Prof Slamet dikukuhkan Rektor Untag Surabaya, Prof Mulyanto Nugroho, Jumat (7/7/2023). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menambah jumlah guru besarnya. Guru besar ke-20 yakni Prof Slamet Riyadi dari lmu Akuntansi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB). Prof Slamet dikukuhkan Rektor Untag Surabaya, Prof Mulyanto Nugroho, Jumat (7/7/2023).

Dikukuhkannya Prof Slamet ini kata Prof Nugroho sebagai penambah semangat bagi dosen lain untuk meraih gelar serupa.

“Kita terus pacu dosen untuk terus meraih gelar tertinggi. Untag Surabaya akan terus menambah jumlah guru besar itu. Bahman ini sudah ada tiga yang menyusul,” ujar Prof Nug, panggilan akrabnya.

Untuk bisa meraih gelar profesor, seorang dosen memang harus terus melakukan tridharma perguruan tinggi yakni penelitian, pengabdian masyarakat dan penelitian.

“Penelitian dan pengabdian dosen itu selain dapat hibah dari Dikti, kami juga menyediakan dana khusus. Tahun ini Rp 1,5 miliar kami siapkan untuk backup penelitian dan pengabdian dosen,” tutur Prof Nug.

Ketua LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur , Prof Dyah Sawitri mengapresiasi langkah Untag Surabaya untuk terus menambah jumlah guru besarnya. Karena ketika seseorang memutuskan untuk menjadi dosen, tujuan ke depannya adalah menjadi guru besar. “Itu sulit memang tapi harus diraih,” tandas Prof Dyah.

LLDIKTI Wilayah VII sendiri sudah mulai banyak menandatangani Surat Keputusan (SK) baik untuk dosen dengan status Asisten Ahli hingga ke guru besar.

“Per 26 Juni saya sudah tandatangani SK sebanyak 10.477 mulai asisten ahli, lektor, lektor kepala hingga guru besar. Guru besarnya ada 73 SK di Jawa Timur ini,” tandasnya.

Namun kata Prof Dyah, menjadi guru besar bukan sekadar bergelar profesor di depan nama namun lebih pada harus menghasilkan kerja nyata yang bisa dinikmati seluruh masyarakat di luar kampus. “Saya harap Untag Surabaya semua guru besarnya bisa memberikan kontribusi nyata itu bagi masyarakat,” jelasnya.

Prof Slamet sendiri yang saat pengukuhan menyampaikan orasi ilmiah dengan judul ‘Peran Supply Chain Management dalam Kinerja Bisnis Melalui Teknologi Informasi dan Inovasi’  itu  menjelaskan mendorong strategi bersaing dalam menjalankan bisnis dengan cara memaksimalkan peran teknologi informasi dan inovasi.

Menurutnya, di era digital persaingan bisnis bisa dimenangkan oleh mereka yang piawai dalam menguasai teknologi informasi dan inovasi.

“Secara umum saya ingin menyampaikan ketika kita ingin menjalankan bisnis di era digital dimana di era ini terdapat kebebasan untuk menyampaikan informasi, maka inovasi-inovasi dan beragam informasi menjadi bagian penting dari pendamping bisnis kita dalam rangka untuk memenangkan persaingan dan meningkatkan kinerja perusahaan dengan fokus supply-chain manajemen,” ungkap Wakil Ketua Ikatan Doktor Ekonomi Indonesia tersebut.

Prof. Slamet juga memaparkan keberhasilan suatu inovasi berasal dari pemahaman yang mendalam tentang apa yang dibutuhkan oleh pelanggan. “Inovasi berhasil bukanlah hasil dari keberuntungan, tetapi hasil pemahaman mendalam tentang apa yang diinginkan pelanggan atau yang disebut sebagai job to be done,” ujarnya penuh dengan semangat.

Selain itu, Prof. Slamet yang lahir di Sampang pada 21 November 1966 itu menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya jurusan Ekonomi Akuntansi tahun 1990. Kemudian menyelesaikan program magister Ilmu Akuntansi pada tahun 1998 di Universitas Gadjah Mada dan meraih gelar doktor pada tahun 2004 di Untag Surabaya.

Berkat ketangkasan serta kerja kerasnya dapat mengantarkan perjalanan hidup yang penuh berkah dalam meraih Gelar Guru Besar bidang Ilmu Akuntansi. “Dalam hidup ini yang paling utama adalah beriman, berilmu dan berakhlak. Kalau iman sudah dipegang, ilmu didapat maka akhlak pun akan menampakkan perilakunya,” pesannya dengan penuh makna. ril/end

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry