
SURABAYA | duta.co – Antusiasme siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) Nahdlatul Ulama (NU), Kota Pasuruan — saat melihat ‘Rekam Jejak’ para muassis NU di Gedung Museum NU Jl Gayungsari Timur 35 Surabaya — benar-benar luar biasa.
“Kelas berapa ini? Kok teliti dan semangat sekali,” tanya Mokhammad Kaiyis pembina Yayasan Museum NU saat mendampingi kunjungan mereka, Senin (19/5/25).
Anak-anak dengan lantang menjawab: “Kelas V SD NU Kota Pasuruan. Kami ingin melihat dari dekat peninggalan sejarah para kiai NU,” demikian jawab salah satu siswa yang tampak dengan tekun mencatat setiap lembar sejarah perjuangan para masyayikh NU.
Didampingi 10 ustadz-ustadzah mereka ‘menyisir’ sejarah perjuangan para masyayikh di lantai 1 dan 2. Tampak Ustadzah Sharah terus mendampingi mereka. “Silakan tanya yang tidak paham. Siswa-Siswi SD NU Kota Pasuruan harus lebih baik dari yang lain,” tegasnya.
Menurut Kaiyis, kunjungan sejarah ini perlu. “Ada beberapa hal yang perlu diketahui adik-adik sebagai kader NU. Di samping sejarah pertumbuhan dan perkembangannya, setidaknya ada 3 persitiwa besar yang perlu kita catat bersama,” tegas Kaiyis yang juga anggota Dewan Kehormatan PWI Jatim ini.
Pertama, kelahiran NU membawa berkah bagi dunia Islam. Itu ditandai dengan dokumen penting seputar Komite Hijaz. Sebuah delegasi yang ditugaskan Hadlaratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari atau Mbah Hasyim untuk bertemu dengan Raja Saud di Arab Saudi. Dokumen itu bisa kita saksikan di lantai 2.
“Para pendiri NU minta agar Raja Saud memperbolehkan berlakunya empat madzab di Arab Saudi. Tidak boleh tanah suci dikuasi orang-orang Wahabi saja. Usulan ini ternyata diterima, akhirnya sekarang umat Islam dengan paham apa pun bisa (leluasa) beribadah ke tanah suci,” tegas Kaiyis.
Di samping itu, delegasi Komite Hijaz juga minta agar rencana penghancuran situs-situs Islam dihentikan. Seperti rencana penghancuran makam Nabi Muhammad, serta tempat-tempat bersejarah lainnya. “Ini juga dikabulkan, sehingga sampai sekarang situs itu masih ada, dan bisa kita saksikan bersama,” tegasnya.
Kedua, warga NU sangat peduli dengan kelangsungan Indonesia. Kita mengenal NKRI Harga Mati. Maka, munculnya fatwa Resolusi Jihad — adalah sebuah tekad perang 10 November di Kota Surabaya — untuk mengusir penjajah yang akan menguasai Indonesia kembali.
“Saat itu, hanya selang beberapa bulan setelah RI merdeka. Agustus merdeka, November mau dijajah lagi. Bayangkan, semua kota sudah takluk, maka, Surabaya di bawah fatwa Resolusi Jihad berkobar dan rakyat Indonesia menang, kini dibadikan 10 November sebagai hari pahlawan nasional,” tegasnya.
Ketiga, NU berasal dari bawah. Betapa besar dukungan umat kepada NU untuk mengamankan Islam Ahlunnsunnah wal-Jamaah An-Nahdliyah. Islam yang rahmatan lil alamin. “Sekarang pemerintah membuat program moderasi beragama. Fikh NU sudah lama menerapkan moderasi beragama, artinya siap untuk duduk berdampingan dengan agama lain,” tegasnya.
Ustadzah Sharah menyampaikan, bahwa, anak-anak SD NU harus menguasai sejarah berdiri NU, termasuk sikap tegasnya dalam berbangsa dan bernegara. Atusiasme anak-anak ini patut diacungi jempol. “Cuma saran saya, bagaimana Museum NU terus berbenah, setidaknya mengikuti digitalisasi yang semakin pesat perkembangannya,” sarannya di akhir kunjungan.
Saran Ustadzah Sharah juga menjadi gagasan management Museum NU. “Begitulah! Doanya Bu, semoga Museum NU cepat berbenah. Sehingga anak-anak kalau kunjungan tinggal pencet saja, sudah paham tentang sejarah NU,” pungkas Kaiyis. (mky)