Poedjo Hartono, dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan RSU dr Soetomo/Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). DUTA/dok

SURABAYA | duta.co – Kanker serviks masih menjadi kanker dengan jumlah pasien terbesar kedua di Indonesia setelah kanker payudara.

Namun, seorang wanita sangat rugi jika menderita kanker serviks karena sebenarnya kanker ini bisa dicegaj, dideteksi dini bahkan disembuhkan.

Hal tersebut diungkapkan dr Poedjo Hartono,SpOG, dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan RSU dr Soetomo/Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).

Dikatakan dr Poedjo,  seorang wanita  sebelum divonis kanker serviks, melewati waktu yang panjang mulai dari infeksi human papiloma virus (HPV) hingga kanker.

“Perjalanan dari  kena virus sampe vonis itu 20 tahun. Selama masa itu bisa melakukan banyak hal,” ujar Poedjo yang berbicara di hadapan para dokter, terapis, radioterapis di acara Simposium Integrated Breast and Cervical Cancer Management yang digelar RS Adi Husada di Sabtu (30/11).

Kanker serviks memang berbeda dengan kanker lainnya. Sebelum kanker ada tahapan-tahapan yang bisa diketahui secara dini bahkan dicegah.

“Virus HPV itu menyebabnya jelas. Hubungan seksual. Makanya orang kena kanker serviks pasti yang sudah menikah. Makanya rajin papsmear,” tandasnya.

Dikatakan dr Poedjo, orang Indonesia itu salah dalam mendefinisikan sakit. Sakit harus yang berdarah-darah, terluka, nyeri dan sejenisnya.

“Kalau keputihan, pendarahan tidak dianggap sakit. Padahal kalau sudah pendarahan bisa jadi itu sudah stadium tiga kanker serviks,” tukasnya.

Karenanya mindset difinisi sakit itu yang harus diubah. Karena sampai saat ini  tindakan promotif preventif yang sudah banyak dilakukan tapi tetap saja kurang mengena.

Akhirnya banyak relawan terutama para dokter yang mencoba melakukan tindakan promotif preventif pada orang yang berisiko tinggi terkena kanker serviks ini. “Kita sedang mencari pola yang pas bagaimana tindakan promotif preventif itu bisa mengena,” tukasnya.

Salah satunya adalah dengan melibatkan anak-anak muda khususnya siswa sekolah dan mahasiswa. Edukasi ke sekolah dan kampus penting dilakukan agar anak-anak muda bisa menjadi agent of change (agen perubahan) di masa depan.

“Kita ajak anak-anak itu datang ke rumah sakit. Melihat antrean pasien kanker di RSU Dr Soetomo misalnya. Melihat bagaimana mereka dirawat. Agar bisa melihat fakta penyakit kanker itu seperti apa menderitanya. Dari sana mereka akan lebih sadar dan berusaha untuk menjaga diri dan kesehatannya. Yang diharapkan bisa menularkan pada teman-teman sekitarnya,” tandasnya.

Dengan cara itu kemungkinan besar   jumlah penderita kanker serviks di Indonesia bisa ditekan dengan adanya kesadaran untuk memeriksakan diri sejak awal.

“Sebetulnya HPV itu banyak berkembang di Eropa, tapi di sana penderitanya m sedikit. Di Indonesia perkembangan virus sedikit tapi penderitanya banyak. Itu artinya karena kurang sadar masyarakat untuk memeriksakan diri,” jelasnya.

Pencegahan sejak dini kata dr Poedjo sangat penting. Karena jika seseorang sudah terkena kanker serviks sangat berpengaruh terhadap semua hal.

Karena hingga kini, pasien kanker serviks yang datang ke rumah sakit 80 hingga  90 persen sudah dalam posisi advance stage atau stadium lanjut.

“Yang sudah tidak bisa dilakukan tindakan operasi dan sejenisnya. Obatnya hanya radiasi,  kemoterapi dan paliatif,” ungkapnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry