Muhtazuddin, wartawan duta.co mendekati peserta reuni alumni 212 daerah Tanang Abang, Jakarta. (FT/IST)

“Tidak sedikit peserta heran. Kok bisa jumlah peserta Reuni Alumni 212 melebihi aksi bela Islam 212 tahun lalu? Siapa yang menggerakkan orang sebanyak itu? Siapa mampu membayar jutaan manusia untuk bergerak ke tempat yang sama, Monas?” Berikut Catatan Muhtazuddin, wartawan duta.co dari Jakarta.

 

Muhtazuddin (dua dari kanan). Ini satu keluarga menyiapkan Bendera Tauhid khusus untuk Reuni Alumni 212. (FT/IST)

SULIT rasanya mendeskripsikan massa yang datang di Reuni Alumni 212, Minggu (2/12/2018) di Monumen Nasional, Jakarta. Apalagi menghitung jumlahnya. Kalau sekedar menyebut lebih banyak dari Aksi 212 tahun 2016, bisa. Karena radius massa bisa diukur. Reuni kali ini, radius massanya lebih jauh ketimbang aksi dua tahun lalu.

Ketika Monas penuh sesak, ternyata, di Tanah Abang, sekitar 4.4 km dari Monas, lautan massa sudah sulit bergerak. Mirip jamaah haji sedang balang jumroh. Wajah-wajah umat Islam itu terlihat ceria, semangat, seakan memburu status mabrur. Lalu berapa jumlah massa Reuni Alumni 212? Wallahu’alam, Gusti Allah yang Maha Tahu.

Dari sini, prediksi (massa) versi polisi, meleset jauh. Prediksi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, peserta reuni hanya puluhan ribu orang, jauh dari nalar. Apalagi disebut massa tidak sampai membludak keluar kawasan Monas. Karena, faktanya, mereka meluber sampai Tanah Abang.

Sudah. Konsentrasi (massa) saya, pecah, karena mendengar lantunan sholawat Nabi di berbagai sudut. Hampir setiap sudut suasananya NU, Islam ahlussunnah waljamaah an-nahdliyah. Tidak hanya di jalan, di stasiun kereta api pun lantunan sholawat Nab  tiada henti. Padahal, tidak ada yang mengomando.

Adalah benar, apa yang ditulis Hersubeno Arief, pengamat dan konsultan media, bahwa, peserta Reuni Alumni 212 itu, larut dalam bulan Maulid, bulan kelahiran Muhammad SAW. Subhanallah!

Lebih ‘NU’ lagi, ketika salat subuh berjamaah. Pada rakaat kedua, sang imam, KH Nasir Zein, pengasuh Pondok Pesantresn Rafah, Bogor, Jawa Barat mengangkat tangan. Membaca doa qunut subuh. Suaranya merdu, sejumlah jamaah terisak-isak.

Tidak sedikit peserta merasa heran. Kok bisa jumlah peserta Reuni Alumni 212 melebihi aksi bela Islam 212 tahun lalu? Siapa yang menggerakkan orang sebanyak itu? Siapa mampu membayar jutaan manusia untuk bergerak ke tempat yang sama, Monas?

“Menurut saya ini skenario Allah swt, tidak ada yang mampu melakukan itu,” begitu Dr H Eggi Sudjana, SH, MSi, saat ditemui sejumlah peserta reuni di kantornya, Jalan Tanah Abang-3 Blox C-D, Jakarta Pusat.

Tetapi, Bang Eggi buru-buru membaca kalimat tauhid, La ilaha illallah Muhammad rasulullah.  Ini yang menyatukan. Ini yang menggerakkan. Ini yang membuat umat Islam bangkit.

“Terima kasih Banser! Banser NU juga ikut memperbanyak peserta aksi,” katanya. Lho?

Bukan hanya Bang Eggi yang berterima kasih kepada banser. Peserta lain juga menyebut Banser punya andil, ‘berjasa’ mendorong umat Islam mendatangi Reuni Alumni 212. Meski sudah diwarning, diancam  agar tidak membawa bendera Tauhid, mereka tetap menenteng Bendera Tauhid. Katanya, ini harga mati.

“Terima kasih Banser! Saya bawah bendera Tauhid ini sebagai bentuk perlawanan terhadap pembakaran Bendera Tauhid yang dilakukan Banser,” demikian peserta dari Jawa Barat. Lho?

Rupanya, video anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU) Garut, Jawa Barat membakar bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018, itu benar-benar membuat sakit hati mereka, hati jutaan umat Islam yang kini sedang berjibaku melawan penista agama. Waallahu’alam. (*)

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.