SURABAYA | duta.co – Segera setelah dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur di Istana Negara, Jakarta, Rabu 13 Januari 2019 sore, Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak langsung tancap gas. Khofifah dan Emil ingin segera mewujudkan program kerjanya dalam Nawa Bhakti Setya.
Pelantikan yang dilakukan bersama Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar sebagai Gubernur Jambi definitif menggantikan Zumi Zola setelah kasusnya dinyatakan inkrah atau berkekuatan hukum tetap–itu berdasarkan Keppres dengan Nomor 16/P/2019 dan Keppres Nomor 16/P/2019 tentang Pengesahan Penetapan Gubernur Jawa Timur dan Gubernur Jambi.
Sebelum dilantik, Khofifah-Emil dan Fachrori Umar terlebih dulu mengikuti kirab yang dipimpin langsung Presiden Jokowi. Kirab itu juga diikuti oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo.
Kirab dilakukan dengan berjalan kaki dari Istana Merdeka menuju Istana Negara tempat berlangsungnya prosesi pelantikan. Para kepala daerah itu berjalan kaki dengan membawa surat petikan dari Kepala Negara.
Seusai pembacaan Keppres, Jokowi langsung mengambil sumpah jabatan kedua gubernur tersebut di atas Al Quran yang dipegang oleh rohaniawan. “Demi Allah saya bersumpah, akan memenuhi kewajiban saya sebagai gubernur dengan sebaik-sebaiknya dan seadil-adilnya memegang teguh Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan menjalankan segala Undang-Undang dan peraturan dengan selurus-lurusnya, serta berbakti kepada masyarakat, nusa, dan bangsa,” ujar Jokowi yang diikuti kedua gubernur dan wakil gubernur tersebut.
Kemudian, acara pelantikan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara pelantikan yang langsung dipimpin Jokowi. Setelah itu, prosesi pelantikan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan diakhiri pemberian ucapan selamat oleh Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan tamu undangan lain.
Dalam acara pelantikan ini tampak hadir Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno,Menteri ATR Sofyan Djalil, serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Tampak pula Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan,
Ketum PPP Romahurmuziy, Ketua DPD Osman Sapta Odang, Ketum Nasdem Surya Paloh, Menko Perekonomian Darmin Nasution, serta Menhub Budi Karya Sumadi.
Pascapelantikan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa  langsung tancap gas bertemu dengan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Rabu malam pukul 19.00 WIB. Khofifah mengatakan, dirinya sengaja mendatangi KPK untuk mendiskusikan
berbagai hal berkenaan dengan penindakan korupsi. Terutama, hal-hal dan regulasi yang selama ini menjadi perdebatan sehingga mengganggu kinerja aparatur.
“Sementara kebutuhan kita untuk meningkatkan kualitas SDM ini tidak boleh ada keraguan. Jadi seluruh pengambil keputusan penyelenggara pemerintahan di daerah itu butuh referensi yang fix gitu,” katanya.
Khofifah dan Emil juga berkunjung ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Pertemuan ini diagendakan pada Kamis pagi. “Besok pagi Insya Allah saya dan Pak Emil akan silaturahim dengan BPK. Kenapa KPK, kenapa BPK? Kita ingin di hulunya, sisi pencegahannya,” katanya.
Kalau sisi pencegahan bisa dilakukan secara maksimal, lanjut Khofifah, maka proses pengambilan keputusan dan penyelenggaraan pemerintahan di daerah itu tidak ragu. “Bahwa kita butuh peningkatan indeks pembangunan manusia, bahwa ada Kep-Mendagri Nomor 13  tahun 2006, ada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Bagaimana
mengenai pasal-pasal yang mungkin bisa menyebabkan multitafsir, ini kan penting,” katanya.
Khofifah mengatakan, pihaknya lebih memaksimalkan pencegahan. Dia dan Emil ingin membangun satu kesepahaman yang tidak menimbulkan multitafsir dan tidak menimbulkan perdebatan. “Tentu harapan kami, bisa melakukan persamaan persepsi yang menghindarkan kemungkinan terjadinya multitafsir atau dispute dari referensi yang kita jadikan fondasi mengambil keputusan dalam penyelenggaraan pemerintah di daerah,” katanya.
Pidato Kerakyatan
Usai acara di Jakarta, Khofifah dan Emil kembali ke Jatim. Gubernur dan Wagub disambut dengan acara yang sangat meriah, Kamis 24 Februari 2019. Rangkaian penyambutan dimulai dari Bandara Juanda.
Rombongan diperkirakan sampai sekitar pukul 12.00 WIB. Dari Juanda, Khofifah-Emil langsung menuju Masjid Nasional Al Akbar Surabaya.
“Di masjid, rombongan melakukan salat Tahiyatul Masjid kemudian salat Dhuhur dan doa bersama. Usai itu, Khofifah-Emil mengakhiri salatnya dengan sujud syukur,” kata Ketua Tim Kreatif, Helmy M. Noor, di Surabaya, Rabu (13/2/2019).
Setelah itu, Khofifah dan Emil menuju pintu timur masjid. Keduanya pun langsung disambut dengan selawat nabi oleh 1.000 rebana yang dimainkan 1.000 santri dan pelajar. Tak hanya itu, ada pula 99 jeep yang menanti untuk dinaiki rombongan Khofifah-Emil dan diarak
menuju Tugu Pahlawan hingga Gedung Negara Grahadi. Rutenya mulai dari Jalan Gayungsari Barat – Jalan Ahmad Yani – Jalan Raya Darmo – Jalan Basuki Rahmat – Jalan Embong Malang – Jalan Bubutan hingga Jalan Pahlawan. Helmy menambahkan di sepanjang perjalanan, rombongan akan disambut pelajar dan masyarakat. “Secara teknis kita sudah melakukan koordinasi dengan lintas sektoral, dengan kepala-kepala sekolah, dengan Dispendik, dengan Dishub, dengan Polres dengan instansi yang lainnya,” lanjut Helmy. Tak hanya itu, Helmy mengaku banyak pihak yang menghubunginya karena
ingin bergabung. Helmy pun mempersilakan seluruh masyarakat untuk turut ikut memberi sambutan kepada Gubernur dan Wagub yang baru.
“Intinya sebenarnya dari awal kita membikin konsep yang terbatas gitu kan. Tapi ternyata animo masyarakat, pelajar luar biasa. Mereka juga ingin menyambut di depan sekolah masing-masing, di jalanan dan sebagainya,” imbuh Helmy.
Setelah diarak dari Masjid Al-Akbar Surabaya, Khofifah-Emil membaca pidato perdananya di Tugu Pahlawan. Ini sejarah baru bagi gubernur Jatim. Sama bersejarahnya ketika Khofifah terpilih menjadi gubernur perempuan pertama di Jatim. Rombongan Khofifah-Emil diarak menggunakan jeep menuju Tugu Pahlawan. Panitia menyiapkan 99 jeep untuk arak-arakan ini. Sesampainya di Tugu Pahlawan, rombongan disambut 199 tarian
remo.
“Di Tugu Pahlawan Ibu Gubernur dan Wakil Gubernur disambut 199 tarian remo. Kemudian menyambut relawan dan memberi pidato kerakyatan, pidato pertama kali setelah dilantik,” ujarnya.
Helmy menambahkan angka 99 memiliki filosofi. Salah satunya mengenai program 99 hari yang akan dilakukan Khofifah-Emil. Pasangan ini sebelumnya menegaskan tak akan melakukan program 100 hari, namun 99 hari. Angka 99 dinilai baik, sesuai dengan
Asma’ul Husna atau nama-nama baik Allah.
“Pertama memang kita kan membaca Nawa Bhakti Satya dari Bu Khofifah itu ada program 99 hari. Dari gagasan-gagasan itu kemudian kita terjemahkan pada aspek-aspek kreativitas,” papar Helmy.
Selain itu, Helmy juga ingin menonjolkan beragamnya kebudayaan di Jatim dari tarian Remo yang disuguhkan di Tugu Pahlawan. Tema ini masuk dalam konsep selamatan atau tasyakuran atas terpilihnya Khofifah-Emil.
“Karena memang temanya itu selamatan maka aspek budaya yang kita tonjolkan. Sehingga materinya pun seperti yang dilihat itu banyak aspek budayanya, yang kemudian bermuara pada satu aspek religius, aspek keagamaan dan juga aspek kebangsaan,” lanjutnya.
Selain ada pidato perdana, diketahui Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak juga akan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Selesai rangkaian di Tugu Pahlawan, rombongan akan bergeser ke Hotel Majapahit. Rombongan ini diarak menggunakan 9 jeep dan 99 sepeda kuno. Tak hanya itu, arak-arakan ini juga diramaikan dengan berbagai
atraksi kebudayaan. Seperti musik patrol, barongsay, reog Ponorogo
hingga drum band.
Serba 99 memang mewarnai hari pertama Khofifah menjadi gubernur. Diksi 99 lewat Program 99 Hari Kerja, bukan Program 100 Hari Kerja. Mengapa demikian?
“Pertama, karena itu Asmaul Husna. Kita tahu bahwa Jatim adalah wilayah santri dan gubernurnya juga santri,” kata mantan Jubir Khofifah-Emil, KH Zahrul Azhar As’ad usai menghadiri pelantikan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019) sore.
“Kita meyakini kemuliaan tentang Asmaul Husna, maka itu menginspirasi kita dalam membuat program kerja ini yang jumlahnya 99 hari,” sambung kiai muda yang akrab disapa Gus Hans tersebut. Selain itu, tambah Gus Hans, 99 adalah angka tertinggi sebelum
kembali ke nol lagi. “Jadi angka yang paling mumtaz (sempurna). Harapannya nanti bisa mumtaz di dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Dari sisi pembagian, lanjut Gus Hans, juga lebih mudah yakni 33 pertama, 33 kedua dan 33 ketiga. “Jadi nanti mana apa yang bisa dilakukan dalam 33 hari pertama, kedua dan ketiga,” ucapnya.
Tak hanya soal capaian kerja awal, saat penyambutan kedatangan Khofifah-Emil mulai dari Bandara Juanda, dilanjut ke Masjid Al Akbar, Tugu Pahlawan hingga berakhir di Grahadi, juga banyak diwarnai angka 99. Ada 99 jeep kuno yang akan mengantarkan keduanya ke Tugu Pahlawan untuk menyampaikan pidato kerakyatan. Sesampainya di Tugu Pahlawan disambut 199 tari remo. Usai melakukan pidato kerakyatan, Khofifah-Emil diarak menuju Siola dengan kawalan 99 sepeda kuno milenial, dilanjut arak-arakan dengan
kereta ul daul menuju Grahadi.
Setibanya di Grahadi, Khofifah-Emil bakal disambut tarian sufi dengan 99 penari. Bahkan, sejak pagi di gedung simbol kemegahan Jatim itu digelar khatmil Qur’an mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB dengan 99 hafidz/hafidzah. Mengapa angka yang dipilih ganjil? “Ya karena Allah kan suka yang ganjil. kalau Allah suka yang ganjil, kenapa pilih yang genap?” tandas Gus Hans.
Tiga Program Prioritas
Sementara terkait 99 hari program kerja Khofifah-Emil, alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu menjelaskan setidaknya ada tiga program prioritas yang akan dikebut di awal kepemimpinanya. Pertama, One Pesantren One Product (OPOP). Program ini untuk
memberdayakan para santri menjadi entrepreneur, wirausahawan, agar menghasilkan produk berkualitas sekaligus menjadi pemasukan bagi pesantren.
“Dari sekian ribu pesantren, mungkin 10 pesantren dulu. Di 99 hari kerja ini kita optimalkan untuk 10 pilot project dulu,” katanya.  Kedua, peningkatan infrastruktur di wilayah Madura untuk memberikan pemerataan akses, khususnya bagi masyarakat di wilayah
kepulauan. “Bisa jalan, bisa kapal kapal untuk membawa misi-misi kesehatan,” katanya.
Ketiga, revitalisasi Bakorwil (Badan Koordinator Wilayah) untuk dioptimalkan fungsinya menjadi Millennials Job Center, sebagai subkoridor bisnis. “Jadi kita akan manfaatkan Bakorwil menjadi sentra pelatihan bisnis dan usaha bagi masyarakat eks karesidenan,
sehingga semua tidak terpusat di Surabaya,” pungkasnya. (ud/det)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.