Dosen FK Unusa, dr Hotimah, PhD. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Menjadi dosen adalah cita-citanya. Pemikirannya sederhana, agar bisa mengaplikasikan dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya sebagai seorang dokter ahli penyakit jantung dari Universitas Tokushima Jepang.

 “Saya memilih untuk mengajarkan ilmu yang saya miliki kepada calon dokter masa depan. Unusa menjadi labuhan hati saya dan tempat mengabdi,” ujar dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dr Hotimah, PhD.

Dikatakan Hotimah, sejak lulus menjadi dokter, dia ditempatkan di Puskesmas Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Setelah itu dipindah ke RSUD Achmad Diponegoro, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Karena di rumah sakit itu kekurangan tenaga medis.

“Saat itu saya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tapi, saat itu juga saya diterima melanjutkan sekolah doktor di Departemen Kedokteran Jantung, Universitas Tokushima, Jepang. Dan saya memilih untuk melanjutkan studi di Jepang dan melepas PNS yang sudah saya terima karena saya ingin jadi dosen,” jelasnya.

Namun, pengalaman sebagai dokter di luar pulau menjadikan pengalaman tersendiri bagi dosen berusia 32 tahun itu. Waktu itu dia bertugas di Puskesmas Badau.

Saat itu, Hotimah menceritakan saat bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) di Puskesmas Badau, dia kedatangan pasien korban kecelakaan yang tak sadarkan diri. Tidak beberapa lama, datang keluarga korban yang saat itu menilai jika korban belum segera ditangani.

Padahal korban yang tidak sadarkan diri tidak bisa ditangani medis hingga korban siuman. “Tapi keluarga terus mengamuk. Saya sebagai dokter harus tenang walau saat itu ada salah satu keluarga korban yang membawa senjata tajam dan mulutnya bau alkohol,” tukasnya.

Walau sempat shock namun Hotimah merasa itulah pengalaman paling berharga sebagai dokter yang bisa dia bagikan kepada mahasiswanya. ril/hms

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry