebih berkualitas dan kandungan gizi yang lebih baik.
“Puasa secara riset juga menunjukkan adanya fenomena Autofagi yakni proses daur ulang secara mandiri dalam sel-sel otak untuk membuang bagian yang rusak dan membersihkan sampah metabolisme, jadi puasa justru membantu otak melakukan proses pembersihan besar-besaran, sehingga otak tambah segar dan sehat,” kata Noor Husnul yang juga penggagas ‘Halal Center’ di ISNU dan DMI Jatim itu.
Hasil riset tentang ajaran Islam yang dicontohkan DR Noor Husnul itu dinilai Prof DR Abdul Malik Karim Amrullah MPdI sebagai contoh yang perlu dikembangkan LPTNU, karena perguruan tinggi pertama di dunia Islam yang berdiri di Marokko juga berbasis masjid atau spiritual.
Hal yang sama juga didorong oleh Sekretaris LPTNU PWNU Jatim DR Winarto Eka Wahyudi MPDdI. “InSya-Allah, PTNU di Jatim sudah ada 119 PTNU dan berada di semua cabang, karena itu perlu pengembangan potensi/riset, agar NU lebih berkembang pada Abad Kedua setelah para muassis berhasil sampai Satu Abad Pertama, jadi sampai menurun di Abad Kedua, apalagi era AI lebih mementingkan algoritma daripada proses,” katanya. (*/pwnu)



































