
“Di titik krusial ini, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai mengelola organisasi, tetapi juga memiliki akar tradisi pesantren yang kuat, akhlak terjaga.”
Oleh M Sodikin
MUKTAMAR Nahdlatul Ulama selalu menjadi magnet sejarah yang mempertemukan ideologi, tradisi, dan dinamika kepemimpinan. Pada perhelatan akbar ini, Pondok Pesantren Lirboyo Kediri bersiap mencatatkan sejarah baru dengan mengorbitkan empat tokoh representatifnya ke dalam bursa kepemimpinan tertinggi PBNU.
Dua nama besar digadang-gadang memasuki bursa calon Rais Aam, yakni Kiai Kafabihi Mahrus dan Kiai Said Aqil Siroj. Sementara untuk bursa calon Ketua Umum Tanfidziyah, terdapat nama Kiai Imam Jazuli dan Gus Yusuf Chudlori. Kehadiran empat tokoh ini bukan sekadar meramaikan bursa, tetapi menegaskan Lirboyo sebagai raksasa pencetak kader yang selalu siap membaktikan diri untuk umat dan bangsa.
Sejarah membuktikan soliditas yang luar biasa dari Pondok Pesantren Krapyak saat berhasil mendukung Gus Yahya (KH Yahya Cholil Staquf) sebagai Ketua Umum PBNU pada muktamar sebelumnya. Solidaritas dan kebanggaan kultural antar-alumni ini adalah kekuatan alamiah yang menggerakkan roda organisasi Nahdlatul Ulama.
Kini, giliran para santri dan alumni Lirboyo di seluruh penjuru Nusantara untuk merajut kesolidan yang sama. Selayaknya sebuah keluarga besar yang melihat salah satu saudaranya pulang membawa amanah besar, dukungan total alumni Lirboyo kepada para kader terbaiknya adalah sebuah kewajaran sekaligus kebutuhan moril untuk mengawal arah jam’iyah ke depan.
Kiprah Lirboyo dalam memimpin PBNU bukanlah cerita baru. Kita semua masih ingat dengan jelas bagaimana dedikasi, keilmuan, dan kepemimpinan Kiai Said Aqil Siroj saat menahkodai PBNU selama dua periode. Di bawah kepemimpinan beliau, organisasi NU tumbuh menjadi entitas yang lebih modern, mandiri secara finansial, dan lantang menyuarakan Islam moderat di kancah global.
Kini, peluang emas terbuka lebar untuk kali kedua bagi alumni Lirboyo kembali memimpin PBNU. Terlebih lagi, konstelasi kali ini menyajikan paket komplet: dua figur mumpuni di kursi Rais Aam dan dua figur visioner di kursi Ketua Umum Tanfidziyah. Sebagai Rais Aam, baik Kiai Kafabihi Mahrus maupun Kiai Said Aqil Siroj adalah representasi ulama yang faqih, alim, dan memiliki akar genealogi serta sanad keilmuan yang sangat kuat.
Sebagai pimpinan pondok pesantren yang mengasuh ribuan santri, kapasitas keilmuan dan ketokohan mereka diakui secara luas. Rais Aam di dalam NU bukan sekadar jabatan struktural, melainkan kompas moral dan penjaga ruh ideologi Ahlussunnah wal Jamaah. Di tangan mereka, nilai-nilai tradisional dan metodologi istinbath al-hukm (pengambilan keputusan hukum) akan terus terjaga kemurniannya di tengah derasnya arus zaman.
Di sisi lain, untuk posisi Ketua Umum Tanfidziyah, kehadiran Kiai Imam Jazuli dan Gus Yusuf Chudlori menawarkan angin segar. Keduanya dikenal sebagai sosok yang cair, memiliki jaringan luas, serta sangat memahami denyut nadi pesantren dan tantangan global. Kiai Imam Jazuli kerap menyuarakan gagasan-gagasan besar mengenai transformasi pesantren dan kemandirian ekonomi NU.
Sementara Gus Yusuf, melalui gaya kepemimpinannya yang merangkul semua golongan, dinilai mampu menjadi figur pemersatu yang dibutuhkan PBNU untuk meredam berbagai dinamika internal dan mengembalikan fokus khidmah organisasi.
Argumentasi untuk mendukung tokoh-tokoh Lirboyo ini didasarkan pada kebutuhan riil NU saat ini. Organisasi sebesar NU dihadapkan pada tantangan pendidikan, ekonomi umat, dan masa depan pesantren yang semakin berat.
Di titik krusial ini, NU membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pandai mengelola organisasi, tetapi juga memiliki akar tradisi pesantren yang kuat, akhlak yang terjaga, dan penguasaan kitab kuning yang mumpuni. Kriteria ini melekat erat pada keempat jagoan Lirboyo tersebut.
Dengan memiliki dua calon di jajaran Syuriah dan dua calon di jajaran Tanfidziyah, para nahdliyin yang memiliki hak suara—terutama para alumni Lirboyo yang tersebar di berbagai daerah—memiliki opsi yang sangat luas. Kesempatan ini harus disambut dengan semangat kebersamaan dan kedewasaan berorganisasi.
Dukungan kepada kader Lirboyo adalah bentuk ta’dzim (penghormatan) kepada para guru sekaligus manifestasi dari rasa memiliki terhadap jam’iyah Nahdlatul Ulama. Sebagaimana tradisi santri yang selalu mengedepankan restu dan doa para kiai, muktamar ini adalah momentum yang tepat untuk membuktikan bahwa santri Lirboyo solid, bersatu, dan siap mengemban amanah sejarah memimpin NU di abad kedua ini.(*)



































