GRESIK | duta.co – Ciptakan terobosan baru dengan menempuh strategi menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai multikulturalis. Harapannya, akan berhasil membentuk anak didik yang dalam perkembangannya melampaui masyarakat kebhinekatunggalikaan. Para siswa diberi penguatan agar bisa mentransformasikan pengalamannya yang akan didialogkan nantinya.

Yayasan Perguruan Pendidikan Nahdlatul Ulama Trate Gresik misalnya, mengaplikasikan terobosan diatas dengan melakukan interaksi langsung dengan mitranya ke Boonlert anusron school di kota Hatyai, Provinsi Songkhla, Thailand. Tiga lembaga dalam naungannya, seperti Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Trate Putra, Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Trate Putri dan Sekolah Dasar Nahdlatul Ulama Trate Gresik.

“Budaya cinta nenek moyang, sikap multi kultural dimana penghargaan budaya sangat dijunjung tinggi di sana (Thailand). Meski disini sangat dianjurkan, namun tidak ada salahnya karakter seperti itu kita contoh, sebagai perbandingan mendialogkan apa yang diterima disini,” terang Ketua Perguruan Pendidikan Nahdlatul Ulama Trate Gresik, M Elvi Wahyudi, MM, Sabtu (12/8/2017).

Diikuti 50 pelajarnya menampilkan Pentas Seni tari Caping dan Pagar Nusa yang merupakan seni Pencak Silat kebanggaan warga Nahdliyin. “Melalui pementasan seni budaya tersebut, para pelajar NU ini di ajarkan tentang keanekaragaman  seni dan budaya yang ada di Dunia. Sementara, siswa Sekolah Thailand menampilkan Tari Manora,” tukas Kepala sekolah SD Nahdlatul Ulama Trate Gresik, Didik Suyono MPd (periode 2013 – 2017).

Didik menambahkan, beberapa perilaku yang tidak jauh berbeda dan harus di aplikasikan pada siswa ini, ialah sopan santun, fasilitas bersih dan rapi serta nyaman. Lebih penting lagi adalah disiplin, dimana karakter itu telah diajarkan dan dibiasakan di sekolah berbasis NU ini. Meski masih sedikit tertinggal semoga setelah berkunjung ke sekolah Thailand para siswa bisa menerapkannya minimal dimulai dari diri  sendiri.

Senada di terangkan Nurul Qomariyah,  SPdI, Guru kelas Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Trate Putera Gresik. Dimana nantinya bisa diterapkan dalam pembelajaran seni budaya dan keterampilan yang mengusung kearifan lokal agar budaya Indonesia tetap bisa dilestarikan. Di samping itu, usai dari Thailand bisa belajar tentang sistem pembelajaran dan sarana prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran.

“Pembelajaran english mathematics dan science yang disampaikan dalam bahasa inggris misalnya, sangat bisa kita terapkan untuk kelas International Class Program (ICP) yang menjadi unggulan  di MINU Trate Putera Gresik,” cetusnya.

Ia menambahkan, di sekolah Thailand tersebut pihaknya belajar tentang kebudayaan Thailand yang unik dan menarik. Seperti Kuliner Thailand yang khas seperti Khanom Prok (serabi yang gurih) dan Som Tam (salad dari pepaya muda yang rasanya manis asam gurih dan pedas). Seperti juga Budaya songkram festival, permainan tradisional dan membuat Corn Husk Flower, hal ini menjadi ajang pertukaran kuliner dengan siswa nya. gus

 

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan