
SURABAYA | duta.co – Pengasuh Pesantren Al-Muhajirun Salafi Al-Kholili, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Lora Ismail Al-Kholili, menegaskan bahwa perjalanan Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ Mikraj mengajarkan pentingnya membesar-besarkan nikmat yang kecil dan mengecilkan masalah yang besar.
“Isra’ Mikraj itu merupakan nikmat yang terbesar yang diterima Nabi, karena beliau pertama kali bertemu langsung dengan Allah, namun beliau rela kembali ke dunia yang tidak indah karena perintah Allah,” katanya saat berbicara dalam Majelis Subuh GenZI (MSG) di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Ahad.
Dalam MSG episode ke-25 yang bertajuk “Perjalanan Nabi, Inspirasi GenZI” dan dihadiri ratusan GenZI itu, Lora Ismail Al-Kholili menjelaskan Isra’ Mikraj adalah waktu Istimewa dan nikmat yang terbesar dalam kehidupan Rasulullah, karena pertemuan dengan pasangan dalam pernikahan saja selalu dirayakan setiap tahun, apalagi Nabi bertemu Allah.
“Pertemuan dengan Allah itu posisi yang paling enak, namun beliau rela kembali ke bumi, karena perintah-Nya. Artinya, Nabi mengajarkan kepada kita untuk selalu mengingat dan menghitung nikmat dan hal itu ibadah. Dalam Al-Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk selalu mengingat nikmat-Nya. Menurut Nabi, penderitaan itu datang karena kita mengecilkan nikmat yang besar dan membesarkan masalah yang kecil,” katanya.

Oleh karena itu, manusia sekarang yang hidup di zaman yang serba mudah justru semakin banyak stres atau mengalami FOMO (depresi di dunia digital), karena manusia era digital melakukan “social comparism” (membanding-bandingkan nikmat/masalah yang dialami dengan orang lain), padahal kehidupan justru semakin mudah, namun kebahagiaan semakin menipis karena melupakan nikmat yang diterima dan membandingkan dengan orang lain.
“Isra Mikraj sebagai nikmat yang Istimewa itu terjadi setelah Amul Huzni (Tahun Kesedihan), karena Nabi kehilangan dua orang yang dicintai yakni Abu Thalib (paman) dan Khadijah (istri). Peristiwa yang dialami Nabi itu menandakan bahwa datangnya ujian itu justru pertanda ada nikmat besar yang akan datang. Bagaikan mendung, sepekat apapun pasti berlalu, hingga turun hujan yang menumbuhkan tanaman. Jadi, ujian itu semakin berat, akan semakin indah di akhir,” katanya.
Ia menyatakan inspirasi lain dari peristiwa Isra’ Mikraj adalah hasil dari perjalanan Nabi itu berupa perintah Sholat. “Perintah dari perjalanan yang Istimewa itu pasti bukan hal biasa, bahkan sholat itu menjadi wasiat terakhir Nabi. Artinya, baik-tidaknya seseorang ditentukan kualitas sholat-nya, karena sholat menyambung komunikasi, tentu putusanya komunikasi itu jelek,” katanya.
Menurut generasi keenam dari Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan, itu, Isra’ Mikraj juga mengajarkan pentingnya kearifan lokal dan barokah. “Ada yang bilang kalau perjalanan Isra’ Mikraj itu sebenarnya bisa dilakukan tanpa buroq, tapi kendaraan itu dipilih untuk menghargai kearifan lokal, karena kuda itu kendaraan orang Arab. Juga, singgah di bukit Tursina dan Bethlehem itu mengambil barokah dari Nabi Musa dan Nabi Isa,” katanya.
Lora Ismail Al-Kholili yang sudah tiga kali mengisi pengajian GenZI di MAS itu menambahkan pengajian ala MSG merupakan pengajian yang sangat Istimewa, karena banyak Hadits (HR Tirmidzi dan HR Tabrani) yang menyebut sholat subuh berjamaah, lalu dzikir/ngaji dan mengakhiri dengan sholat 2 rokaat itu pahalanya sama dengan haji dan umroh yang sempurna. “Jadi, MSG ini sangat exited bagi saya,” katanya. (*/mas)





































