SURABAYA | duta.co — Di tengah menguatnya kembali isu perbedaan suku, budaya, dan pilihan politik, semangat persatuan justru digaungkan melalui pendekatan yang hangat dan membumi. Itulah yang terasa dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI yang digelar Paguyuban Brojo Pusaka, menghadirkan Dr. Lia Istifhama, Anggota DPD/MPR RI periode 2024–2029.

Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menyampaikan bahwa sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bukan sekadar tugas formal lembaga negara, melainkan ikhtiar menjaga keberlangsungan bangsa dari tingkat paling dasar: kesadaran masyarakat.

“Sebagai anggota DPD RI sekaligus MPR RI, salah satu tugas kami memang melakukan sosialisasi Empat Pilar Kebangsaa Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945. Tapi lebih dari itu, kami ingin masyarakat merasa bahwa kita ini adalah agen keberlangsungan bangsa,” ujar Ning Lia, Jumat (19/12/2025).

Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai nasionalisme sejak dini, terutama kepada generasi muda. Menurutnya, rasa cinta pada Pancasila dan persatuan bangsa harus terus diajarkan agar tidak ada lagi sekat-sekat yang memecah kebersamaan.

“Kalau kita merasa sama-sama anak bangsa, maka tidak ada lagi perbedaan yang harus dipertentangkan. Tidak boleh ada ruang untuk kotak-kotak, baik karena suku, budaya, apalagi politik,” tegasnya.

Ning Lia juga menyoroti fenomena sosial belakangan ini, di mana gesekan antarkelompok kerap muncul akibat perbedaan identitas. Ia mengingatkan bahwa politik pun seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

“Di politik pun tidak boleh ada punishment hanya karena beda pilihan. Tidak boleh ada urusan ‘kamu partai apa, saya partai apa’. Kita tetap satu bangsa,” katanya.

Menariknya, dalam sosialisasi tersebut, Ning Lia mengaitkan penguatan persatuan bangsa dengan budaya dan seni. Ia mencontohkan bagaimana musik dari Indonesia Timur dan Jawa kini sama-sama digemari lintas daerah, bahkan viral di media sosial.

“Saya orang Jawa, tapi saya suka lagu Indonesia Timur. Di Papua, Maluku, mereka juga menikmati lagu-lagu Jawa. Itu indah. Artinya, budaya dan seni adalah penguat persatuan kita,” tuturnya.

Karena itu, Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama Paguyuban Brojo Pusaka sengaja dirangkai dengan pendekatan budaya, agar pesan persatuan lebih mudah diterima dan dirasakan.

Ning Lia menutup pesannya dengan filosofi sederhana tentang Bhinneka Tunggal Ika. Ia mengibaratkan persatuan seperti menanam pohon.

“Ketika kita menanam pohon, oksigennya dihirup oleh semua orang lintas agama, suku, dan latar belakang. Kebaikan itu tidak boleh dinikmati oleh kelompok tertentu saja. Jadikan kebaikan sebagai milik semua,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, nilai-nilai kebangsaan kembali dihidupkan bukan lewat jargon, tetapi lewat rasa, budaya, dan kesadaran bahwa Indonesia berdiri karena keberagamannya. (gal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry