
SURABAYA | duta.co – Kantor Perwakilan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) II menyelenggarakan kegiatan edukasi LPS dan pelatihan eco lifestyle bagi para penggiat bank sampah di Kota Surabaya dengan mengusung tema “Lebaran Gak Nyampah.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 14 Maret 2026, bertempat di Kantor Bank Sampah Induk Surabaya, dan diikuti oleh sekitar 300 orang penggiat bank sampah dari berbagai wilayah di Kota Surabaya.
Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara Kantor Perwakilan LPS II dengan Yayasan Bina Bhakti Lingkungan (YBBL), yaitu lembaga sosial lingkungan yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan sosial serta pelestarian lingkungan berkelanjutan.
Melalui pelatihan ini, Kantor Perwakilan LPS II memberikan pemaparan mengenai tugas dan fungsi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), termasuk peran LPS dalam menjamin simpanan nasabah perbankan serta menjaga stabilitas sistem perbankan di Indonesia. Penyampaian materi literasi keuangan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap keberadaan LPS serta pentingnya menabung di bank yang menjadi peserta penjaminan LPS.
Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai penerapan gaya hidup ramah lingkungan (eco lifestyle), khususnya dalam upaya pengurangan sampah selama masa lebaran. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan sampah yang berkelanjutan, serta memperkuat peran bank sampah sebagai bagian dari gerakan ekonomi sirkular di masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan LPS II Bambang S. Hidayat menyampaikan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen LPS untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi dan pemberdayaan komunitas.
“Kegiatan ini memiliki kesamaan dengan kami, kalau Bapak/Ibu pegiat lingkungan ini disebut sebagai nasabah bank sampah, maka kami adalah penjamin simpanan nasabah yang ada di bank. Sehingga diharapkan melalui kegiatan ini selain menjadi nasabah di bank sampah, seluruh peserta dapat semakin memahami tugas dan fungsi LPS serta dapat meningkatkan kepercayaan nasabah untuk dapat menambung di Bank.”
Ke depan, Kantor Perwakilan LPS II akan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan komunitas masyarakat, dalam rangka mendukung program edukasi publik, peningkatan literasi keuangan, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, yang diwakili oleh Kepala Bidang Kebersihan DLH Kota Surabaya menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh LPS dalam mendukung gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kepala Bidang Kebersihan DLH, Bapak Wasis Sutikno menyampaikan “Kota Surabaya di tahun 2025-2026 mampu meraih penghargaan Kota Terbaik Pengelolaan Sampah se-Indonesia. Sehingga kegitaan ini dapat menjadi pengingat untuk para pegiat lingkungan untuk dapat terus menjadi garda terdepan dalam pengelolaan sampah, khususnya di masa lebaran ini.”
Melalui kegiatan ini, diharapkan para penggiat bank sampah dapat semakin memperkuat perannya sebagai agen perubahan di masyarakat dalam mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan. Selain memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan, kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat melalui pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi.
Saat ini sekitar 1.000 ton sampah per hari berhasil diolah menjadi listrik melalui PLTSa Benowo Surabaya dengan produksi sekitar 9 megawatt. Namun masih ada ratusan ton sampah yang belum tertangani maksimal.
“Masih ada 500 hingga 600 ton sampah yang belum terkelola maksimal. Jika warga disiplin memilah sampah dari rumah, volume sampah plastik akan berkurang drastis dan beban TPA (Tempat Pembuangan Akhir) akan berkurang,” ungkap Wasis.
Ia menambahkan, persoalan sampah juga berkaitan dengan pengeluaran daerah. Biaya pengangkutan dan pengelolaan sampah di Surabaya mencapai miliaran rupiah setiap bulan. Jika volume sampah bisa ditekan, anggaran tersebut berpotensi dialihkan untuk sektor lain yang lebih mendesak.
“Jika sampah berkurang, anggarannya bisa dialihkan untuk sektor lain yang krusial seperti pendidikan. Melalui tema ‘Lebaran Gak Nyampah’, kami mengajak warga menggunakan wadah berulang kali dan memastikan makanan habis tanpa sisa (zero food waste),” pungkasnya. Imm






































