dr Aisyah, SpKFR – Dosen Fakultas Kedokteran (FK)

Masa pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhir ini memang tidak berhubungan langsung dengan penderita Osteoartritis (rawan sendi) atau yang biasa dikenal oleh masyarakat awam sebagai pengapuran sendi.

Gejala yang paling banyak terjadi adalah nyeri dan kekakuan sendi. Gejala tersebut bisa menyebabkan ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas  kerja dan kualitas hidup seseorang, di antaranya kualitas ibadah misalnya gerakan sholat.

Beberapa penderita telah mendapatkan perbaikan gejala setelah rutin berobat dan menjalani program rehabilitasi di rumah sakit. Di sisi lain, karena pada masa pandemi ini kita diharapkan untuk membatasi aktivitas di luar rumah, maka beberapa penderita memilih menghentikan proses pengobatan di rumah sakit, sehingga dapat berdampak buruk bagi penderita rawan sendi ini.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Apalagi, secara umum penderita penyakit ini adalah mereka yang sudah lanjut usia. Sedangkan, secara medis, kelompok lanjut usia juga termasuk kelompok rentan terpapar Covid-19. Hal ini menyebabkan nyeri dan disabilitas terus berlanjut pada penderita sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Karena itu perlu adanya perhatian khusus dalam menyikapi Osteoartritis (rawan sendi). Lalu, apa yang harus dilakukan oleh penderita Osteoartritis agar tetap sehat dan bugar di rumah di masa pandemi ini?

Salah satu program rehabilitasi yang penting untuk penderita osteoartritis adalah terapi latihan dengan tujuan memperbaiki kinerja, meningkatkan fungsi, meningkatkan kekuatan otot lokal,  ketahanan, dan  meningkatkan kebugaran umum, yang semuanya berperan dalam kapasitas fungsional.

Latihan penguatan statis atau dinamis dapat mempertahankan atau meningkatan kekuatan otot otot sekitar sendi sehingga memperbaiki atau mencegah kelainan biomekanik dan kontribusinya terhadap disfungsi dan degenerasi sendi.

Pengembangan pendekatan sederhana untuk secara kuantitatif memperkirakan kinerja motor fungsional dalam berbagai usia sangat penting untuk deteksi dini sindrom lokomotif (LS), salah satunya dengan sit to stand test (STST).

Gerakan sit-to-stand (STS) adalah tes penting yang sering digunakan untuk beralih dari posisi duduk ke posisi berdiri. Penderita akan di instruksikan untuk duduk dengan tangan terlipat di dada, peserta bangkit dari kursi dan kembali ke posisi duduk secepat yang penderita mampu.

Waktu untuk menyelesaikan lima repetisi dicatat untuk dua percobaan terpisah, dengan selang 1 menit di antara setiap percobaan. Waktu STST secara signifikan lebih lambat pada lansia dengan disfungsi keseimbangan daripada pada lansia sehat, menunjukkan bahwa STST adalah ukuran keseimbangan dinamis pada orang dewasa dan lansia.

Penurunan kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan ini dapat membatasi kemandirian dan menyebabkan gangguan fungsi dan mobilitas dalam ADL, atau bahkan kematian.

Kurangnya kemampuan STS, terutama untuk melakukan gerakan-gerakan ini dengan cepat, juga dikaitkan dengan peningkatan risiko jatuh dan patah tulang pinggul pada orang tua. Seringkali sulit bagi manula untuk melakukan gerakan STS, terutama karena penurunan yang berkaitan dengan usia dalam kekuatan otot dan kontrol keseimbangan.

Karena itu, pergerakan STS dianggap sebagai sumber informasi yang berharga untuk menentukan status fungsional motor individu dan sering digunakan untuk menilai parameter ini dalam praktik klinis. Hasil tes ini dapat ditindaklanjuti dengan pemberian program rehabilitasi di rumah berupa latihan penguatan otot lutut dan pemberian edukasi cara beraktivitas sehari hari dengan benar.

Penderita disarankan bersepeda atau berenang, menghindari beban berlebih pada lutut saat naik tangga dan jongkok. Selain itu, gerakan sholat juga dapat mencerminkan kemampuan aktifitas sehari-hari dan dapat melatih tulang persendian. Bila dilakukan dengan benar, secara tidak langsung dapat mengurangi risiko terjadinya kejadian Osteoartritis (rawan sendi).

Semakin baik dan rutin kita dalam melkukan aktifitas fisik termasuk salah satunya adalah sholat maka semakin baik juga persendian tulang kita. Di  masa pandemi ini, kita dan keluarga diharapkan dapat menjaga kesehatan meskipun tetap di dalam rumah. Latihan teratur, aktifitas fisik dan sholat dengan benar di dalam rumah dapat menjadi salah satu tips dalam mengatasi osteoartritis saat ini. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry