PAMEKASAN | duta co – Sejumlah tokoh Madura hari ini (Jumat 1/5/26) bertemu di threefive coffee & space Pamekasan. Tampak hadir dalam pertemuan tersebut Prof Abdur Rozaki (Warek III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Firman Syah Ali (Panglima Nahdliyin Bergerak), H Badri Khumaini (Ketua GP Ansor Pamekasan) dan sejumlah tokoh lainnya.

Pertemuan kangen-kangenan yang diisi dengan diskusi ringan tersebut kemudian berujung pada kesepakatan untuk menggelar Kongres Rakyat Madura.

Alasan para tokoh menggelar Kongres Rakyat Madura adalah karena:

1. Selama ini letupan-letupan gagasan dan aksi belum terorganisir dengan baik sehingga tidak berhasil memunculkan satu gagasan besar yang disepakati bersama untuk kemajuan madura baik di tanah leluhur maupun di tanah diasporik;
2. Meskipun Madura sudah punya Jembatan Suramadu, namun percepatan pembangunan di Madura belum sesuai harapan para penggagas Jembatan Suramadu. Perlu dirumuskan ulang agenda pembangunan yang lebih konkret, inklusif, dan berpihak pada kesejahteraan segenap lapisan masyarakat Madura;
3. Terdapat kekhawatiran mengenai pudarnya nilai-nilai budaya dan penggunaan Bahasa Madura di kalangan Gen Z terutama bagi komunitas diaspora. Kongres Rakyat perlu melakukan upaya standarisasi ejaan serta pemutakhiran kamus bahasa Madura agar tetap relevan sebagai identitas kolektif di era digital;
4. ​Masyarakat Madura memiliki basis diaspora yang sangat luas di seluruh Indonesia maupun luar negeri. Kongres ini bertujuan menyatukan potensi sumber daya manusia dan modal dari para perantau untuk berkontribusi langsung pada pembangunan di kampung halaman (tanah leluhur);
5. ​Madura adalah salah satu penghasil tembakau terbesar di Indonesia (sering dijuluki sebagai “Pulau Garam” sekaligus “Pulau Tembakau”). Kongres ini menjadi mendesak untuk memperjuangkan nasib petani tembakau yang seringkali terjepit oleh fluktuasi harga, regulasi impor tembakau, dan kebijakan cukai yang terus meningkat. Forum ini bertujuan mencari solusi agar nilai tambah ekonomi dari “emas hijau” ini benar-benar dirasakan oleh petani lokal, bukan hanya industri besar;
6. ​Urgensi peningkatan peran Perguruan Tinggi Negeri di Madura, yaitu Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan UIN Madura sebagai motor penggerak utama dalam transformasi sosial dan ekonomi di Madura Barat dan Madura Timur. Kongres akan menggagas kolaborasi strategis antara birokrasi, masyarakat, dan akademisi dalam bentuk Pusat Riset Strategis, Transformasi Budaya dan Moral, Inkubasi Bisnis dan Ekonomi Kreatif, dan Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM);
7. Urgensi intelektualisasi ormas-ormas Madura agar citra etnis Madura di perantauan terpelihara dengan baik.

Para penggagas Kongres Rakyat Madura ini akan segera menemui tokoh-tokoh sepuh untuk memohon restu dan arahan-arahan terbaik.(*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry