Kegiatan Ngaji Tani Hortikultura dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di lahan hortikultura Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Lamongan. (FT/Ardi).

LAMONGAN | duta.co – Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) PCNU Lamongan mendorong pengembangan sektor pertanian hortikultura sebagai salah satu peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Ngaji Tani Hortikultura dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di lahan hortikultura Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Minggu (1/11/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus diskusi mengenai potensi pengembangan hortikultura di Kabupaten Lamongan. Sebagai daerah yang memiliki basis pertanian cukup kuat, Lamongan dinilai mempunyai peluang besar untuk mengembangkan komoditas hortikultura di tengah dominasi pertanian tanaman pangan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan Sahrul Munir, jajaran LPPNU, Lesbumi, serta sejumlah undangan dan peserta yang memiliki perhatian terhadap pengembangan sektor pertanian.

Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan, Sahrul Munir, menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama tidak dapat dipisahkan dari dunia pertanian. Menurutnya, tradisi bertani telah menjadi bagian dari kehidupan warga Nahdliyin sejak masa awal berdirinya NU.

“NU itu tidak jauh dari pertanian. Bahkan sejak zaman pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, pertanian sudah menjadi bagian dari kehidupan dan perjuangan. Pertanian ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga menjadi salah satu jalan untuk menyelamatkan kehidupan masyarakat,” ujar Sahrul.

Ia menilai, penguatan sektor pertanian harus terus dilakukan dengan mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya melalui pengembangan hortikultura yang memiliki karakteristik dan peluang ekonomi tersendiri.

Sementara itu, akademisi sekaligus praktisi hortikultura, Habiburrahman, mengatakan sektor hortikultura mulai menunjukkan perkembangan dan berpotensi menjadi tren pertanian baru di Lamongan.

Meski porsinya masih relatif kecil dibandingkan pertanian secara umum, kondisi tersebut justru memperlihatkan besarnya ruang pengembangan yang belum tergarap secara maksimal.

“Hortikultura di Lamongan memang masih kecil jika dibandingkan dengan pertanian secara umum. Tetapi kecil bukan berarti tidak ada peminat. Justru ini menunjukkan bahwa ruang untuk berkembang masih sangat luas,” kata pria yang akrab disapa Gus Habib tersebut.

Menurutnya, pengembangan hortikultura membutuhkan proses panjang. Tidak cukup hanya dengan mengajak petani menanam komoditas sayuran, tetapi juga harus diimbangi peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan pendampingan yang memadai.

“Hortikultura bisa menjadi tren pertanian baru di Lamongan dan saya yakin ke depan akan semakin banyak yang berminat. Tetapi tentu tidak bisa instan. Dibutuhkan waktu, proses belajar, serta pendampingan yang mumpuni agar petani benar-benar mampu mengembangkan komoditas hortikultura secara berkelanjutan,” terangnya.

Gus Habib juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam membangun masa depan pertanian hortikultura. Generasi penerus diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu mengambil peran melalui inovasi dan pengembangan pertanian yang lebih produktif.

Selain membuka peluang peningkatan pendapatan petani, pengembangan hortikultura juga dinilai mampu memperpendek rantai distribusi sayuran yang selama ini banyak didatangkan dari luar daerah.

“Kalau hortikultura di Lamongan bisa berkembang, kita tidak hanya berbicara soal petani mendapatkan penghasilan. Kita juga bisa memutus atau setidaknya memperpendek mata rantai pengiriman sayuran dari luar kota yang selama ini masuk ke Lamongan, termasuk melalui Pasar Agro Babat maupun Pasar Paciran,” tambahnya.

Berdasarkan data dari SK Menteri ATR dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan, total luas lahan pertanian di Lamongan mencapai sekitar 103.483 hektare. Luasan tersebut menunjukkan bahwa pertanian nonhortikultura masih mendominasi sektor pertanian di daerah ini.

Karena itu, Gus Habib menegaskan bahwa hortikultura tidak harus menggantikan pertanian yang sudah berkembang. Sebaliknya, sektor ini dapat menjadi pendamping yang memberikan nilai tambah sekaligus membuka sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat.

“Pertanian nonhortikultura masih mendominasi. Hortikultura tidak harus menggantikan pertanian yang sudah ada, tetapi bisa menjadi pendamping yang memberikan nilai tambah dan membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat,” pungkasnya. ard

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry