An Liong Liem, MD, PhD, FIPP (tiga dari kanan) berfoto bersama dengan para mahasiswa FK Unair saat acara Guest Lecture di Aula FK Unair, Jumat (15/3). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co – Rasa nyeri yang hebat sering kali dirasakan pasien kanker pasca operasi maupun yang tidak dioperasi.

Rasa nyeri itu tidak bisa dihilangkan hanya dengan obat anti nyeri atau anastesi. Menghilangkan nyeri pada pasien kanker ternyata harus komprehensif dan dari berbagai disiplin ilmu di bidang kedokteran.

Ahli Manajemen Nyeri An Liong Liem, MD, PhD, FIPP dari Belanda mengatakan hal itu usai menjadi dosen tamu dalam kuliah umum di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Jumat (15/3).

Dikatakannya yang harus terlibat dalam menghilangkan rasa nyeri pada pasien kanker selain dokter ahli anastesi, juga harus ada dokter bedah, psikiater, psikolog, dokter rehab medik dan banyak lainnya.

“Di Belanda ini sudah mulai dilakukan. Sehingga pasien bisa mengurangi rasa nyeri yang dideritanya. Karena nyeri pasien kanker itu luar biasa,” ujar An Liong yang juga memiliki bapak asli Indonesia ini.

Dengan penanganan dari berbagai disiplin ilmu, maka masing-masing bisa menurunkan rasa nyeri sesuai cara dan ilmu yang disandangnya.

“Kalau anastesi dengan memberi obat atau suntikan, kalau psikolog dan psikiater bisa dengan motivasi dan sejenisnya. Begitu juga lainnya. Sehingga kualitas hidup penderita bisa meningkat,” jelas An Liong.

Pain Treatment atau perawatan rasa sakit memang dibutuhkan. Indonesia harus terus mencoba penanganan rasa sakit pasien ini.

“Kalau di Belanda sudah banyak diterapkan. Katanya di Indonesia termasuk di FK Unair dan Rumah Sakit Soetomo juga sudah diterapkan,” tukasnya.

Karena dikatakan An Liong, Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat banyak juga termasuk salah satu negara dengan jumlah penderita kanker terbanyak. Sehingga manajemen nyeri ini perlu terus dikembangkan.

Selain itu, An Liong mengungkapkan untuk di Belanda, ilmu anastesi sudah bukan lagi dengan obat atau suntikan.

Sekarang sudah menggunakan alat yang khusus dimasukkan ke syaraf sehingga bisa dengan cepat meredakan rasa nyeri atau tidak membuat pasien merasa nyeri.

Ilmu inilah yang nantinya akan dikembangkan di Indonesia. Sehingga FK Unair, khususnya Departemen Anastesi mendatangkan An Liong ini untuk memberikan kuliah umum serta melakukan kerjasama lebih lanjut dalam bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.

Inisiator kuliah umum ini, Prof dr dr Nancy  Margarita Rehatta, Sp An mengatakan didatangkannya An Liong ke FK Unair karena keahliannya dalam bidang manajemen nyeri, selain An Liong adalah keturunan asli Indonesia.

“Dia sangat cinta Indonesia. Makanya ketika diajak ke FK Unair, beliau sangat antusias dan bersedia berbagi ilmunya,” kata Prof Rita panggilan Nancy Margarita.

Diharapkan semua staf FK Unair dan mahasiswa juga bisa menyerap ilmu yang diberikan An Liong sehingga ke depan bisa untuk memajukan ilmu kedokteran di Indonesia umumnya dan FK Unair khususnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.