
CATATAN PINGGIR
DR ROMADLON SUKARDI, MM.*
MENJELANG Musyawarah Nasional Alim Ulama, Konferensi Besar, dan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, sebuah peristiwa penting sesungguhnya sedang terjadi di jantung tradisi pesantren Nusantara. Di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, para masyayikh sepuh, para penjaga sanad, para pewaris mata rantai keilmuan dan spiritualitas Nahdlatul Ulama, berkumpul bukan untuk merebut kekuasaan, bukan pula untuk memperjuangkan jabatan. Mereka hadir membawa kegelisahan sejarah dan tanggung jawab peradaban.
Seruan yang mereka sampaikan sejatinya bukan sekadar pernyataan organisasi. Ia adalah lampu kuning keulamaan, wanti-wanti para masyayikh, sinyal kewaspadaan sejarah, alarm moral jam’iyah, kompas peradaban, lonceng pengingat nurani organisasi, serta penanda arah yang dipancangkan oleh para pewaris sanad keilmuan dan perjuangan NU.
Lebih dari itu, seruan tersebut dapat dimaknai sebagai peringatan dini (early warning system) bagi seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama bahwa ada nilai-nilai fundamental yang tidak boleh digeser, ada garis khittah yang tidak boleh dibelokkan, ada amanah muassis yang tidak boleh ditawar, dan ada marwah jam’iyah yang tidak boleh dipertaruhkan oleh kepentingan sesaat.
Dalam tradisi pesantren, ketika para masyayikh sepuh yang selama ini lebih banyak diam mulai berbicara, ketika para penjaga sanad mulai memberikan isyarat, ketika para pewaris mata rantai keilmuan mulai menyampaikan kegelisahan, maka itu bukan sekadar pendapat biasa. Ia adalah tanda zaman, isyarat batin keulamaan, sekaligus panggilan moral agar seluruh warga Nahdliyin melakukan muhasabah bersama sebelum terlambat.
Seruan dari Ploso tersebut sesungguhnya merupakan rambu-rambu keselamatan organisasi, agar Nahdlatul Ulama tidak kehilangan arah kompas perjuangannya, tidak tercerabut dari akar pesantrennya, tidak terputus dari sanad keilmuannya, dan tidak menjauh dari cita-cita besar yang telah digariskan oleh para muassis, terutama Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Sebab para masyayikh memahami bahwa yang paling berbahaya bagi organisasi besar bukanlah tekanan dari luar, melainkan ketika organisasi mulai kehilangan kesadaran terhadap jati dirinya sendiri. Ketika adab dikalahkan oleh ambisi, ketika hikmah dikalahkan oleh kalkulasi, ketika sanad dikalahkan oleh kepentingan, dan ketika amanah perjuangan dikalahkan oleh hasrat kekuasaan, maka sesungguhnya saat itulah lampu merah sejarah mulai menyala.
Karena itu, seruan para masyayikh bukanlah suara perlawanan terhadap siapa pun, melainkan suara cinta yang lahir dari tanggung jawab menjaga warisan para ulama. Sebuah wanti-wanti yang mengajak seluruh warga NU untuk kembali menengok jejak para muassis, kembali mendengar suara hati pesantren, dan kembali menempatkan marwah, adab, ilmu, serta kemaslahatan umat di atas segala kepentingan lainnya.
Bahwa arah kompas perjuangan jam’iyah tidak boleh bergeser dari garis yang telah digariskan oleh para muassis, terutama Hadlratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Para masyayikh memahami bahwa NU tidak lahir dari ruang politik kekuasaan. NU lahir dari ruang-ruang pengajian, dari keikhlasan para kiai, dari tirakat para santri, dari doa-doa panjang yang dipanjatkan di sepertiga malam. Karena itu, ketika mereka mengingatkan agar AHWA tetap menjadi forum keulamaan yang bertumpu pada ilmu, akhlak, sanad, dan pengabdian, sesungguhnya mereka sedang menjaga benteng terakhir marwah NU.
