“Ketahuilah, rakyat ini sangat susah. Kita disuruh di rumah saja, sementara tuntutan hidup terus datang. Belum lagi menyaksikan regulasi yang setengah hati. Dalam kondisi demikian, mengapa kita tidak saling memahami?”

Oleh : M Kholili*

JAGAT medsos dipenuhi video pendek keributan antara petugas (Polisi dan Satpol PP) dengan Habib Umar Assegaf (Bangil). Peristiwanya terjadi di check point Exit Tol Satelit Surabaya, Jawa Timur, Rabu, 20 Mei 2020. Macam-macam (versi) durasinya, ada yang 00:32 detik, ada yang lebih panjang, 01:30 menit.

Intinya, sama. Keributan yang seharusnya tidak terjadi. Tetapi, faktanya, tidak hanya di check point Exit Tol Satelit Surabaya saja, melainkan, terjadi (juga) di daerah lain. Masih ingat ketegangan antara Endang Wijaya (senior Walikota Bogor Bima Arya) dengan petugas Polisi Militer, juga di area check point? Masalahnya, sama. Pelanggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Endang Wijaya mau pun Habib Umar Assegaf memang ‘menabrak’ aturan. Penumpang mobil jenis sedan, maksimal 3 orang. Tetapi, di mobil Habib itu, ada 5 penumpang. Pun juga Endang Wijaya, menurut  peraturan PSBB, jok depan mobil hanya boleh diisi sopir. Tetapi, Endang menolak, alasannya dia bersama istri sendiri, di mana sehari-hari bukan sekedar duduk berdampingan, tetapi, tidur pun bersama.

Soal pakai masker di mobil pribadi, Kang Endang sudah memakai. Walau pun menurutnya, aturan itu sulit dinalar. Bermasker di mobil pribadi, terkesan lucu dan mubadzir. Mestinya, bermasker itu, ketika berada di mobil umum, atau mobil pribadi dengan penumpang umum. Tahulah, apa maksudnya.

Saya paham, dari segi aturan, baik Kang Endang maupun Habib Umar, salah. Tetapi dari segi nalar, memang, tidak sambung. Sulit dipahami regulasi PSBB ini. Apalagi kebijakan pemerintah maju-mundur, ada istilah pelonggaran, bahkan ada pula konser yang digelar MPR RI dan Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP).

Lihat pula, setelah konser, Ketua MRI RI Bambang Soesatyo minta maaf karena gagal mengindahkan peraturan social distancing. Alasannya semua pihak yang terlibat saat itu tengah bergembira karena konser berhasil digelar.

“Saya mohon maaf. Itu semua salah saya yang tidak bisa menolak permintaan spontan teman-teman kru TV untuk berfoto bersama dengan saya dan musisi senior Sam dan Acil Bimbo,” kata Bamsoet kepada wartawan. (lihat fotonya)

Konser yang disponsori pemerintah di tengah PSBB. Ini jadi kecaman publik. FT/ayobandung.com

Masihkah kita bersitegang? Atau bahkan melaporkan Habib Umar ke polisi atas pelanggaran PSBB? Atau adanya kontak fisik beliau, di mana terlihat jelas dalam video itu, ada oknum petugas yang berusaha menendang Habib Umar, yang, tentu, sangat sulit dinalar.

Terus terang! Saya sangat menyayangkan sikap oknum satuan polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan garangnya menendang salah satu keturunan Rasulullah saw. Kita paham betul, bahwa, beliau secara aturan salah.

Tetapi, apakah cukup, hanya melihat kekhilafan beliau, tanpa memperhatikan faktor lain. Apalagi kalau kita dengar dengan seksama, ada komando petugas untuk dilakukan shooting.  Ini apa maksudnya? Apakah video yang beredar ini bagian dari kesengajaan?

Logika kita sangat tidak bisa menerima, kalau video itu dilakukan oleh jamaah Habib Umar. Jadi? Secara etis, seyogyanya aparat tidak mengabadikan dalam video. Sekarang sudah jadi tontonan jutaan orang.

Jelas, insiden ini sangat memalukan. Apalagi kalau sampai Satpol PP Surabaya melaporkan Habib Umar ke Polda Jatim. Anggota Satpol PP Kota Surabaya, Asmadi, kabarnya membuat Laporan Polisi (LP), melaporkan Habib Umar Abdullah Assegaf, pengasuh Majelis Roudhotus Salaf Bangil, Pasuruan ke Polda Jawa Timur (Jatim). (baca: https://www.jpnn.com/news/info-terbaru-soal-habib-umar-bangil-vs-petugas-satpol-pp-surabaya-lapor-polisi)

Ini, tentu, bisa memicu konflik horisontal. Sama saja dengan menebar angin, dan bisa menuai badai. Sebaiknya, dalam kondisi pandemi seperti ini, lebih baik mengutamakan kemaslahatan bukan menambah permusuhan. Lihatlah! Betapa besar amarah jamaah Habib Umar di media sosial. Semoga semua itu bisa diredam melalui momentum Idul Fitri 1441 H.

Semua mafhum, petugas, memang capek. Tetapi, bukankah mereka dibayar untuk pekerjaan itu. Sementara rakyat lebih capek. Ketahuilah, rakyat ini sangat susah. Kita disuruh di rumah saja, sementara tuntutan hidup terus datang. Belum lagi menyaksikan regulasi yang setengah hati. Dalam kondisi demikian, mengapa kita tidak saling memahami?

Melalui tulisan ini, saya berharap kepada aparat polisi, Bapak Kapolda untuk menyikapi masalah ini dengan wisdom. Rasanya tidak perlu menindaklanjuti laporan tersebut demi menjaga stabilitas keamanan Jawa Timur.

Mencegah kerusakan, itu jauh lebih penting (didahulukan) ketimbang memburu manfaat di tenggah pandemi seperti ini. Darul Mafasid muqaddamun ‘ala jalbil Mashalih. Bukankah begitu? Waallahu’alam.

*M Kholili adalah Sekertaris Nasional Forum Komunikasi Tafsir Hadits Indonesia.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry