
JOMBANG | duta.co – Di ruang sederhana yang dipenuhi tumpukan dokumen dan buku-buku pendidikan, Dr. H. Muhyiddin Zainul Arifin, M.M., duduk tenang. Tak tampak raut lelah, meski lima tahun terakhir ia menjalankan tugas besar sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Jombang tanpa bayaran, tanpa keluhan.
“Kerja kami murni pengabdian. Tidak ada honor rutin tiap tahun, karena memang tidak bisa diambil dari hibah,” ucapnya lirih, tapi penuh keyakinan, Jumat (4/7).
Lima tahun bukan waktu singkat. Dalam periode 2020–2025 itu, ia dan para anggota Dewan telah menjadi mitra kritis pemerintah dalam pembangunan sektor pendidikan. Meski tanpa insentif finansial, semangat tak surut. Namun, kini, Muhyiddin merasa sudah saatnya memberi ruang bagi generasi baru.
“Menurut saya, cukup. Saatnya saya mundur. Biar diisi personal yang lebih baik lagi. Yang lebih segar, lebih kuat,” ujarnya sambil tersenyum.
Proses seleksi pengurus baru pun sedang berjalan. Sebanyak sudah lulus administrasi akan dipilihan 22 calon. Sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Bupati Jombang nantinya akan memilih 11 di antaranya sebagai anggota tetap. Bila di tengah jalan ada yang tidak aktif, akan digantikan dari nama-nama yang tersisa.
Namun, Muhyiddin menyisakan satu harapan besar, agar Dewan Pendidikan ke depan tak lagi bekerja hanya dengan idealisme semata.
“Harapan saya, periode 2025–2030 nanti semua anggota bisa dapat alokasi honor yang sah lewat Peraturan Bupati. Tidak besar, cukup untuk menunjukkan bahwa negara hadir dalam kerja pengabdian ini,” ujarnya dengan nada tulus.
Muhyiddin mungkin akan segera menutup bab pengabdiannya di Dewan Pendidikan. Tapi jejaknya, semangatnya, dan harapannya bagi masa depan pendidikan Jombang akan terus menyala. (din)