Mereka seolah ingin mengingatkan bahwa jabatan dapat diberikan melalui mekanisme organisasi, tetapi kewibawaan ulama tidak pernah lahir dari surat keputusan. Jabatan memiliki masa berlaku, sementara sanad keilmuan dan keikhlasan pengabdian diwariskan lintas generasi. Karena itu, membatasi maqam keulamaan hanya pada kategori struktural tertentu dikhawatirkan akan mempersempit cakrawala hikmah yang selama ini menjadi kekuatan utama NU.
Lebih jauh lagi, seruan para masyayikh tersebut sesungguhnya merupakan panggilan moral agar seluruh warga NU kembali bertanya kepada nurani masing-masing: untuk siapa NU didirikan? Untuk siapa para muassis berjuang? Untuk apa para kiai terdahulu mengorbankan hidup, harta, dan waktunya?
Jawabannya tentu bukan untuk kepentingan kelompok, bukan untuk ambisi sesaat, bukan pula untuk pertarungan kekuasaan internal. NU didirikan sebagai rumah besar umat, benteng Ahlussunnah wal Jamaah, penjaga akhlak bangsa, dan mercusuar peradaban Islam Nusantara.
Karena itu, ketika para masyayikh menyerukan agar Muktamar kembali ke pesantren, sesungguhnya mereka sedang mengajak NU pulang ke rumahnya sendiri. Pulang kepada adab. Pulang kepada ilmu. Pulang kepada hikmah. Pulang kepada keikhlasan. Pulang kepada ruh perjuangan para pendiri.
Dalam perspektif yang lebih mendalam, seruan dari Ploso ini dapat dibaca sebagai upaya para penjaga sanad untuk membalikkan arah kompas NU agar tidak terseret terlalu jauh oleh arus pragmatisme, fragmentasi kepentingan, dan kontestasi yang berpotensi mengikis kewibawaan jam’iyah.
Mereka tidak sedang berbicara tentang siapa yang menang atau kalah. Mereka sedang berbicara tentang keselamatan NU dalam jangka panjang.
Sebab sejarah selalu mengajarkan satu hal: organisasi besar tidak runtuh karena serangan dari luar, melainkan karena kehilangan ruh yang menjadi sumber kehidupannya. Ketika sanad tidak lagi dihormati, ketika adab ditinggalkan, ketika hikmah dikalahkan oleh ambisi, saat itulah sebuah organisasi mulai menjauh dari jalan yang digariskan para pendirinya.
Maka seruan para masyayikh dari Ploso bukanlah ancaman, bukan pula tekanan. Ia adalah nasihat seorang ayah kepada anaknya, nasihat seorang guru kepada santri dan muridnya, nasihat seorang penjaga warisan kepada para penerusnya. Seruan yang lahir dari cinta yang mendalam kepada Nahdlatul Ulama.
Hari ini para masyayikh telah menyalakan lampu kuning. Mereka mengingatkan bahwa NU bukan sekadar organisasi, melainkan amanah sejarah, amanah para ulama, amanah para syuhada, dan amanah jutaan warga nahdliyin yang menggantungkan harapan kepada kebijaksanaan para pemimpinnya.
Kini pilihan berada di tangan seluruh pengurus, oeserta Konbes dan Munas Alim Ulama (kombesiyyin dan munassiyin serta muktamirin), dan warga NU. Apakah seruan itu akan didengar sebagai hikmah yang menyelamatkan, atau justru diabaikan sebagai suara yang dianggap mengganggu jalan kepentingan?
Yang pasti, sejarah kelak akan mencatat: bahwa sehari menjelang Munas dan Konbes NU, para masyayikh telah menjalankan kewajibannya. Mereka telah mengingatkan. Mereka telah menasihati. Mereka telah *menjaga amanat para muassis.
Dan sebagaimana dawuh para ulama terdahulu, Nahdlatul Ulama akan tetap besar selama tetap menjaga adab kepada ulama, menghormati sanad keilmuan, dan menempatkan hikmah di atas segala ambisi kekuasaan. Wallahu a’lam bish-shawab.(*)





































